Menikmati Sorong Rasa Modern di Calais 

Kota Sorong merupakan salah satu kota di provinsi Papua Barat yang telah lama dikenal dengan sebutan kota minyak. Jangan membayangkannya sebagai kota yang sepi karena kota ini termasuk kota pelabuhan yang ramai.  Sebagai kota transit, banyak hotel yang berdiri. Industri kecil termasuk makanan pun tumbuh subur di sini.  

Bagi penikmat kopi dan teh yang ada di Sorong, jangan sampai lupa berkunjung ke Calais Artisan Bubble Tea & Coffee Sorong. Terletak di kawasan Remu Utara, kafe ini mudah saja dijumpai karena berada persis di pinggir jalan. 

Suasana industrial yang lekat dengan kesan modern bisa Anda rasakan saat pertama kali melihat eksetriornya.  Cat dinding didominasi oleh warna hitam memperkuat citra modern.  Diluar disediakan meja yang bisa digunakan oleh para perokok.  

Ketika masuk ke dalam kafe, kalian akan disambut warna abu-abu muda yang lembut.  Namun beberapa bagian tetap bewarna hitam agar mempertahankan ciri khas kafe. Kafe ini memiliki dua lantai. Di lantai pertama,  tempat duduknya terdiri dari tempat duduk empuk dan kursi. Interiornya lucu karena ada lampu gantung yang diberi aksen topi hitam bundar. Malam hari terkadang ada suguhan musik dari band lokal. 

Sementara di lantai dua,  tempat duduk yang disediakan berupa sofa berukuran jumbo.  Daerah tangga juga dibuat menarik dengan menambahkan beberapa lukisan dan pajangan unik di dinding. 

Untuk memesan makanan dan minuman, Anda bisa langsung ke meja kasir karena menu tidak diantar ke meja. Banyak juga pilihan makanan berat yang disediakan. Anda hanya bisa memilih paket nasi ditambah chiken katsu, beef bulgogi hingga nasi iga penyet. Tersedia pula Burger bagi yang berminat. Ada juga cemilan ringan seperti French fries dan Chiken wings. 

Untuk soal minuman, Calais menyediakan banyak varian rasa baik teh dan kopi. Mulai dari rasa coklat hingga fussion buah yang segar.  Tersedia dua pilihan ukuran yakni reguler dan large. Waktu ke Calais saya mencoba minuman Choco buttersocth. Enak dan ringan banget! Harga pun terjangkau lah. 

Nah kalo masalah dessert, kalian kudu nyoba semuanya.  Meski harganya lumayan mahal buat anak sekolahan, porsinya yang besar bisa dimakan 2 sampai 3 orang.  Saya sempat nyoba Choco Cocochide. Isinya potongan puding cokelat, es krim dua toping, Bubble terus dikasih es serut, susu kental manis dan selai kacang.  Enak loh! 

Sayangnya kalau yang udah laper banget mending cari makan di luar deh karena pesanan datangnya bisa hampir 30 menit. Minuman udah mau habis barulah makanan datang.  😒  

Tapi buat nongkrong sama temen oke lah ya karena tempatnya nyaman sekali dan ada jaringan wifi yang kencang 🙌🙌

Advertisements

Sabtu yang Menggoda

Sabtu ini memang benar-benar sabtu yang menggoda.
Ada sms dan telepon pagi-pagi yang menggodaku untuk beranjak dari tempat tidur terlalu pagi.
Padahal ini sabtu dan sabtu itu libur pemirsah\(҂`⌂´)/

Ada hiruk-pikuk pasar yang memaksaku untuk benar-benar bangun dan menahan hati melihat rambutan kelayapan di lapak-lapak buah yang dijual.

Ada perjalan yang terlampau panjang jaraknya yang menggodaku dan adik-adik wanita seperjuang meledakan emosi di pagi hari.
Aku berharap ada pijat terapi atau spa gratis ditengah jalan tadi.

Ada juga rasa-rasa yang menggoda jika tidak dicicipi sepasang muda-mudi yang berjalaan berduaan tadi pagi #Ihirr

Lalu ada pesan singkat manis selamat pagi yang menggodaku mengembangkan senyum selebar-lebarnya. . (#^o^#) *shy*

Sabtu juga memang hari yang menggoda untuk merajai dapur, setelah lama vakum dan berkutat dengan monitor dan koreksian.
Ya, hitung-hitung sebagai pelepas stress dan wahana reuni dengan saudara-saudara seperjuangan!

Jadi hingga jam makan siang ada beberapa menu yang telah tersedia antara lain ayam kecap, sawi campur wortel, tempe dan tahu goreng, sirup markisa, dan dua menu khusus lainnya yang akan saya urai di bawah, yakni sambal dabu-dabu dan gohu – masakan khas orang daerah timur Indonesia.

