Kemanakah Arah Pendidikan Nanti?

Semasa sekolah, hari pendidikan, 2 Mei adalah momen yang menyenangkan. Selaku siswa, kami hanya datang ke lapangan, mengikuti upacara bendera dan pulang cepat. Tak ada catatan yang harus dibuat atau pekerjaan rumah yang harus dikerjaan. Asyik.

Tahun berlalu dan kini saya memahami 2 Mei sebagai kegiatan makan-makan disekolah dan membawa karangan bunga untuk guru. Well, keponakan saya melakukannya. Ibu mereka pagi-pagi sudah menggoreng ayam untuk dibawa ke sekolah. Katanya untuk merayakan hari pendidikan.

Tapi saya gagal paham. Mengapa anak-anak harus membawa makanan dan bunga ke sekolah? Apakah hanya bagian dari seremonial semata dan bentuk penghargaan kepada para pendidik? Kalau bicara penghargaan, bukankah pendidik itu telah digaji setiap bulannya? Atau pihak sekolah sudah malas berpikir untuk mencari alternatif kegiatan lain yang lebih berguna?

Dari sinilah saya berpikir pendidikan kita masih jalan di tempat beberapa tahun ke depan. Tak ada yang berubah bila para pendidik masih tetap dengan pikiran kuno mereka, mengikuti tradisi yang harusnya dikaji lagi. Saya kagum dengan terobosan pemikiran pak Mentri Pendidikan kita, yang kreatif dan memandang jauh ke depan. Atau gerakan mendukung pendidikan yang dilakukan beberapa orang. Tapi apa bisa diwujudkan bila guru yang berhubungan langsung masih saja berpikiran sempit.

Kita di Indonesia Timur sering berteriak mengenai pemerataan pendidikan tapi tak mau berbenah diri untuk menjadi lebih layak. Saya selalu yakin kualitas lulusan guru lokal tak ada bedanya dengan lulusan dari pulau Jawa. Yang berbeda adalah bagaimana mereka menempatkan diri mereka sewaktu nanti bekerja. Idealisme yang dibawa dari perguruan tinggi lalu luntur karena alasan segan atau lebih parahnya cari muka belaka.
Well, shame on you!

Banyak hal bisa lebih maju seandainya kita bersedia membuka diri. Intip terobosan sistem pendidikan di Jepang maupun Finlandia yang berdasarkan riset. Sejauh mana kita disini menjalankannya? 

Guru-guru kita harus berani bertindak, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengerikan seperti menjadikan buku cetak sebagai satu-satunya sumber mengajar di kelas. Atau berhenti menjual kerajinan tangan yang dibuat siswa saat pembagian laporan pendidikan, yang tak tahu ke mana mengalir uangnya.  Kadang tak perlu selalu melakukan hal spektakuler untuk membuat perubahan. Mulai benahi yang kecil-kecil dulu biar yang besar nanti mengikuti. 

Selamat merayakan hari pendidikan dan terus berbenah untuk menjadikan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.