Aside

A Favorite Comedy Movie : The Hangover Trilogy

 

The Hangover

Bagi penggemar film bergenre komedi, pasti tak asing lagi dengan trilogi The Hangover. Sekuel pertamanya dirilis pada 5 Juni 2009 dan berhasil meraup untung bersar. Ide yang diusung terbilang original karena belum ada sineas yang mengangkat ‘hangover’ sebagai inti dari cerita. Biasanya hangover hanya dijadikan sisipan saja.
Film bagian pertama ini bercerita tentang malam bujang Doug (Justin Lee Bartha) di Las Vegas bersama kedua sahabat baiknya, Philip (Bradley Cooper) dan Stuart (Ed Helms) serta calon iparnya, Alan (Zach Galifianakis). Impian kesenangan mereka ternyata harus berujung petaka. Mereka bangun di pagi hari dengan keadaan kacau balau serta hilang ingatan mengenai kejadian malam sebelumnya. Bahkan Doug menghilang entah dimana.
Meskipun berbiaya rendah dan awalnya tidak begitu menjanjikan, ternyata berhasil membuat saya terhibur. Bahkan mendapatkan rating yang cukup baik bagi kelas film komedi.
Yang menjadi bintang disini buat saya adalah Alan. Akting yang natural serta aksinya yang lugu nan bego itu bikin gregetan. Film ini juga mengajarkan arti persahabatan yang dikemas denga cara menyenangkan.

Sekuel Lanjutan
Ingin  mengulang kesuksesan film pertama, Hangover part II kemudian dirilis pada 26 Mei 2011. Kisah masih seputar empat sahabat pada sekuel sebelumnya yang mengalami hangover. Kali ini, giliran Stuart yang akan menikah. Tak ingin mengulang kesalahan yang sama di Las Vegas, mereka begitu berhati-hati. Tapi siapa sangka, kejadian tak terduga kembali terjadi. Lagi-lagi mereka harus berhadapan dengan sekelompok mafia.
Mengambil lokasi syuting di Bangkok, Thailand, ada suasana yang berbeda saat menontonnya. Jalan cerita lebih menantang dan banyak adegan aksi dibandingkan sekuel 1.
Sementara sekuel terakhir/part III rilis 2 tahun kemudian dan masih disutradarai oleh Todd Philips. Kali ini tak ada pesta bujang yang diadakan. Kala itu, ayah Alan baru saja meninggal dan pemicunya adalah gangguan kepribadian Alan yang disebut ADHD. Keluarga kemudian memutuskan untuk mengirimnya ke pusat rehabilitasi mental.
Ternyata dalam perjalanan, mereka dihadang oleh Marshall yang sementara mencari Mr. Chow, penjahat dari sekuel sebelumnya. Lagi-lagi penyebabnya karena Allan sering berkirim surat dengan Mr.Chow selama di penjara. Agar mendapatkan Mr. Chow, Marshal lantas menculis Doug sebagai jaminan.
Well overall, favorit saya tetap Hangover I karena mungkin idenya masih segar dan banyak kelucuan terjadi. Tapi sekuel berikutnya pun tak kalah keren. Skenario yang ditulis rapi membuat film ini layak dijadikan tontonan mengisi akhir pekan.

4 bintang untuk sekuel pertama serta 3,5 bintang untuk dua sekuel lanjutan.

Advertisements
Aside

Somebody’s Hero

Everyone is possible for being somebody’s Hero!

