Memberi Dalam Kekurangan

 

hand-1549224_1920

   Semua orang dapat memberi dalam kelebihannya tapi tak semua orang ingin memberi dari kekurangan. Kebanyakan dari kita yang selalu merasa kurang. HP kurang keren, kuku kurang bling-bling, sepatu tak sampai sepuluh dan seterusnya. Mungkin sifat dasar manusia yang selalu tak merasa puas. Dengan dalih uang adalah uang kita, ketidak puasan semakin menjadi-jadi. Namun apa harus selalu demikian?

Masih Banyak yang Tidak Beruntung
Bagi kita yang sering gonta-ganti HP gadget atau keluar masuk salon setiap minggu, kita termasuk orang-orang yang beruntung. Diluar sana, masih banyak yang tidak beruntung seperti kita, yang bahkan untuk makan pun hanya kalau beruntung.
Sekitar minggu lalu, persekutuan anak remaja rayon IV dari Jemaat Imanuel Boswesen, Sorong mengunjungi Panti Asuhan Pelita Kasih. Panti asuhan yang bernaung di bawah yayasan Militia Christy ini berlokasi di Gereja Bethel Indonesia, Jemaat Sion, Aimas. Ya anak-anak panti asuhan ini tinggal di dalam gereja. Tepatnya terdapat balkon khusus yang dimanfaatkan sebagai ruang tidur anak-anak. Ruangaan untuk anak lelaki dan perempuan dibuat terpisah.
Panti Asuhan Pelita Kasih

Sekitar 60an orang yang terdiri dari anak remaja dan pengasuh datang untuk memberikan beribadah dan memberikan bantuan yang dikumpulkan oleh kami sendiri. Saat bertandang ke sana, terdapat kurang lebih 40 orang anak dari berbagai usia.
Dengan antusias, mereka menyambut kami. Kursi telah berjejer rapi dalam ruang gereja. Setelah melakukan ibadah singkat, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok untuk menerima pelajaran alkitab. Saya mendapatkan kelompok berisi 6 orang yang satu orang diantaranya adalah anak remaja dari panti asuhan. Namanya Desi.
Desi bercerita bahwa ibunya adalah seorang penderita kanker yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Sepeninggal ibunya , Desi mengalami depersi yang amat berat dan marah pada Tuhan. Namun akhirnya ia dipertemukan dengan ibu Ace sang pengelola panti yang terus memberi semangat dan merawat Desi hingga ia duduk di bangku SMP.
Desi juga bercerita kadang ketika bersekolah ia harus menempuh perjalanan yang jauh. Kalau tidak ada uang, ia harus berjalan kaki. Sungguh beruntung bagi kita yang tiap hari bangun siang, makan sarapan gaya luar negeri dan tinggal naik mobil ke sekolah.
DSC_2012

Belajar dari Thalia
Saya mengenal Thalia belum lama ini di kelas sekolah minggu. Ia adalah seorang remaja perempuan di rayon IV yang sementara menuntut ilmu di SMP. Ayahnya baru saja meninggal, kini dia tinggal bersama ibunya dalam kondisi yang boleh dibilang pas-pasan.
Karena ikut berpartisipasi dalam acara kunjungan ke Panti asuhan, setiap anak diwajibkan membawa beberapa kebutuhan pokok seperti gula, odol, sabun mandi, sabun cuci, minyak goreng, dan pakian bekas.
Saya ingat benar, suatu ketika Thalia sedang berada di teras rumah saya bersama teman-temannya di persekutuan remaja.  Dia juga turut membawa sabun mandi untuk disumbangkan. Saat itu, salah seorang temannya bertanya apa dia sudah membawa pakian bekas. Dengan polosnya Thalia menjawab : “Sa tra ada baju buat sumbang sa bawa sabun saja” (artinya saya tdak punya pakian untuk disumbangkan jadi sa bawa sabun saja). Saya termenung beberapa saat dan takjub. Look at this kid. She has nothing but she gave anything she can for anyone else.
Sama seperti halnya Thalia, ibu Ace, sang penjaga panti asuhan telah memberi dari apa yang tak ia miliki. Wanita paruh baya yang akrab disapa mama Ace ini bertutur, tak ada bantuan rutin yang didapatkan panti asuhan. Namun ia tak bisa membuang anak-anak yang datang kepadanya meminta naungan tempat tinggal. Suaminya hanya seorang pendeta bergaji cuku. Ia hanya bisa berdoa meminta datangnya berkat. Dan betapa ajaib bantuan datang pada saat yang tepat dimana ia membutuhkan.

So, sudahkah kita memberi dari kekurangan kita? Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengeluh bahwa kita tidak punya lipstik baru atau tas pink agar cocok dengan baju kita. Mungkin dari Thalia dan mama Ace kita dapat belajar bahwa seni memberi bukan pada saat kita berlebih justru lebih indah saat dalam kekurangan.