1. Sambal dabu-dabu
Sambal adalah pelengkap makan sempurna bagi para pencinta pedas.
Sambal ini terbuat dari campuran perasan air jeruk nipis, bawang merah yang diiris tipis, cabe rawit merah serta tomat segar dipotong-potong. Banyaknya bahan disesuaikan dengan selera masing-masing.
Semua bahannya dicampur menjadi satu kemudian diberi garam sebagai pelengkap rasa.
Jika kita sedang berada di Manado atau Ambon dan beberapa daerah dikawasan timur lainnya, jeruk yang digunakan adalah jenis jeruk yang lain.  Jeruk nya lebih kecil dan asam dari jeruk nipis.
Biasa disebut lemon cina atau lemon cui.
Rasanya asam pedas, menggoda untuk sesegera dicoba.

Sambal dabu-dabu di sabtu yang menggoda

2. Gohu
Ah, ini sejenis snack yang paling mantap dinikmati saat hari panas.
Snack  ini berupa manisan yang aslinya berasal dari Sulawesi Utara
Biasanya jika sedang dirumah, dimakan sambil duduk di tepi pantai bersama belaian angin sepoi-sepoi. Bahagia banget!
Kalau tadi siang sih makannya persis di depan kipas angin
Argghh *pesen tiket pulang*!!!!!!! (⌣_ ⌣!!)  —> bagian yang gak penting!

Gohu dibuat dengan bahan dasar  buah pepaya, yang tidak terlalu matang ataupun mentah.
Buah pepaya kemudian dipotong tipis, bentuk korek api. Sisihkan.
Gula jawa sebagai pemberi warna dan rasa, dihaluskan lalu dicampurkan dengan irisan pepaya.
Selanjutnya haluskan semua bahan campuran yakni cabai, jahe, dan bawang merah lalu tambahkan dalam adonan.
Tambahkan air dan cuka secukupnya.
Rasa makanan cemilan ini manis, asam, pedas. Masih tidak tergoda kah?

Gohu sabtu yang menggoda

Gohu sabtu yang menggoda

Kalau saya sih sangat-sangat tergoda dengan makanan-makanan ini! Aduh beta lapar  mama 😦

Salatiga, 2 Maret 2012 – Semoga Barcelona tak tergoda untuk kalah lagi malam ini  (˘ʃƪ˘)

Aside

Take Me Out to Eat This!

Choi Po Pan kreasi kami

Choi Po Pan kreasi kami

 

Menikmati hari minggu ini ada oleh-oleh dari liburan bulan Desember kemarin yang sepertinya layak dibagikan hari ini.

Mengapa hari ini? Karena hari ini adalah perayaan Cap Go Meh. Happy Cap Go Meh  ya untuk semua yang merayakannya.

Sekedar info, Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina.
Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien yang bila diartikan secara harafiah bermakna 15 hari atau malam setelah Imlek. Bila dipenggal per kata, Cap mempunyai arti sepuluh, Go adalah lima, dan Meh berarti malam.
Cap Go Meh juga sering disebut Yuan Hsiao Cieh atau Shang Yuan Cieh dalam bahasa Mandarin.

Oleh-oleh yang tertunda ini adalah masakan khas chinesse yang saya beserta adek buat saat liburan kemarin.
Nama nya Choi Po Pan.
Makanan ini mirip dengan kroket kukus.
Mungkin kita yang tinggal di Pulau Jawa dan atau daerah lain tidak begitu familiar dengan jenis makanan ini.
Tapi bagi mereka yang berdomisili di Kalimantan Barat pastilah tahu.
Karena menurut adek saya yang notabenenya bertempat tinggal di Pontianak, makanan ini sangat populer di sana.
Dan makanan ini tidak dijual setiap hari, hanya pada hari Jumat saja.
Jadi kalo sedang pengen makan di hari senin, ya buat sendiri  ya.

Secara harfiah, Choi Po Pan berarti sayuran kue, jadi artinya adalah kue yang di dalamnya berisi sayuran.
Choi Po Pan terdiri atas kulit dan isi. Bagian kulit terbuat dari campuran air, tepung beras dan minyak sayur.
Adonan di aduk di atas api kecil hingga mengental dan bisa di bentuk.

Biasanya isi Choi Po Pan ini terdiri dari bengkoang, kucai dan keladi atau talas.
Namun waktu kemaren tempat tinggal pas liburan sangat jauh dengan pasar, jadinya pakai saja bahan tersedia di supermarket. Pilihan akhirnya dijatuhkan pada labu siam.
Labu siam kemudian dibersihkan dan di potong berbentuk korek api.
Selanjutnya tumis labu siam dengan bumbu seperti bawang merah, bawang putih serta merica dan garam secukupnya.
Jika ingin ditambahkan udang kering atau teri, silahkan saja.
Masak hingga matang dan sisihkan.

