Menjadi Perempuan Indonesia dengan Menerima Diri Sendiri 

Menerima diri sendiri apa adanya bukanlah hal mudah.  Apalagi bila lingkungan menuntut kita menyesuaikan diri dengan standar mereka. Lantaran ingin diterima, akhirnya kita berubah menjadi seperti mereka. Padahal terkadang hati kita berkata sebaliknya. 

Saya juga pernah mengalami hal ini. Saya terlahir dengan rambut bertipe lurus. Namun ketika beranjak remaja rambut saya mulai berubah ikal dan sulit diatur. Entah karena alasan apa. Yang pasti saya tidak menyukainya. Orang-orang di sekitar saya pun banyak yang mengejek. Karena itu memiliki rambut ikal adalah kutukan. 

Ketika memasuki jenjang SMA, saya memaksa mama untuk pergi ke salon agar rambut saya dapat diluruskan. Saya ingat betul, saat itu meluruskan rambut membutuhkan waktu hampir 8 jam.  Saya bahkan harus makan ditemani bau obat pelurus rambut yang menyengat. Tapi akhirnya saya senang dengan perubahan itu. Kepala saya menjadi lebih ringan.  Belum lagi pujian orang sekitar bahwa saya tampak menawan.  

Singkat cerita selama beberapa tahun saya melakukan pelurusan rambut secara rutin. Maklumlah, obat pelurus rambut tak sepenuhnya mengubah tipe asli rambut. Jadi bila rambut baru tumbuh, tetap saja masih ikal. 

Sampai suatu saat, rambut saya menjadi rapuh dan mudah rontok.  Kemudian saya memutuskan untuk tak lagi meluruskan rambut dan membiarkannya tumbuh alami. 

Tapi ternyata apa yang saya lakukan mendapatkan sindiran dari banyak orang mulai dari julukan ‘Kribo’ sampai ada yang menuding saya tak lagi punya biaya untuk itu.  Awalnya saya merasa risih dan mulai bimbang untuk meluruskan rambut.  Tapi saya berpikir kembali, apakah itu perlu? Apakah saya membutuhkannya? Apakah dengan rambut lurus saya akan menjadi astronot?

Dilahirkan menjadi perempuan kadang terlalu menyakitkan karena kita dituntut memenuhi standar kecantikan tertentu. Seperti cantik berarti berkulit putih, tinggi, berambut lurus dan hal -hal lahiriah lainnya. Karena itulah banyak perempuan berusaha mengubah diri mereka agar menyamai atau setidaknya mendekati standar kecantikan. Agar diterima oleh lingkungan tertentu.  Tapi bukankah sungguh menggelikan bila kita hidup sesuai dengan apa yang orang lain inginkan? 

Menjadi perempuan Indonesia adalah dengan mulai menerima diri sendiri baik kekurangan maupun kelebihan. Bila kamu mempunyai rambut ikal, kulit gelap atau tubuh pendek,tak masalah. Anda masih bisa tetap hidup dan berkarya. Begitu pun soal profesi. Bila kamu memilih menjadi seorang pelukis ketimbang menjadi PNS, tak masalah.  Dengan menjadi diri sendiri kita tahu kemana kita harus melangkah sehingga lebih pasti untuk mencapai tujuan.  Apakah kita ingin hidup selamanya berdasarkan penilaian orang lain? 

Menjadi perempuan Indonesia juga harus mulai berpikiran terbuka dalam menghadapi gunjingan mereka yang tak sejalan.  Tantangan hidup memang selalu datang tapi solusi yang muncul selalu tergantung bagaimana kita melihatnya. Jadi jadikan saja cemooh orang lain untuk melatih kesabaran. 

Memang menerima diri sendiri terlihat sederhana tapi bila kita melakukannya, percayalah bahwa perubahan ke arah yang lebih baik akan datang. Bukankah membuat dunia lebih baik harus dimulai dari dalam diri sendiri? 