Advertisements

Favorite Drama Movie : My Sister Keeper

431300171_1369941428
My Sister Keeper merupakan film yang diadaptasi oleh novel berjudul sama karya Jodi Picoult. Adalah Anna Fitzgerald seorang gadis berusia 11 tahun yang ingin menuntut orang tuanya karena menganggap telah memanfaatkan tubuhnya bagi kesembuhan sang kakak, Kate.
Ia bahkan mendatangi seorang pengacara handal, Campbell Alexander untuk mendapatkan hak atas tubuhnya. Berkali-kali ia menjalani operasi dan diambil bagian tubuhnya demi keselamatan Kate. Bahkan kehadiran Anna ke dunia sengaja dirancang untuk menyembuhkan penyakit Kate.
Kate menginap leukimia sejak kecil. Berbagai metode pengobatan tak mampu menyembukan penyakitnya. Ia kehilangan rambutnya akibat kemoterapi bahkan memasuki usia ke 15 tahun, ginjalnya dinyatakan rusak.
Namun penyakit Kate tak hanya akan membunuh dirinya nanti. Perlahan keluarga yang ia miliki mulai retak. Ayah dan ibunya memfokuskan diri pada kesembuhan Kate tanpa memperhatikan perkembangan dua anaknya yang lain. Jesse menderita diseleksia dan Anna yang depresi karena terancam tak bisa lagi menikmati masa mudanya.
Saya menyukai film ini karena menyajikan konflik keluarga yang pelilk dan mungkin saja dihadapi setiap keluarga dengan anak penderita kanker atau penyakit berat lainnya. Akting Abigail Breslin mengesankan pada umurnya yang masih muda tersebut. Bahkan disini kita bisa melihat akting Cameron Diaz yang lebih serius ketimbang perannya di film-film lain. Keterikatan antar tokoh juga patut diacungi jempol.
Meskipun tergolong film lawas, penggemar genre drama jangan sampai belum menontonnya. Sayangnya ada beberapa adegan yang perlu pendampingan orang tua bila akan menonton bersama anak-anak. Jangan lupa siapkan tissue ya!

3,5 dari 5 bintang bagi My Sister Keeper

 

Menikmati Sorong Rasa Modern di Calais 

Kota Sorong merupakan salah satu kota di provinsi Papua Barat yang telah lama dikenal dengan sebutan kota minyak. Jangan membayangkannya sebagai kota yang sepi karena kota ini termasuk kota pelabuhan yang ramai.  Sebagai kota transit, banyak hotel yang berdiri. Industri kecil termasuk makanan pun tumbuh subur di sini.  

Bagi penikmat kopi dan teh yang ada di Sorong, jangan sampai lupa berkunjung ke Calais Artisan Bubble Tea & Coffee Sorong. Terletak di kawasan Remu Utara, kafe ini mudah saja dijumpai karena berada persis di pinggir jalan. 

Suasana industrial yang lekat dengan kesan modern bisa Anda rasakan saat pertama kali melihat eksetriornya.  Cat dinding didominasi oleh warna hitam memperkuat citra modern.  Diluar disediakan meja yang bisa digunakan oleh para perokok.  

Ketika masuk ke dalam kafe, kalian akan disambut warna abu-abu muda yang lembut.  Namun beberapa bagian tetap bewarna hitam agar mempertahankan ciri khas kafe. Kafe ini memiliki dua lantai. Di lantai pertama,  tempat duduknya terdiri dari tempat duduk empuk dan kursi. Interiornya lucu karena ada lampu gantung yang diberi aksen topi hitam bundar. Malam hari terkadang ada suguhan musik dari band lokal. 

Sementara di lantai dua,  tempat duduk yang disediakan berupa sofa berukuran jumbo.  Daerah tangga juga dibuat menarik dengan menambahkan beberapa lukisan dan pajangan unik di dinding. 

Untuk memesan makanan dan minuman, Anda bisa langsung ke meja kasir karena menu tidak diantar ke meja. Banyak juga pilihan makanan berat yang disediakan. Anda hanya bisa memilih paket nasi ditambah chiken katsu, beef bulgogi hingga nasi iga penyet. Tersedia pula Burger bagi yang berminat. Ada juga cemilan ringan seperti French fries dan Chiken wings. 

Untuk soal minuman, Calais menyediakan banyak varian rasa baik teh dan kopi. Mulai dari rasa coklat hingga fussion buah yang segar.  Tersedia dua pilihan ukuran yakni reguler dan large. Waktu ke Calais saya mencoba minuman Choco buttersocth. Enak dan ringan banget! Harga pun terjangkau lah. 

Nah kalo masalah dessert, kalian kudu nyoba semuanya.  Meski harganya lumayan mahal buat anak sekolahan, porsinya yang besar bisa dimakan 2 sampai 3 orang.  Saya sempat nyoba Choco Cocochide. Isinya potongan puding cokelat, es krim dua toping, Bubble terus dikasih es serut, susu kental manis dan selai kacang.  Enak loh! 