DFNpJkcV0AAWhy0

Setiap orang memiliki potensi menjadi pahlawan untuk orang lain. Entah ia seorang pejuang di bidang pendidikan atau militer, seorang ayah atau ibu maupun mereka yang karya-karyanya menginspirasi.
Begitu pun Chester Bennington, vokalis Linkin Park yang baru saja meninggal dunia pada 20 Juli kemarin. Awalnya saya pikir berita itu cuma hoax tapi sayang sekali benar adanya.
Kepergian Chester tentu mengejutkan banyak orang, membawa luka bukan hanya bagi personel Linkin Park tapi juga jutaan penggemar termasuk saya.  Mimpi saya menyaksikan Chester tampil live pupus sudah. Chester hanya sebatas lagu yang pernah ia nyanyikan, poster yang sudah tercetak dan tak ada lagi karya fenomenal di masa depan.
Chester meninggal dengan cara gantung diri. Sebuah cara yang tragis menurut sebagian besar orang tapi mungkin itu cara yang indah buat Chester mengakhiri perjalanannya di dunia ini.
Banyak spekulasi dibalik meninggalnya pria berusia 41 tahun ini. Namun yang banyak dikaitkan adalah depresi karena kepergian sahabat terbaiknya Chris Cornell, yang mati bunuh diri dua bulan yang lalu. Tragisnya Chester meninggal tepat di ulang tahun Cornell dan pola kematiannya pun sama.
Sejak kecil, Chester memang telah akrab dengan depresi. Ia adalah salah satu korban bully oleh teman-temannya saat kecil. Pada usia 11 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Mengalami depresi, ia terjerumus dalam obat-obatan dan alkohol.
Hingga akhirnya, Chester menjadi vokalis Linkin Park dan sukses melejit saat album ‘Hybrid Theory’ rilis. Saya sendiri mulai menggemari lagu-lagu Linkin Park dalam album ‘Meteora’. Kesuksesan terus membayangi band beraliran Rock alternatif tersebut namun Chester masih tetap berjuang untuk mengatasi depresinya. Bahkan di tahun 2009, ia pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Musik Linkin Park buat saya sendiri membantu saya melewati masa-masa sulit. Apa lagi ketika di mata semua orang keputusan saya tampak begitu salah dan mereka selalu mengingatkan ‘Go fighting for your own life’.
Sejak awal musik linkin park kental dengan irama menghentak-hentak namun berpadu indah dengan sentuhan rap dan vokal Chester. Namun semakin bertambahnya tahun, warna musik Linkin Park terus berevolusi. Album barunya, ‘One More Light’ dikritik habis oleh penggemar fanatik karena dinilai semakin ngepop. Mereka menginginkan Linkin Park terus mengusung genre rock. Saya sih suka-suka saja karena ciri khas Linkin Park tetap ada dan tak harus dengan teriak-teriak.
Chester dalam satu kutipan wawancaranya mengatakan album baru mereka itu sangat bagus dan mengajak para haters untuk move on dan tetap mencintai Linkin Park.

Linkin Park Tanpa Chester?
Linkin Park tanpa Chester bukanlah Linkin Park. Bahkan Mike Shinoda dalam cuitannya di twitter, mengatakan kematian Chester adalah akhir dari Linkin Park. Memang Chester adalah jiwa dari Linkin Park dan kalaupun akan ada vokalis baru bisa menggantikan posisi Chester? Of course no. Never.
Kematian Chester tentu mendapatkan respon luar biasa dari pengguna media sosial. Dari mereka ada yang merupakan fans berat dan ada juga yang sekedar ikut-ikutan. Namun kita bisa melihat betapa banyak yang mengidolakan Chester dan karya-karyanya.
Terlepas dari keputusan bodoh yang ia ambil, tak dapat dipungkiri suara dan suara hati Chester dalam beberapa lagu ciptaannya menolong sebagian orang untuk melewati hidup, mengatasi depresinya, melalui patah hati dan terus berlari memperjuangan mimpi walaupun hidup sangat berat.
Chester adalah pahlawan dan inspirasi bagi anak-anaknya, istrinya, personel Linkin Park bahkan mungkin bagi kita semua. Karya-karyanya seperti Shadow of The Day, Breaking The Habbit dan Paper Cut akan selalu melegenda dan kita kini adalah orang-orang beruntung yang pernah menyaksikan karya Chester.
Good bye Chester Bennington and the Shadow of the day, will embrace the world in gray and the sun will set for you.

With Love

Aside

Kemanakah Arah Pendidikan Nanti?

Semasa sekolah, hari pendidikan, 2 Mei adalah momen yang menyenangkan. Selaku siswa, kami hanya datang ke lapangan, mengikuti upacara bendera dan pulang cepat. Tak ada catatan yang harus dibuat atau pekerjaan rumah yang harus dikerjaan. Asyik.

Tahun berlalu dan kini saya memahami 2 Mei sebagai kegiatan makan-makan disekolah dan membawa karangan bunga untuk guru. Well, keponakan saya melakukannya. Ibu mereka pagi-pagi sudah menggoreng ayam untuk dibawa ke sekolah. Katanya untuk merayakan hari pendidikan.

Tapi saya gagal paham. Mengapa anak-anak harus membawa makanan dan bunga ke sekolah? Apakah hanya bagian dari seremonial semata dan bentuk penghargaan kepada para pendidik? Kalau bicara penghargaan, bukankah pendidik itu telah digaji setiap bulannya? Atau pihak sekolah sudah malas berpikir untuk mencari alternatif kegiatan lain yang lebih berguna?