Advertisements
Aside

Sejumlah Puisi Lama

Pulang
Sayang,
Apa yang sebenarnya kita harapkan dari barisan tebu di pekarangan rumah
Atau banggakan dari bongkah sawit yang mulai meninggi mengalahkan langit  dan gedung-gedung mentereng di bibir pantai
Mereka hanya pendatang baru yang  makin giat menimpa semua mimpi-mimpi kita
Tentang anak-anak yang nantinya akan kita besarkan sebagai nelayan
Pun menghalangi padangku dari bukit tempat kita menanam Angsana sewaktu kecil
Yang selalu saja bisa meredakan dadaku dari lelah

Kau lihat  langit dimalam hari semakin kosong saja
Awan tak lagi malu-malu menjadi raja
Entah dimana semua bintang menyembunyikan dirinya kini
Dan semua  perkara ini  membuatku semakin gemetar, ingin cepat-cepat mati saja

Maka selama hari ini masih siang
Izinkanlah aku ziarah ke masa dimana  bisa menyusu di dada Ina sampai puas lalu menyanyikan satu lagu untuk  Ama yang sedang memangkur sagu
Aku akan pergi juga mengunjungi bukit hijau dimana Angsana kita akan tumbuh membelah langit dan bermain lautan pasir di bibir pantai hingga lelah
Aku selalu ingin pulang menyentuh tanah yang masih telanjang
Biar jiwa yang kian ranggas mekar kembali

Masohi, 2015

Biarkan Aku
Sesekali aku ingin jadi udara yang kau hirup
Atau menjelma darah dalam tubuhmu
Biar rindu yang membuat perih dadamu masuk dalam dadaku
Lalu biarkan aku jadi sungai yang bebas menyusuri kelok-kelok dalam tubuhmu
Supaya membawa segala luka-luka
Yang lama tertahan

Atau biarkan aku jadi cangkir
Yang tampung segala didih cintamu
Biar kau tahu kema harus selalu pulang
Ambon – Januari 2015

Balada Negeriku
Tuan,
Negeri ini tak lagi mengenal hembus napasMu
Kedamaian hanyalah serupa nyanyian lama
Sunyi dan hampa
Bahkan ketika anak kecil tersedu kelaparan
Mereka selalu menyimpan telinga dan mata di balik kantong

Mungkin kala engkau jenuh disana, Tuan

Sudilah sesekali kunjungi kami dengan amukan kecil
Atau dengan cubitan nakal di pipi
Biar kami gemetar
Biar kami kembali telanjang dihadapanMu
2014

Kau
Kali lalu, kata-kataku keluar bagai pisau
Menghantam dadaMu hingga koyak
Kali lain, kuberi kau satu ciuman manis tepat di kaki
Untuk menutup luka yang kian lebar
Kegelapan begitu erat
Asin kian pekat pada hujan setahun ini
Hidup adalah perkara soal waktu dan kejadian
Yang sering berkejaran tak pernah lelah

Pagi ini aku sungguh tersedu
Tak lagi kujumpa bisikan hadirMu
Sungguh senyap
Sepi – Lenyap

Masohi, September 2014

 

 

 

 

L-

L is for lose.

Sometimes in this life, you should lose someone you really want them on your life. It’s not because you want to. It’s because you should let them free

Dulu aku pernah berjanji padamu ketika kau bilang, kapan aku akan mengunjungimu.
Lalu aku bilang, aku pasti akan berkunjung ke sana tepat saat ulang tahunmu.
and well, bahkan ketika semua hal yang mengguncang semesta, akubtap datang menjumpaimu.

Lucu? Ajaib? Mungkin. Tapi kau tahu aku sudah memperhitungkannya dengan baik dan meminta agar semesta membantuku.
Dan ketika kamu benar-benar yakin akan satu hal, percayalah itu akan terjadi.
See?

Sayangnya mungkin dihari itu, aku bahkan tidak bisa memelukmu dan bilang, “happy birthday love”.
Tapi setidaknya aku menepati janjiku. Aku menang atas perkataan yang kulontarkan saat itu.

Entahlah mengapa aku masih yakin sekali, malam saat kau tahu aku ada di kotamu, kau tak akan bisa tidur dengan tenang. Ah, mungkin juga aku terlalu naif seakan sudah mengenalmu seutuhnya.

Kau mau merokok? Tidak. Tidak kau tak pernah suka bukan? Hmm
Bir? Haha

Kadang jawaban atas mengapa sangat mahal karena tak ada yang bisa lebih dipuaskan selain jiwa yang mendapat jawaban.

