Somebody’s Hero

Everyone is possible for being somebody’s Hero!

DFNpJkcV0AAWhy0

Setiap orang memiliki potensi menjadi pahlawan untuk orang lain. Entah ia seorang pejuang di bidang pendidikan atau militer, seorang ayah atau ibu maupun mereka yang karya-karyanya menginspirasi.
Begitu pun Chester Bennington, vokalis Linkin Park yang baru saja meninggal dunia pada 20 Juli kemarin. Awalnya saya pikir berita itu cuma hoax tapi sayang sekali benar adanya.
Kepergian Chester tentu mengejutkan banyak orang, membawa luka bukan hanya bagi personel Linkin Park tapi juga jutaan penggemar termasuk saya.  Mimpi saya menyaksikan Chester tampil live pupus sudah. Chester hanya sebatas lagu yang pernah ia nyanyikan, poster yang sudah tercetak dan tak ada lagi karya fenomenal di masa depan.
Chester meninggal dengan cara gantung diri. Sebuah cara yang tragis menurut sebagian besar orang tapi mungkin itu cara yang indah buat Chester mengakhiri perjalanannya di dunia ini.
Banyak spekulasi dibalik meninggalnya pria berusia 41 tahun ini. Namun yang banyak dikaitkan adalah depresi karena kepergian sahabat terbaiknya Chris Cornell, yang mati bunuh diri dua bulan yang lalu. Tragisnya Chester meninggal tepat di ulang tahun Cornell dan pola kematiannya pun sama.
Sejak kecil, Chester memang telah akrab dengan depresi. Ia adalah salah satu korban bully oleh teman-temannya saat kecil. Pada usia 11 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Mengalami depresi, ia terjerumus dalam obat-obatan dan alkohol.
Hingga akhirnya, Chester menjadi vokalis Linkin Park dan sukses melejit saat album ‘Hybrid Theory’ rilis. Saya sendiri mulai menggemari lagu-lagu Linkin Park dalam album ‘Meteora’. Kesuksesan terus membayangi band beraliran Rock alternatif tersebut namun Chester masih tetap berjuang untuk mengatasi depresinya. Bahkan di tahun 2009, ia pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Musik Linkin Park buat saya sendiri membantu saya melewati masa-masa sulit. Apa lagi ketika di mata semua orang keputusan saya tampak begitu salah dan mereka selalu mengingatkan ‘Go fighting for your own life’.
Sejak awal musik linkin park kental dengan irama menghentak-hentak namun berpadu indah dengan sentuhan rap dan vokal Chester. Namun semakin bertambahnya tahun, warna musik Linkin Park terus berevolusi. Album barunya, ‘One More Light’ dikritik habis oleh penggemar fanatik karena dinilai semakin ngepop. Mereka menginginkan Linkin Park terus mengusung genre rock. Saya sih suka-suka saja karena ciri khas Linkin Park tetap ada dan tak harus dengan teriak-teriak.
Chester dalam satu kutipan wawancaranya mengatakan album baru mereka itu sangat bagus dan mengajak para haters untuk move on dan tetap mencintai Linkin Park.

Linkin Park Tanpa Chester?
Linkin Park tanpa Chester bukanlah Linkin Park. Bahkan Mike Shinoda dalam cuitannya di twitter, mengatakan kematian Chester adalah akhir dari Linkin Park. Memang Chester adalah jiwa dari Linkin Park dan kalaupun akan ada vokalis baru bisa menggantikan posisi Chester? Of course no. Never.
Kematian Chester tentu mendapatkan respon luar biasa dari pengguna media sosial. Dari mereka ada yang merupakan fans berat dan ada juga yang sekedar ikut-ikutan. Namun kita bisa melihat betapa banyak yang mengidolakan Chester dan karya-karyanya.
Terlepas dari keputusan bodoh yang ia ambil, tak dapat dipungkiri suara dan suara hati Chester dalam beberapa lagu ciptaannya menolong sebagian orang untuk melewati hidup, mengatasi depresinya, melalui patah hati dan terus berlari memperjuangan mimpi walaupun hidup sangat berat.
Chester adalah pahlawan dan inspirasi bagi anak-anaknya, istrinya, personel Linkin Park bahkan mungkin bagi kita semua. Karya-karyanya seperti Shadow of The Day, Breaking The Habbit dan Paper Cut akan selalu melegenda dan kita kini adalah orang-orang beruntung yang pernah menyaksikan karya Chester.
Good bye Chester Bennington and the Shadow of the day, will embrace the world in gray and the sun will set for you.

