The Tides Of Memory : Rahasia yang Terkuak

635595_dd7306f8-00f8-491a-8dc1-e88f83d4248b

Judul Buku : The Tides of Memory
Pengarang : Tilly Bagshawe
Penertbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2016
Halaman : 592
ISBN : 978-602-03-2725-9

Karier politik Alexia De Vere melesat cepat. Walaupun hanya  politikus yang tak populer, Ia berhasil menjadi Mentri Dalam Negeri karena campur tangan suaminya, Teddy De Vere yang adalah seorang aristokrat kaya.
Buku ini dibuka dengan kisah masa lalu Alexia yang bernama asli Toni Giletti. Ia adalah gadis muda yang menyukai kehidupan liar dan memiliki kekasih yang tampan serta kaya. Namun kejadian di kamp musim panas Kamp Williams merupakan mimpi buruk. Bahkan Billy Hamlin harus rela menanggung hukuman penjara puluhan tahun, menggantikan Tony, karena dituduh lalai sehingga menyebabkan tenggelamnya sang bocah Handmeyer. Ya, semua atas nama cinta. Tetapi setelah ia keluar dari penjara, Toni malah menghilang.

Lalu cerita begulir mengenai intrik dalam rumah tangga Alexia alias Toni. Putri sulungnya, Roxie menjadikan hari-hari Alexia seperti neraka. Sejak gagal bunuh diri karena harus berpisah dengan kekasihnya, tiada hari tanpa dirinya menyalahkan Alexia. Sementara itu, putranya, Michael, mengundurkan diri dari Oxford demi menjadi party planner profesional.
Masalah bertambah runyam ketika teror demi teror dari masa lalu berdatangan dan menggoyahkan posisi Alexia sebagai perdana mentri. Bahkan dirinya hampir mati karena tertembak.

Layaknya buku-buku dengan genre thriller, buku ini juga menyajikan akhir yang penuh kejutan. Semua tokoh dalam buku ini punya rahasia masing-masing. Meskipun berhubungan dekat, kalian tak pernah benar-benar tahu siapa orang didekat Anda.

Awal cerita mengenai masa lalu Alexia agak membosankan meskipun penting untuk melengkapi keseluruhan cerita. Ada bagian-bagian yang saya rasa tak perlu dan hanya dimasukkan penulis untuk mengiring asumsi pembaca untuk mendakwa orang tertentu. Jadi bila ingin menebak sang otak kejahatan dengan tepat, harus dibaca dengan teliti.

Keseruan dari cerita ini mulai terasa setelah memasuki bab dua. Banyak konflik yang terjadi hingga membuat Alexia menjadi tak berdaya. Dibagian akhir buku terungkap banyak rahasia yang tak pernah kita duga sebelumnya dan kita akhirnya tahu siapa sebenarnya yang menjadi pelaku yang ingin hidup Alexia hancur. Ceritanya ditulis dengan rapi sehingga celah untuk menebak pelaku sulit ditemukan.

3.5 dari 5 bintang untuk buku ini

Perjuangan Jadi Artis

dsc_0872

 

 

 

doc. pri

Judul         : Dunia Tirsa
Penulis      : Eva Sri Rahayu
Penerbit    : Stiletto Book
Cetakan    : I, Oktober 2011
Tebal          : 295 halaman
ISBN           : 978-602-96026-6-1

Novel ini adalah novel ketigapenulis dan memang terbit enam tahun lalu. Dengan genre chicklit yang menyajikan polemik kehidupan wanita urban.
Tirsa, wanita enerjik berumur 25 tahun ingin sekali menjadi seorang aktris terkenal. Untuk menggapai mimpi-mimpinya, ia melakukan banyak pengorbanan termasuk pendidikannya di universitas.
Tirsa digambarkan sebagai wanita cantik dan mandiri, yang rela meninggalkan rumah nyamannya dan hidup sendiri agar mimpi sebagai artis bisa tercapai. Buku dibuka dengan penggambaran sosok Tirsa dan khaylan-khaylannya yang bikin ngakak.
Dari peran-peran kecil, ia kemudian mendapat kepercayaan untuk peran yang lebih besar. Sayangnya, kesempatan itu lewat karena Trisa termakan jebakan saingannya sesama artis Rhaisya. Bahkan hubungan Trisa dengan sahabat nya Desta pun keruh. Mereka tak lagi bercakap karena masalah sepele.
Trisa kemudian mulai fokus menyelesaikan kuliahnya karena terancam drop out. Dibantu Rhein, teman wanitanya, ia perlahan bangkit. Tawaran syutingpun mulai banjir dan disitulah ia diperkenalkan dengan Adam, cowok super cool yang  buat Tirsa deg degan berakhir jadi manajernya.
Semakin tinggi pohon, semakin kuat juga angin yang menerpa. Begitu juga hidup Tirsa. Ditengah kejayaan, ia malah mengalami keterpurukan yang teramat parah. Ditinggalkan dan kemudian difitnah seseorang dari masa lalunya.
Tapi jangan khawatir ending khas chiklit yang selalu menawarkan bahagia.