Jangan salah paham dulu dengan konsep bahwa dua orang harus bertemu untuk saling kembali membangun rasa yang sempat terburai. Bukankah itu begitu mengerikan?
Apakah dua orang dari masa lalu harus bertemu untuk kembali? jika alasan pertemuan untuk mendapat jawaban walau nanti jawaban yang diterima menyakitkan apakah tidak boleh?

Bagaimana hari-harimu?
Apakah kau masih saja takut beranjak? Takut mengambil keputusan? Takut melukai orang lain dengan lebih mencintai apa yang ada dalam kepalamu?

Sudahkah kau menemukan dirimu hari ini? Sudahkah berhenti berpura-pura?
Remember boy, you don’t have to be good to the others always. You didn’t born to impress anybody and lost your self.
You born to make your own life, alive.

Well, mungkin kita akan bertemu kalau aku sudah bisa mengambar sekuntum mawar putih untukmu lalu kalau beruntung kita bercerita tanpa prasangka dan harapan dimana pun itu.

3 agustus 2015
*ditulis diatas jakarta yang begitu kau benci tapi entahlah mengapa kau tetap membetahkan diri di sana. Love, just okay not to be okay*

Broken Rhapsody

“Randy akan menikah minggu depan. Undangan khusus untukmu ada dirumah. Pulanglah dan jangan berlari terus Lea.”

Aku membaca sekali lagi pesan teks yang baru dikirim kakakku. Lalu ingatan kemudian mengalir deras, menari-nari dengan irama konstan. Dingin malam ini semakin menjadi-jadi. Tubuhku mulai mengigil perlahan. Dada kiriku agak nyilu hendak meletup. Ah luka itu masih saja begitu jelas. Sayup-sayup terdengar suara lembut Adele mengalun dari music box :

You know how the time flies, only yesterday was the time of our lives-*

Aku mulai mengunyah cheesecake dihadapanku perlahan, menikmati hujan lalu mulai berziarah tentang kemarin.

***

Lelaki itu, Randy, aku mengenalnya separuh dari usia hidupku. Kami teman lama yang akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Lima tahun sepertinya waktu yang cukup untuk mengenal seseorang dengan baik. Semuanya berjalan dengan baik hingga suatu malam, di Maret yang hangat, jalan dihadapan kami mendadak gelap.

“So love, we will discuss about?”

“Aku dipindah tugaskan ke Jogjakarta”

“Hah? Kapan? Kamu gak lagi bercanda bukan?”

“Baru saja tadi.”

“Udah gak bisa dinegoisasi lagi? Ngapain kek, apa kek?” Kudengar suaraku mulai meninggi

“Sudah dicoba selama seminggu ini, tapi tidak ada opsi lain. Perusahaan butuh orang disana.”

“Lalu kita? Penerbit gak mungkin aku tinggalin!”

“Ya gimana lagi. LDR. Jogja – Jakarta cuma 45 menitan kok.”

“Untuk jangka waktu berapa lama?”

Randy mengangkat bahu sambil memejamkan matanya. Keheningan seketika merasuki kami. Desahan napas beratnya sesekali terdengar berlomba dengan bunyi ketukan jariku dimeja.

“Jarak hanya kesementaraan sayang.” Suara baritonnya berhasil memecah kebekuan.

“Percayalah kita akan baik-baik saja.” Ujarnya lagi sambil menggenggam erat jemariku. Mataku mulai berair, tak ada satupun yang bisa aku pikirkan saat itu. Yang kutahu adalah harus menggenggam tangannya begitu erat.

***

Lantas kita berpisah. Sering menghabiskan waktu di malam hari untuk saling bercerita via telepon, tidur menjelang pagi, bangun kesiangan, sering menggerutu ngantuk dikantor, menghabiskan bergelas-gelas kopi untuk membuat segar. Kita candu. Rindu mengalir begitu deras. Lima bulan pertama yang melelahkan. Bayangkan untuk tujuh tahun kebersamaan, kita harus mengalah untuk takdir yang benar-benar diluar kendali kita. Sial. Siapa yang menyangka? Seperti janjimu, tiga minggu sekali kau sering datang mengunjungiku di Jakarta. Akupun pernah berkunjung ke Jogjakarta dua kali.Rasa rindu memang selalu bisa terobati. Benar bahwa jarak adalah kesementaraan. Kita sungguh percaya itu.