Sayangnya kalau yang udah laper banget mending cari makan di luar deh karena pesanan datangnya bisa hampir 30 menit. Minuman udah mau habis barulah makanan datang.  😒  

Tapi buat nongkrong sama temen oke lah ya karena tempatnya nyaman sekali dan ada jaringan wifi yang kencang 🙌🙌

Somebody’s Hero

Everyone is possible for being somebody’s Hero!

DFNpJkcV0AAWhy0

Setiap orang memiliki potensi menjadi pahlawan untuk orang lain. Entah ia seorang pejuang di bidang pendidikan atau militer, seorang ayah atau ibu maupun mereka yang karya-karyanya menginspirasi.
Begitu pun Chester Bennington, vokalis Linkin Park yang baru saja meninggal dunia pada 20 Juli kemarin. Awalnya saya pikir berita itu cuma hoax tapi sayang sekali benar adanya.
Kepergian Chester tentu mengejutkan banyak orang, membawa luka bukan hanya bagi personel Linkin Park tapi juga jutaan penggemar termasuk saya.  Mimpi saya menyaksikan Chester tampil live pupus sudah. Chester hanya sebatas lagu yang pernah ia nyanyikan, poster yang sudah tercetak dan tak ada lagi karya fenomenal di masa depan.
Chester meninggal dengan cara gantung diri. Sebuah cara yang tragis menurut sebagian besar orang tapi mungkin itu cara yang indah buat Chester mengakhiri perjalanannya di dunia ini.
Banyak spekulasi dibalik meninggalnya pria berusia 41 tahun ini. Namun yang banyak dikaitkan adalah depresi karena kepergian sahabat terbaiknya Chris Cornell, yang mati bunuh diri dua bulan yang lalu. Tragisnya Chester meninggal tepat di ulang tahun Cornell dan pola kematiannya pun sama.
Sejak kecil, Chester memang telah akrab dengan depresi. Ia adalah salah satu korban bully oleh teman-temannya saat kecil. Pada usia 11 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Mengalami depresi, ia terjerumus dalam obat-obatan dan alkohol.
Hingga akhirnya, Chester menjadi vokalis Linkin Park dan sukses melejit saat album ‘Hybrid Theory’ rilis. Saya sendiri mulai menggemari lagu-lagu Linkin Park dalam album ‘Meteora’. Kesuksesan terus membayangi band beraliran Rock alternatif tersebut namun Chester masih tetap berjuang untuk mengatasi depresinya. Bahkan di tahun 2009, ia pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Musik Linkin Park buat saya sendiri membantu saya melewati masa-masa sulit. Apa lagi ketika di mata semua orang keputusan saya tampak begitu salah dan mereka selalu mengingatkan ‘Go fighting for your own life’.
Sejak awal musik linkin park kental dengan irama menghentak-hentak namun berpadu indah dengan sentuhan rap dan vokal Chester. Namun semakin bertambahnya tahun, warna musik Linkin Park terus berevolusi. Album barunya, ‘One More Light’ dikritik habis oleh penggemar fanatik karena dinilai semakin ngepop. Mereka menginginkan Linkin Park terus mengusung genre rock. Saya sih suka-suka saja karena ciri khas Linkin Park tetap ada dan tak harus dengan teriak-teriak.
Chester dalam satu kutipan wawancaranya mengatakan album baru mereka itu sangat bagus dan mengajak para haters untuk move on dan tetap mencintai Linkin Park.

Linkin Park Tanpa Chester?
Linkin Park tanpa Chester bukanlah Linkin Park. Bahkan Mike Shinoda dalam cuitannya di twitter, mengatakan kematian Chester adalah akhir dari Linkin Park. Memang Chester adalah jiwa dari Linkin Park dan kalaupun akan ada vokalis baru bisa menggantikan posisi Chester? Of course no. Never.
Kematian Chester tentu mendapatkan respon luar biasa dari pengguna media sosial. Dari mereka ada yang merupakan fans berat dan ada juga yang sekedar ikut-ikutan. Namun kita bisa melihat betapa banyak yang mengidolakan Chester dan karya-karyanya.
Terlepas dari keputusan bodoh yang ia ambil, tak dapat dipungkiri suara dan suara hati Chester dalam beberapa lagu ciptaannya menolong sebagian orang untuk melewati hidup, mengatasi depresinya, melalui patah hati dan terus berlari memperjuangan mimpi walaupun hidup sangat berat.
Chester adalah pahlawan dan inspirasi bagi anak-anaknya, istrinya, personel Linkin Park bahkan mungkin bagi kita semua. Karya-karyanya seperti Shadow of The Day, Breaking The Habbit dan Paper Cut akan selalu melegenda dan kita kini adalah orang-orang beruntung yang pernah menyaksikan karya Chester.
Good bye Chester Bennington and the Shadow of the day, will embrace the world in gray and the sun will set for you.

With Love