With Love

#Challenge 26: A Song That I Can Play On An Instrument

Challenge kali ini terasa sangat menusuk hati, karena sesungguhnya tak ada alat musik yang bisa saya mainkan.
Hahahahahahahahahahahahahaha.
Jika sekedar pencet dan gesek sih tentu saja (semua orang) bisa.
Ketidakbisaan itulah yang membuat saya begitu terkagum-kagum pada seseorang yang mahir bermusik.
Bayangkan mereka yang dengan piawainya memainkan salah satu alat musik.
Mereka seolah tersedot dalam kemewahan iramanya lalu memagneti kita juga untuk menikmati.
Alat musik bagi mereka sudah menjadi separuh dari diri mereka, layaknya buku bagi para penikmat kata.

Menjadi penikmat musik merupakan hal yang mengasyikan bagi saya.
Musik memang mempunyai cara sendiri untuk turut mewarnai dunia setiap orang.
Seolah musik memiliki jiwa, terkadang merasuk hingga kekedalaman pikiran, bercampur dengan detak jantung.
Saya gemar mendengarkan musik-musik instrument.
Karya-karya Dave Koz, Mozart dan Vivaldi cukup efektif menguraikan benang kusut yang begitu ruwet menjelang jatuh tempo datangnya DATELINE.

Bagi mereka yang bisa bermain alat musik, ada keuntungan ekstra yang didapati.
Penelitian yang dilakukan Brenda Hanna-Pladdy, Ph.D, dari Emory University School, mengklaim bahwa individu yang mendapatkan pelatihan musik instrumental lebih dari 10 tahun, fungsi otaknya tetap tajam.
Sungguh suatu manfaat yang luar biasa, apalagi bagi orang yang tidak berprofesi sebagai pemusik.

Salah satu pemusik favorit saya. Ganteng plus-plus..

Lelaki memang akan kelihatan lebih keren jika bisa memainkan salah satu alat musik.
Seperti ada pancaran cahaya terang yang menyeruak dari matanya, menjadikan dia yang sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa.
Hihihihihi, Aneh, tapi buat saya sangat nyata.
Memang tak ada momentum yang lebih indah dari seorang lelaki yang dengan piawainya memainkan alat musik, menyandungkan lagu cinta dan memandang anda dengan penuh arti.
Tatapannya seolah berkata lagu cinta ini untukmu wanita cantikku.

#Selamat malam-selamat bermimpi dalam alunan musik dan semoga kamu baik-baik saja ya#

*21 Desember 2012-menanti besok yang tinggal beberap menit lagi*

#Challenge19: A Song from My Favorite Album

Salah satu album favorit saya adalah Ocean Eyes yang dibawakan oleh Owl City.
Sebenarnya Owl City bukanlah gabungan beberapa orang yang membentuk band.
Konsep yang ditawarkan adalah one man band yakni sang vokalis, ‘Adam Young’ merangkap juga sebagai pemain beberapa instrument.
Alat musik yang dimainkan adalah alat musik yang sering digunakan dalam genre musik electropop, synthpop, dan indietronica seperti drum machine dan rompler.
Hebatnya lelaki ini juga memproduseri dan menciptakan beberapa lagu dalam album-albumnya seorang diri juga.

Ocean Eyes dirilis pada Juli 2009 dengan lagu andalan “Fireflies”.
Per 24 Januari 2010, Fireflies mampu menjadi jawara di chart UK Top 40 Singles setelah sebelumnya menjadi jawara ditangga lagu di Amerika.
Semua di dalam album ini menurut saya enak buat di dengar.
Total lagu yang terdapat di dalam album ini adalah 12 lagu.
Berawal dari Cave In, The Bird and the Worm, Hello Seattle, Umbrella Beach, Saltwater Room, Dental Care, Meteor Shower, On the Wing, Fireflies, The Tip of the Iceberg, Vanilla Twilight dan ditutup dengan Tidal Wave.