***

Enam bulan berlalu. Kita sepertinya baik-baik saja menjalani ini. Ah, tidak kita merasa baik-baik saja. Kita berjumpa banyak orang baru disekeliling, belajar banyak hal baru, melakukan hal-hal diluar kebiasaan. Kesibukan entah tumpah dari mana. Kau sibuk dengan pembukaan cabang baru di daerah Magelang, aku sibuk dengan tuntutan akhir tahun yang menggila. Lalu kita menghentikan kebiasaan tidur larut, menghemat pertemuan, dan memilih beristirahat lebih banyak. Wajar kita lelah. Kita menunggak banyak rindu. Mungkin juga jenuh memuncak dengan semua ketiadaan hadir. Tapi kita tak ingin menyerah pada jarak. Kita masih saja percaya bahwa jarak adalah kesementaraan. Bahwa kenangan itu selalu bisa menggairahkan api cinta yang redup. Kita terus berjuang seperti mengulang bagian tertentu pada sebuah lagu favorit, berharap tak akan pernah lelah bernyanyi.

***

“Aku menemukan seseorang yang lain. Maafkan aku Lea.”

“WHAT???”

“Temukanlah juga seseorang yang lain lalu mulailah melupakan aku.”

“Hah?”

“Jarak terkadang mengubah begitu banyak hal. Maafkan aku.”

“Harusnya,”

Tut …Tut …Tut…

Aku buru-buru mengecek tanggal. Ternyata ini bukan 1 April. Lalu kembali kutekan nomor Randy. Hanya suara operatorlah yang aku dapatkan. Aku berusaha tenang, mengumpulkan semua jiwaku yang berpendar dalam beberapa menit terkahir. Kucubit pipiku keras. Ini bukan mimpi. Lalu dadaku seketika sesak. Aku merasa ingin mati. Basahnya mata tak lagi bisa kuhindari. Entah berapa lama aku begitu hingga hari sudah berubah gelap. Hari minggu yang tak lagi manis. Rumah begitu senyap semua belum kembali dari Bandung. Kuraih dompet dan handphone segera lalu berjalan keluar rumah. Jakarta semakin sesak. Lantas kuputuskan untuk mengembara.

“Mau kemana neng?”

“Kemana saja pak.”

Supir taxi melirik spion dengan raut wajah aneh.

“Jalan-jalan saja pak. Kemanapun bapak suka. Saya pasti bayar.”

Taxi kemudian membelah Jakarta bersama aku dan hati yang patah. Jalan masih saja macet mirip pikiranku. Beruntung supir taxinya tak banyak bicara. Perjalanan kami hanya dimeriahkan suara penyiar radio, bising jalan dan sesekali operator dari perusahan taxi. Aku menyesap udara, mencoba menikmati pengalihan itu.

***

Kulihat seksama foto-foto yang ramai di timeline pagi ini, isinya melulu kamu dan bahagiamu. Kemarin kamu resmi menjadi suaminya, wanita yang berhasil memikatmu di Jogjakarta kala itu. Wajahku kini tak bisa terdefinisi ekspresinya. Wajahmu masih saja sama seperti setahun lalu, saat kau datang menemuiku untuk menegaskan bahwa kamu dan aku tak bisa lagi menjadi kita. Lantas aku memutuskan pergi dan tinggal di Makassar. Setahun berlalu tak kunjung membuatku berani bejumpa lagi denganmu. Aku tak memenuhi undangan pernikahanmu.

Foto-foto yang menarik. Aku tersenyum. Kusesap susu cokelatku hingga tandas, tapi entah mengapa pahit masih saja terasa dilidah. Luka itu masih ada dan butuh waktu serta kemauan besar supaya sembuh. Kepercayaan memang tak pernah cukup untuk sebuah hubungan, setidaknya denganmu. Mungkin nanti, entah kapan, aku akan menjumpai seseorang yang dengannya jarak benar-benar menjadi sebuah kesementaraan. Yang dengannya, aku tahu bahwa segalanya akan terasa cukup. Selalu.

*Penggalan Lirik Someone Like You – Adele