Dari sinilah saya berpikir pendidikan kita masih jalan di tempat beberapa tahun ke depan. Tak ada yang berubah bila para pendidik masih tetap dengan pikiran kuno mereka, mengikuti tradisi yang harusnya dikaji lagi. Saya kagum dengan terobosan pemikiran pak Mentri Pendidikan kita, yang kreatif dan memandang jauh ke depan. Atau gerakan mendukung pendidikan yang dilakukan beberapa orang. Tapi apa bisa diwujudkan bila guru yang berhubungan langsung masih saja berpikiran sempit.

Kita di Indonesia Timur sering berteriak mengenai pemerataan pendidikan tapi tak mau berbenah diri untuk menjadi lebih layak. Saya selalu yakin kualitas lulusan guru lokal tak ada bedanya dengan lulusan dari pulau Jawa. Yang berbeda adalah bagaimana mereka menempatkan diri mereka sewaktu nanti bekerja. Idealisme yang dibawa dari perguruan tinggi lalu luntur karena alasan segan atau lebih parahnya cari muka belaka.
Well, shame on you!

Banyak hal bisa lebih maju seandainya kita bersedia membuka diri. Intip terobosan sistem pendidikan di Jepang maupun Finlandia yang berdasarkan riset. Sejauh mana kita disini menjalankannya? 

Guru-guru kita harus berani bertindak, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mengerikan seperti menjadikan buku cetak sebagai satu-satunya sumber mengajar di kelas. Atau berhenti menjual kerajinan tangan yang dibuat siswa saat pembagian laporan pendidikan, yang tak tahu ke mana mengalir uangnya.  Kadang tak perlu selalu melakukan hal spektakuler untuk membuat perubahan. Mulai benahi yang kecil-kecil dulu biar yang besar nanti mengikuti. 

Selamat merayakan hari pendidikan dan terus berbenah untuk menjadikan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.  

Aside

Kurang Kerjaan Projet, Sebuah Oase yang Menyejukan

Penasaran! Ya, Saya mendengarkan lagu-lagu Kurang Kerjaan Project (KKP) awalnya karena penasaran. Di timeline facebook banyak teman yang membagikan link soundcloud dan memberi komentar bagus. Lantas kemudian saya mulai mendengarkan lagu-lagunya. Ternyata enak di telinga dan bikin nagih.
Salah satu vokalisnya, Johanes Latuny, saya kenal secara personal karena masih ada hubungan kerabat. Anes, begitu sapaan akrabnya, menempuh kuliah di universitas yang sama dengan saya. Setelah sekian lama tak berjumpa, saya bertemu dengan Janes kembali tahun 2008 di Salatiga, ketika dia datang berkuliah. Saya sudah datang dua tahun lebih dulu. Memang kami menghabiskan masa kecil di wilayah yang sama, Amahai, Maluku Tengah. Tapi Anes harus melanjutkan pendidikan di Ambon dan ingatan saya tentang dia menjadi samar.
Sejak itu, karena tinggal di satu lingkungan asrama, saya banyak berinteraksi dengan Anes. Apalagi karena sama-sama berasal dari Masohi (ibu kota Maluku Tengah), kami sering ngumpul dengan teman-teman sedaerah. Anes telah menujukan kepiawaannya bermain gitar dan menciptakan lagu. Suaranya dalam ingatan saya adalah suara yang halus, tenang namun bisa melengking tinggi.
Dulu, Anes pernah menciptakan lagu berbahasa Ambon dan cukup akrab di telinga penikmat musik lokal. Lagunya yang berjudul “Cinta Tetap Satu” beredar luas dalam versi mp3 di handphone para kawula muda. Bahkan diputar dengan nyaringnya dalam angkutan kota. Meskipun begitu, ada orang tak bertanggung jawab yang melakukan plagiasi bahkan sempat menjual kaset berisi lagu ciptaan Anes tanpa permisi dahulu. Meskipun tak berbuntut laporan ke polisi, kaset-kaset si plagiator tersebut berhasil di tarik dari peredaran. Kasihan juga masih ada musisi macam begini.

