A Star is Born (Spoiler Alert!)

A Star Is Born
A Star is Born

Buat saya, waktu dua jam yang saya habiskan di bioskop untuk menonton A Star is Born tidaklah sia-sia. Film ini jauh diatas ekspektasi saya, mulai dari jalan cerita hingga akting Lady Gaga dan Bradley Cooper yang memukau.
Kisah ini menceritakan kehidupan seorang penyanyi country bernama Jackson Maine (Cooper). Berada di puncak karier, ia justru terjerumus dalam candu obat-obatan dan alkohol. Semua itu tak lepas dari pengalaman masa lalunya yang kelam. Terlebih gangguan pendengaran yang ia derita, membuat bermusik hanya sebagai pelarian belaka.
Namun pertemuannya dengan Ally (Gaga) di sebuah klub malam mengubah segalanya. Suara Ally yang menyanyikan ‘La Vie en Rose’ seakan merasuki Jackson. Rasa suka antara keduanya pun mulai tumbuh.
Kisah cinta mereka dikemas dengan manis. Mulai dari perban es di tangan Ally, ciuman pertama usai pentas hingga senar gitar yang digunakan Jackson untuk melamar Ally. Selain berbalut kisah cinta, film ini menceritakan bagaimana perjalanan karir Ally hingga menjadi penyanyi profesional.
Ally pertama kali tampil di depan ribuan penonton dalam konser Jackson, menyanyikan lagu ‘Shallow’ yang sudah lama ia ciptakan. Ally pun kemudian mengikuti rangkaian tur Jackson ke beberapa kota. Sampai ia bertemu dengan seorang produser musik, Rez Gavron.
Kehidupan Ally pun mulai berubah, dimana dirinya kian tenar meskipun mulai melakukan apa yang tak ia senangi demi tuntuan industri musik dunia. Sementara Jackson, yang meskipun masih bermusik, semakin larut dalam candu alkohol dan obat-obatan terlarang.

Meninggalkan Bekas
Seusai menonton A Star is Born, saya keluar dari bioskop dengan hati yang patah. Hubungan Ally dan Jackson pada akhirnya harus usai. Namun, bukan bercerai tapi Jackson memilih mengakhiri hidupnya dan meninggalkan Ally dan Charles.
Tak hanya sukses berperan sebagai Jackson, Bradley Cooper yang juga menjadi sutradara serta produser di balik film ini sangat berhasil membangun konflik hingga klimaks dan menyisakan patah hati mendalam.
Ally dan Jackson adalah couple goals. Bagaimana cara mereka berinteraksi, melihat satu sama lain, menciptakan musik, semuanya sangat indah. Tapi akar depresi Jackson yang luput dari perhatian Ally justru menjadi bumerang di akhir kisah.
Bukan cuma bekas patah hati, film ini juga meninggalkan pesan-pesan yang menjadi pengingat kita semua. Misalnya jangan pernah menganggap sepele soal depresi dan seberapa jauh kita berani mewujudkan mimpi masing-masing.

Banyak Kejutan
Banyak kejutan yang saya nikmati selama film. Pertama, Gaga pandai berakting. Kemudian Cooper punya suara yang bikin klepek-klepek. Kalau soal akting, Cooper sih gak usah diragukan lagi. Sudah nonton Limitless atau Hang Over kan?
Lagu-lagu sepanjang film ini enak didengar dan seluruhnya merupakan lagu asli yang belum pernah dipublikasikan. Bahkan  berita semalam menyebutkan, tiga lagu yang ditulis Gaga untuk film ini, yakni “Shallow”, “Always Remember Us This Way” dan “I’ll Never Love Again”  diajukan Warner Bros sebagai kandidat untuk mendapatkan Oscar.
Banyak cerita menarik di balik pembuatan film ‘A Star is Born’ ini dan bisa kalian lihat cuplikan wawancaranya di YouTube. Namun, buat saya yang paling menarik adalah kisah mengenai bagaimana Bradley Cooper meyakinkan Gaga untuk tampil dalam film garapannya.
Ia datang ke rumah Gaga untuk berbincang dan kemudian mengajak Gaga bernyanyi bersama. Dalam wawancara bersama People TV, Bradley mengaku ia gugup terlebih menghadapi penyanyi sekelas Gaga. Meskipun bukan penyanyi, baginya tak ada cara lain untuk meyakinkan Gaga. Ternyata tindakan Bradley tersebut membuat Gaga yakin untuk terlibat dalam film ini.