***

Saya suku alur cerita di novel ini dan bahasanya yang ringan bikin kita asyik membacanya. Membaca ini, memberikan pengetahuan lebih dari getirnya kehidupan selebritis.
Dari novel ini kita banyak belajar bahwa hidup memang adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan kalau gagal trus mau galau oke, tapi jangan lama-lama jeeng. life must go on!
Tokoh favorit saya dalam novel ini, of course; Rhein. Ya ampun, kece badai wanita ini. Sayangnya akhir baginya dalam novel ini bikin mewek.
Untuk cover manis khas chicklit. Untuk tata letak, ada beberapa halaman yang persis sama dengan halaman sebelumnya, mungkin kesalahan cetak, tapi tidak menggangu jalan cerita kok.

“Selalu ada kesempatan kedua. Jika kesempatan itu gak pernah datang lagi, berarti kita yang mesti buat kesempatan” – Tirsa (25)

 

Tiga dari lima bintang untuk karya Eva

Belajar dari Negeri Malam: Sebuah Review 

Judul Buku : Sebilah Luka dari Negeri Malam

Penulis : Roymon Lemosol

Halaman ; vxiv+ 46 halaman

Penerbit : akar hujan press

ISBN : 978-602072063

Tahun Terbit : Februari 2015

 

 

 

“Sebilah Luka dari Negeri Malam”. Roymon Lemosol sang penulis dalam pengataranya mengaku menulis puisi lantaran begitu gelisah terhadap situasi di sekeliling .

Tetapi bukan berarti dalam buku ini melulu menyajikan luka, pembaca tentu masih disuguhi banyak keindahan mengenai Maluku dan hamparan indah panoramanya juga tersimpan dalam buku setebal 46 halaman ini.

Saya mendapatkan buku ini Februari 2015 silam, bahkan ada tandatangan penulis karena saat itu saya sempat hadir dan membacakan puisi di tempat beliau mengajar, SMAN 4 Ambon.

Roymon membuka buku ini dengan puisi berjudul ‘Lagu Pilih Cengkeh’ dimana menggambarkan kerinduannya terhadap prosesi panen cengkeh.

Dulu, cengkeh adalah tanaman primadona dan bahkan membawa bangsa asing melakukan ekspedisi ke Maluku. Saat musim panen, warga akan berduyun-duyun ke kebun, memetik cengkeh.

Lalu dalam bait terakhir puisi tersebut, Roymon menutupnya dengan realitas bahwa kini cengkih sudah mulai dilupakan, masyarakat enggan menanam cengkih sebab harganya mulai merosot.

 

Lama Sekali

Sejak angin gunung tak mau lagi menyebar wangi

Bunga cengkih

Pada kumbang yang banyak mereguk laba

Dari jatuhnya harga

 

Puisi Roymon disini banyak menyajikan hal-hal humanis dari realitas kehidupan masyarakat kini. Misalnya dalam puisi ‘Kita adalah hewan’ dan ‘Gelap’ dimana mengisahkan kehidupan manusia yang kadang sesat namun karena sudah biasa dilakukan jadi dianggap benar.

Sebilah Luka dari negeri Malam juga sedikit menyibak tabir bahwa ada hubungan antara Roymon dan keluarga serta murid-muridnya yang terjalin kuat diantara mereka. Tengok saja puisi “Ibu” dan ‘Aku dan Muridku’.

Yang menjadi puisi favorit saya adalah “Luka dari Negeri Malam” yang menjadi puisi penutup yang mengunci buku ini. Puisi ini menggambarkan bagaimana luku hati rakyat yang belum juga mendapatkan pemimpin ideal dari pemilu ke pemilu.

Dari segi tampilan buku, desain sampul cukup lumayan dimana menampakan tiga ruas tangan yang muncul dan memberi kesan sedang dipasung atau terpenjara.  

Membaca seluruh puisi dalam buku ini juga mengajak kita larut dalam pengalaman batin Roymon selama kurang lebih 17 tahun dimana puisi paling tua ditulis pada 1998 dan paling muda pada 2015. Puisi-puisi yang cukup dewasa dan mengigit. Apalagi Roymon yang kesehariannya berkutat dengan Bahasa dan sastra.