Tahun Ketiga dan Album Baru
Masih betah di Salatiga, selepas meraih gelar sarjananya, Anes kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua. Atmosfer Salatiga yang menyejukan turut merangsang kreativitas sekelompok anak muda untuk menciptakan musik asyik. Mereka menamakan diri Kurang Kerjaan Project (KKP). Anes juga termasuk didalamnya sebagai vokalis tentunya.
Tahun ini, KKP telah memasuki tahun ke tiga dan sementara mempersiapkan peluncuran album baru. Grup ini terdiri dari 6 orang yakni Anes (vokal), Olive (vokal), Endik (gitar), Wanly (gitar melodi), Hanny (bass) dan Ian (Cajon & Instumen). Mereka semua adalah anak perantauan dari luar pulau Jawa.
Menurut Anes, KKP sendiri malah terbentuk setelah ia menciptakan lagu “Bersama Malam dan “Hijauku Pergi”. Beranjak dari situlah, Anes mengajak beberapa teman bergabung. Ia selanjutnya lebih bertanggungjawab meramu syair lagu. Aransemennya digodok bersama-sama. Personel KKP yang sebelumnya memiliki latar belakang dan referensi musik berbeda bersedia melebur dalam petualangan baru.
Hingga sekarang kurang lebih ada 10 lagu yang sudah KKP ciptakan. Beberapa ditampilkan di laman soundcloud mereka (silakan klik disini). Beberapa lagi hanya ditampilkan saat KKP manggung di kafe.
Saya sendiri saat pertama kali mendengar lagu KKP, kaget dengan perubahan suara Anes. Kini suaranya lebih matang dan dewasa. Aransemen lagu KKP pun dikemas dalam bingkai akustik sehingga vokalnya berbalut irama sendu menjadi begitu menghanyutkan. Menurut Anes, sejak awal lagu-lagu mulai di produksi, KKP tak membatasinya dalam genre tertentu. KKP memang tengah merangkai warna musiknya sendiri.
Kini KKP sementara berjuang merampungkan albumnya. Prosesnya sudah mencapai 70 persen untuk musik dan mixing. Sayangnya tak ada target yang dipatok KKP kapan album perdana ini bisa selesai. Sedikit bocoran saja, album ini diproduksi sendiri dan tak akan dikemas dalam bentuk CD. Ada banyak kejutan yang dijanjikan dalam album ini.
Sebuah Oase
Hadirnya KKP memang sebuah oase yang menyejukan bagi kalangan lokal. Tak banyak grup Indie yang bisa muncul terlebih bila mereka masih mahasiswa dengan segudang aktivitas. Tiga tahun adalah usia yang sangat muda dan bila ingin terus eksis maka KKP harus menseriusi langkah awalnya ini. Misalkan nanti KKP mengeluarkan album, lalu selanjutnya apa? KKP punya pilihan bebas.
Mereka bisa saja semakin mekar dan melejit seperti Supermen Is Dead atau justru layu dan hanya tinggal menjadi kenangan. Bagaimana KKP memperluas gaungnya juga harus dipikirkan, karena media sosial pun tak pernah cukup. KKP mau tak mau harus konsisten dengan aliran musiknya. Penikmat musik indie cenderung lebih senang bila grup musik favoritnya punya warna yang lekat di telinga.
Tentu setiap orang ingin apa yang mereka ciptakan bertahan lama, termasuk Anes dan juga KKP. Anes tak berharap yang muluk-muluk. Ia hanya ingin terus menulis syair lagu yang lebih bagus dan lekat dihati pendengarnya dan KKP bisa terus eksis. Tak dipungkiri selama tiga tahun berproses, jalan yang ditekuni KKP penuh liku. Tantangan terbesar yang dialami adalah kesamaan waktu. Berhubung semua personel sementara menjalani kuliah jadi ada latihan-latihan yang tertunda teremasuk proses pembuatan album. Banda Neira adalah gabungan dua orang yang super sibuk. Satunya jurnalis, satu lagi aktivis.  Bahkan jarak sempat memisahkan ribuan kilometer tapi mereka bisa sangat produktif. Jadi kesamaan waktu bukan lah satu-satunya alasan untu sebuah grup tetap bertahan.
Anes sendiri belum bisa memprediksi kemana KKP akan berlayar atau apakah komposisi personel KKP akan tetap sama. Ia pribadi telah bertekad akan tetap bermusik. Menyinggung soal apakah akan kembali menciptaan lagu Ambon, Anes masih enggan. Ia berharap musisi lokal lebih cerdas dan inovatif menciptakan musiknya sendiri. Selebihnya, Ia lebih memilih aman menciptakan lagu berbahasa Indonesia sehingga lebih luas jangkauan pendengarnya.

Saya sendiri berharap, pemusik Indie dan musiknya yang berkualitas semakin banyak bermunculan. Tentu saja, bisa terus konsiten dan mempertahankan idealisme bermusiknya dalam jangka waktu yang lama. Semoga.