Adonan kulit yang sudah jadi kemudian diisi dengan tumisan sayur dan dibentuk. Bentuk adonan diusahakan tidak terlalu besar karena  Choi Po Pan biasanya disantap dengan sekali makan. Lakukan hal yang sama hingga adonan habis. Kukus Choi Po Pan hingga matang. Yang perlu diperhatikan adalah air yang terbentuk karena penguapan. Sebaiknya tutup dandang dilapisi terlebih dahulu dengan sarbet. Uap air yang jatuh dan mengenai Choi Po Pan akan sangat berpengaruh pada bentuknya. Jika sudah matang, angkat dan tancapi bawang putih goreng diatasnya. Menurut saya dengan kehadiran bawang putih goreng menambah nikmatnya kue ini.

Choi Po Pan sangat cocok dinikmati dengan sambal cair yang pedas.
Sambal bisa dibuat sesuai selera.
Jika doyan boleh tambahkan sedikit terasi pada.

Hari itu Choi Po Pan yang jadi sangat berlimpah dan karena yang ada di rumah hanya dua orang makanya kita berdua hanya makan itu sebagai ganti makan malam saking banyaknya hingga masih tersisa buat keesokan harinya.

Keesokan harinya, sial untuk saya waktu itu mungkin, adek saya puasa. Alhasil saya yang berjuang menghabiskan Choi Po Pan seorang diri. Ya ampun sampai eneg coba!

Pesan saya, sesuaikan banyaknya adonan dengan pasukan pelahap. Jangan sampai kurang apalagi lebih.
ITU NYESEK DAN BIKIN BAJU TIDAK MUAT!

Dua bulan berlalu dan tiba-tiba saya pengen makan kue itu lagi hari ini.
Dari info-info yang saja baca Choi Po Pan yang paling enak adalah di daerah Singkawang.
So Take me out to Singkawang please! Take me out just for eat Choi Po Pan.

*informasi umum dari berbagai sumber

Tulisan ditulis ditengah iringan lagu tian mi mi-  hebat 🙂

Tinutuan #cerita hari kemarin

Menikmati libur panjang tidak afdol sepertinya tanpa berwisata. Hari itu berawal obrolan singkat di FB, akhirnya saya dan dua teman memutusakan berwisata, wisata ke pasar tradisonal, berbelanja dan merealisasikan keinginan: membuat tinutuan atau bubur manado.
Tinutuan adalah masakan khas manado yang sudah tak asing lagi.
Namun saya pernah mengalami trauma masa kecil dengan makanan ini.
Waktu pertama kali dicicip, rasanya tidak enak di lidah.
Akhirnya bertahun-tahun berlalu dan saya tidak pernah lagi menyentuh bubur manado.
Dan hari ini adalah hari pembuktian!
Presepsi saya selama bertahun-tahun ini bisa saja benar atau mungkin sekali salah.

Proses tawar menawar adalah ritual yang harus (pasti) dijalankan. #namanya juga cewek 🙂
Bahan-bahan yang wajib ada antara lain: daun kemangi, kangkung, bayam, jagung muda, ubi jalar, labu kuning, daun bawang, dan beras.
Yang membuat paling deg-degan adalah prosesi kembalinya kami ke tempat kos teman karena kami naik andong.
Mantap jaya!!! Kekhawatiran dibarengi teriakan-teriakan kecil dan genggaman erat-erat tak terhindarkan  ┒(˘- ˘ )┎

Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan seluruh bahan-bahan tersebut diatas.
Daun kemangi, kangkung, bayam dan daun bawang di cacah kasar dengan ukuran sesuai selera.
Ubi jalar dan labu yang sudah dikupas kulitnya di potong-potong.
Jagung muda dibesihkan dan diserut menggunakan pisau.

Selanjutnya, labu dan ubi jalar direbus bersamaan hingga dagingnya lembut, kemudian masukkan beras.
Adonan harus diaduk terus agar tidak hangus.
Setelah berasnya melunak, ubi jalar dan labu kemudian dihancurkan menggunakan pengaduk.
Ini bertujuan agar memberi warna yang menarik pada bubur.
Setelah itu, jagung, daun kemangi, bayam dan kangkung dimasukkan. Masak hingga mendidih dan tambahakan garam serta bumbu penyedap.
Bubur ini biasanya akan lebih enak bila  disajikan masih panas dan dimakan dengan abon ikan cakalang dan sambal.
Finally, presepsi saya salah.

Tampilannya berwarna kuning segar di selingi warna hijau,ditambah bau yang sedap, sungguh menggugah selera!
Rasa tinutuan ini segar, manis berpadu pedas, maknyuss…
Dan akhirnya saya tambah 2 piring. .  hahaha

Mungkin pembaca suatu waktu tertarik untuk mencoba :).
Silahkan nikmati sendiri sensasinya.

Tinutuan (bubur manado), lengkap dengan tahu dan sambal * Dok. Pri

Salatiga, 16 November 2012.

PS. Bubur dimasak dikosnya orang lain bersama Jillong, tanpa ditemani orang yang punya kos, karena sedang nginap di R.S. Cepat sembuh yaaaaaaaaaaaa kakak..