Salah satu lagu favorit saya dalam album ini adalah Vanilla Twilight.
Hanya kata indah dan romantislah yang tepat mewakili isi keseluruhan lagu.
Lagu ini bercerita tentang seorang yang merindukan kekasihnya dengan rasa rindu yang meluap.

Penggalan lirik yang paling saya sukai adalah:

The silence isn’t so bad, ‘Til I look at my hands and feel sad
‘Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly

Oh, how sweet 🙂
Memang tak ada yang bisa benar-benar menghilangkan rasa rindu selain sebuah perjumpaan.

Salatiga, 28 November 2012- Selamat tertidur pulas dan merindukan. Mungkin perjumpaan di alam mimpi akan membasuh sedikit luka.

#Challenge18: A Song that I Wish I Heard on the Radio

Jika mendengar radio, saya harap beberapa lagu di bawah akan di putarkan.
Ini bukan lagu yang sedang naik daun satau sedang hebohnya membahana dimana-mana sekarang.
Beberapa lagu dibawah adalah lagu jaman dulu. Namun memang keindahannya menembus ruang dan waktu menurut saya :).
Mungkin dalam program tembang-tambang lawas, lagu-lagu ini akan di putar.
Memang sih, di komputer saya sudah punya. Tapi mendengar dari radio memang rasanya sesuatu sekali.
Aura berbeda karena ada kekuatan harapan dan kejutan diselingi indahnya suara penyair.
Semoga ada yang merequest lagu ini, malam ini, di frekuensi mana saja.

* You Are The Universe – Brand New Heavies*

You’re a winner, so do what you came here for
The secret weapon, isn’t secret anymore
You’re a driver, never passenger in life
And when you’re ready, you won’t have to try ’cause

You are the Universe
And there ain’t nothin’ you can’t do
 If you conceive it, you can achieve it
That’s why, I believe in you, yes I do

The Brand New Heavies adalah band asal London Barat yang dibentuk tahun 1985, dengan menganut aliran musik jazz dan funk. Lagu ini dirilis pada tahun 1997 (zaman kelas IV SD- lamaaaaaaa), dan diambil dari album mereka “Shelter” . Lagu ini memang penyemangat luar biasa dikala semua orang memandang kamu dan bilang ” siapa elo??? ┒(‘o’┒)”. Bangkitlah dan yakin. Percaya diri itu memang perlu asal sesuai kadar. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi coba??

* Fly me to the moon – Frank Sinatra*

Fly me to the moon, Let me play among the stars
 Let me see what spring is like, On a Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, baby, kiss me

 Fill my heart with song And let me sing for ever more
 You are all I long for all I worship and adore
In other words, please be true
In other words, I love you

 Fill my heart with song, Let me sing for ever more
 You are all I long for, all I worship and adore

Fly me to the moon diciptakan oleh komposer jazz terkenal asal Iowa, Bart Howard pada tahun 1954. Pertama kali lagu ini dinyanyikan oleh Felicia Sanders dalam suatu pertunjukan kabaret. Lagu ini dibanyak sekali dibawakan oleh beberapa penyanyi terkemuka lainnya seperti Diana Krall, Rod Stewart hingga michael buble. Lagu ini juga di gunakan sebagai soundtrack  beberapa film mancanegara. Saya pribadi suka mendengarkan versi yang dinyanyikan om Frank Sinatra. Penyanyi beraliran Swing ini mempopulerkannya pada tahun 1964, dalam album kolaborasi bersama Count Basie and his orchestra : It Might as Well Be Swing.

Tak ada yang salah dengan lagu lawas,(dalam hal ini lawas banget).
Lagi-lagi berpulang pada selera. Mau dibilang “old fashion” pun terserah.
Yang penting letupan-letupan kebahagian merayapi nadi saya malam ini. 🙂
Semoga saja dua lagu diatas menggema sempurna dari radio dan menjadi pengahantar menjemput mimpi.

Salam hangat dan selamat malam!

*Jangan tidur pagi-pagi lagi yaa#