4,7 dari 5 untuk A Star is Born.

Advertisements

3 Film Romantis dari Netflix Buat Akhir Pekan Ini

Akhir pekan datang lagi! Bagi yang tak ada agenda jalan-jalan atau kegiatan lainnya, menghabiskan waktu dengan nonton film di rumah bisa menjadi pilihan. Film yang saya rekomendasikan kali ini masuk genre komedi romantis. Jadi siap-siap ketawa dan senyum-senyum sendiri. Selamat menikmati akhir pekan ya.

1. To All the Boys I’ve Loved Before

To All the Boys I've Loved Before
Sumber : The Roar

Kalau lihat posternya pasti sudah tertebak dong, flim ini pasti berkaitan dengan surat cinta. Film ini mengisahkan tentang gadis keturunan Korea Amerika, Lara Jean (Lana Condor), yang menulis surat kepada setiap pria yang membuatnya jatuh hati. Namun, surat-surat tersebut tak dikirim dan disimpan dalam kotak pribadi yang diberikan mendiang ibunya.
Entah bagaimana surat itu bisa tersebar dan jadi masalah karena salah satu penerima surat tersebut adalah sahabat baiknya, Josh, yang juga berstatus sebagai pacar kakaknya.
Kebayang dong, bingungnya Lara Jane. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjalin hubungan palsu dengan Peter (Noah Centineo), yang juga salah satu penerima suratnya. Sepanjang menyaksikan film ini, saya senyum-senyum sendiri dong karena banyak jokes dan kejadian lucu.
Kalau untuk adegan romantis, khas anak remaja Amerika tapi bagus karena tak terlalu banyak adegan vulgar. Buku ini diangkat dari novel berjudul sama yang dikarang oleh Jenny Han. Ternyata novel ini trilogy loh jadi ku penasaran cari bukunya! (3,5 dari 5 untuk film ini).

2. Kissing Both

Kissing Both
Sumber Gambar: Walmart

Film ini merupakan film komedi romantis unggulan Netflix lainnya yang dirilis tahun ini, yang juga merupakan film adaptasi dari novel karangan, Beth Reekles. Saya tertarik nonton film ini karena Joey King yang memerankan Elle Evans. Gosh, I love her since Ramona and Beezus.
Kissing Both bercerita soal pertemanan antara Elle dan Lee Flyn (Joel Courtney). Karena ibu keduanya berteman, mereka pun otomatis menjadi teman akrab sejak kecil. Sayangnya, Elle melanggar salah satu aturan pertemanan mereka yaitu tak boleh saling berpacaran dengan keluarga dekat keduanya.
Tak ingin kehilangan Lee dan juga kekasihnya, Noah, (kakak Lee), Elle kemudian menyembunyikan hubungan cintanya. Hubungan Elle dan Noah ini ya sweet abis tapi ku lebih suka liat Elle waktu ada bareng Lee. Haha.
Well, film ini banyak adegan yang vulgar kalau di banding dengan To All The Boys I’ve Love Before. Jadi harus ditonton oleh remaja yang sudah berumur 17 plus. (3 dari 5 bintang untuk film ini).

 

3. Set It Up

Set It Up
Sumber gambar: Netflix


Bagi para pekerja kantoran yang sering disuruh kerja lembur sama bosnya, harus banget nonton ini. Adalah dua orang sekretaris, Harper (Zoey Deutch) dan Charlie (Glen Powell) yang memiliki bos super druper workaholic.
Keduanya sampe tak punya waktu untuk menjalani kehidupan pribadi saking sibuknya di kantor. Karena berkantor di gedung yang sama, suatu saat mereka ketemu. Muncullah ide menjodohkan bosnya masing-masing yang sedang singel.
Pokoknya film ini lucu dan seru abis. Serulah buat ditonton. Meski sudah masuk kategori dewasa, gak banyak kok adegan vulgarnya. Ada Lucy Liu loh yang jadi bosnya Harper. Kebayang kak gimana ngeselinnya. (4 dari 5 bintang buat Set It Up).

Pilih Lady Bird atau The Edge Of Seventen?