Sebagai penyair yang sudah berkarya hampir dua dekade bagi saya karya-karya Roymon adalah sebuah oase. Ia menegaskan orang Maluku tidak hanya bisa menulis soal cinta melulu, yang gombal dan mendayu-dayu seperti yang ada dalam lirik lagu pop asal Maluku belakangan ini.

Hadirnya buku ini saya harap juga merangsang semua penyair yang selama ini hanya berkutat dengan postingan ke media sosial agar mampu membukukan karya-karyanya. Sebab buku abadi dan timeline facebook bisa ditelan jaman.

Tentu buku selanjutnya sangat dinanti.  

Doc. Pribadi

 

Ambon, 11 Januari 2017

Dentuman Pikiran Dalam Simbiosa Alina

 

21457131

dok. goodreads.com

Jangan pernah menilai buku dari covernya. Setidaknya ini yang saya yakini ketika selesai membaca simbiosa Alina, sebuah karya kolaborasi antara dua penulis muda, Priangi Abdi dan Sungging Raga. Saya mendapatkan buku ini sudah sekitar setahun lalu sebagai hadiah dalam event menulis #puisihore3. Ketika mendapatkannya, saya tidak langsung membacanya karena sungguh, saya langsung tidak tertarik membuka halaman per halaman karena cover bukunya yang terlalu kental kesan femin. Dan tentu saja, buku ini berhasil menjadi penghuni rak buku sekian lama.

Lalu mungkin pada saat itu, saya sedang beruntung. Karena tak ada bacaan lagi dirumah saya lalu memutuskan untuk membaca Simbiosa Alina. And, Guess What? It was surprised me. Saya bahkan tidak sabar untuk membuka halaman berikutnya dan berikutnya dan terpaksa menutup buku karena petualangan menyenangkan saya berakhir sudah.

Simbiosa Alina terdiri dari 20 cerpen yang diporsikan rata ke dua orang penulis yang karakter penulisannya amat berbeda. Membaca tulisan Sungging, artinya kita harus mempersiapkan diri masuk ke dalam dunia baru, dunia yang adalah perpaduan dunia nyata dan imajinasi tingkat tinggi dan terkadang memaksa otak untuk bekerja ekstra memahaminya. Cerpen Sungging, kadang tak terlalu kaya dialog. Kebanyakan berupa untaian naratif panjang yang menjelaskan percakapan.

Sementara itu, tulisan Priangi Abdi lebih manis, puitik, dan nyata walau kebanyakan puntiran di akhir cerita bikin pengen nusuk kepala kuntilanak.
Saat membuka buku ini, pembaca akan disambut dengan cerpen “Simbiosa”, yang menceritakan bagaimana patah hati karena ditinggal pergi sang kekasih, bisa menimbulkan derita yang begitu mendalam di hati Dulkarip.
Kemudian ada “Bangku, Anjing dan Dua Anak Kecil” yang bikin pembaca mikir keras untuk membedakan mana potongan kejadian nyata, mana kejadian yang adalah khayalan.
Cerita favorit saya, senja di taman Ewood dan Sebatang pohon di Loftus Road yang bercerita tentang pengorbanan cinta dan kerelaan menunggu. Sungging buat saya, sungguh cerdas memainkan perasaan para pembaca.
Bab cerita Sungging, ditutup dengan cerita mengenai hantu terbang The Flying Britishman yang mencari-cari cinta sejatinya, Cartesia.
Priangdi membuka bagian ceritannya dengan “Malimbu” tetang kisah cinta dua insan berbeda latar belakang yang sayangnya berakhir tragis.
Lalu ada “Teka-Teki Kecil”, yang adalah salah satu cerita favorit saya. Ini bercerita tentang kisah Afrizal yang rasa cintanya mulai tumbuh kepada Nyimas lantaran merasa kalah tidak bisa menjawab besar teka-teki sederhana perempuan itu.
Siapapun yang membaca “bait-bait hujan” pasti gemas sendiri. Bagaimana tidak, cerita yang puitis dan manis namun diberikan puntiran akhir yang bikin pengen mandi air es saja. Huh!

Well, overall, buku ini merarik dan bikin nagih. Secara keseluruhan, saya lebih suka membaca cerpen-cerpen Sungging Raga, karena memang gaya bertuturnya tidak biasa.
Buku ini, walaupun sudah selesai dibaca sekali, dibaca berulang-ulang nanti tak akan membosankan. Recommended! 3,5 dari 5 bintang untuk buku ini.

quote favorit
“Kamu seperti hujan yang datang menghapus bau-bau kematian di hatiku yang telah gersang oleh kemarau,” – Bait-bait Hujan.

“Kakek itu terdiam. Ia seperti mengalami kekalahan dashyat yang menyenangkan. Memang selalu seperti itu, cinta membuatnya kalah selama seratus dua puluh tahun,” – Slania