Lady Bird dan The Edge of Seventeen
Poster Film Lady Bird dan The Edge of Seventeen

Jika diminta memilih antara Lady Bird atau The Edge of Seventeen, pasti sebagian besar memilih Lady Bird. Alasannya tak lain karena film keluaran November 2017, menuai banyak pujian dari kritikus film.
Media ternama Amerika, New York Times menyebut Lady Bird sebagai “Kesempurnaan di Layar Lebar”. Bahkan kalau kita mengecek Rotten Tomatoes, film ini mendapat review terbaik sepanjang masa, yakni 99 persen tanggapan baik.
Setelah diputar, Lady Bird mendapat 148 nominasi dalam 34 ajang penganugerahan film, termasuk memenangkan best perfomence actrees (Saoirse Ronan) dan best motion picture di Golden Globe Award 2018.
Lady Bird sendiri menceritakan tentang kehidupan Christine McPherson (Saoirse ), seorang anak SMA yang tinggal di Sacramento. Ia memiliki hubungan yang renggang dengan sang
Berlatar belakang Sacramento, California, film tersebut mengisahkan Christine “Lady Bird” McPherson (Saoirse Ronan), seorang garis SMA, dan hubungan renggangnya dengan ibunya (Laurie Metcalf) yang memiliki sikap keras.
Seperti remaja kebanyakan, Christine memiliki sifat ingin tahu yang besar dan sedang dalam perjuangan mencari jati diri. Inilah yang menyebabkan konflik dengan ibu serta sahabat baiknya, Julie.
Kisah yang sama sebelumnya telah diangkat menjadi tema besar di dalam ‘The Edge of Seventen’ yang rilis satu tahun lebih awal, di 2016. Hubungan renggang antara sang ibu dan teman baiknya, membuat Nadine Franklin (Hailee Stanfield) mengalami depresi berat.
Dari segi kualitas, keduanya cukup berimbang. Bahkan ketika saya menyaksikan Lady Bird, saya langsung teringat sosok Nadine. Namun sayang, tak seperti Lady Bird, The Edge of Seventeen jauh dari sorotan penghargaan bergengsi.
Hanya ada tiga penghargaan yang dimenangkan salah satunya adalah Best First Film dari Newyork Film Critics. Walaupun di Rotten Tomatto, film ini mendapat rating cukup baik hingga 95 persen.
Sementara, segi alur dan eksekusi cerita, saya pribadi lebih menyukai The Edge of Seventen. Entahlah, lebih terkesan nyata. Untuk akting, Saoirse juara tapi Hailee sama sekali tak buruk.
Jika disuruh memilih antar keduanya, saya lebih memilih The Edge Of Seventeen. Alasannya, film ini lebih membekas di ingatan ketimbang Lady Bird.

4,5 dari 5 bintang untuk The Edge Of Seventeen dan Lady Bird.

Rememory

 

Rememory-2017

Bagi penggemar serial HBO, Game of Thrones, pasti akrab dengan sosok pria bertubuh mungil Peter Dinklage. Sukses memerankan Tyron Lannister, kali ini ia bermain dalam film Sci-fi, Rememory.

Dinklage akan memerankan sosok Sam Bloom, lelaki yang dihantui kematian sang kakak karena kecelakaan mobil. Saat itu, Sam berada dengan sang kakak namun tak dapat memahami pesan teakhri kakaknya sebelum meninggal.

Sam yang penasaran, seolah mendapat durian runtuh ketika Gordon Dunn (Martin Donovan) hadir dengan temuan terbarunya yakni mesin perekam kenangan. Teknologi ini memungkinkan Sam mengingat bagian yang hilang dari ingatannya.

Namun Sam sebelum mendapatkan kembali ingatannya, ia harus dikejutkan dengan kematian Gordon yang ditemukan tewas di kantornya sendiri. Sam lantas memulai penyelidikan untuk mengetahui siapa aktor dibalik semua itu.

Setiap potongan kejadian, ternyata memunculkan fakta baru dan membuat Sam akhirnya mengetahui apa yang terjadi dimalam kematian sang kakak.


Dari segi cerita, Rememory menawarkan konsep fresh tentang sisi baru kehidupan masa depan. Kecerdasaan penulis skenario mengemas cerita membuat pembunuh Gordon tak tertebak menjelang akhir cerita. Tentu saja, akting Peter Dinklage patut diacungi jempol.

4 dari 5 bintang untuk film ini.