Hiatus

Kadang sebuah keputusan membuat kamu terlihat bodoh di mata banyak orang. Tapi siapa peduli? Selama itu membuat kamu lebih tenang dan nyaman. Go On! Well, saya sedang berada di posisi itu. Jadi saya paham benar bagaimana rasanya. Orang-orang seakan memiliki kekuatan supranatural untuk mengetahui pikiranmu. Padahal warna bola matamu saja mereka tak tahu.
Saya  mencintai menulis untuk itulah saya memutuskan menjadi jurnalis. Tak semudah yang saya bayangkan pada awalnya. Bahkan saya harus rela bertengkar dengan mama. Dengan gaji seadanya, jam kerja tak menentu, serta minim liburan saya bertahan selama kurang lebih dua tahun.
Dengan idealisme saya mulai menulis, bertekad bisa menyebarkan fakta dan sedikit kegembiraan. Sejalan waktu, saya paham pikiran saya tak sepenuhnya benar. Apalagi memasuki suksesi politik, saya hanya melihat kepentingan. Semuanya legal dengan alasan media juga butuh hidup. Sejak itu, setiap bangun pagi saya bertanya, siapa lagi hari ini yang akan saya sudutkan?
Saya tahu kebenaran harus di bela dan tulisan memiliki kuasa untuk menelanjangi kejahatan lebih dari apapun. Tapi terkadang tak semua yang ada dalam kepala kita itu benar adanya. Pembentukan opini diam-diam dalam kepala itu kejahatan yang tak bisa dimaafkan.

Lalu di suatu hari saya menjadi benar-benar lelah. Saya teringat mereka yang menatap tulisan saya dengan kebencian, mereka yang rambutnya mulai rontok saat melihat koran, mereka yang diam-diam berdoa di tengah malam sambil memasukan tulisan saya ke saku. Saya merasa ngeri.
Saya kemudian memutuskan untuk hiatus. Menikmati hari dengan lebih pelan. Membaca buku lebih banyak. Menulis dan menggambar lebih sering. Jarang berinteraksi dengan media sosial. Makan dan bernapas dengan lebih pelan, menghirup matahari pagi dan berjalan dengan santai.
Saya berhenti kerja tanpa ada pekerjaan baru. Hanya dengan modal tabungan seadanya, saya nekat mengambil keputusan ini. Well, kamu harus cukup gila menghadapi hidup ini.

Memang selama tiga bulan terakhir, saya berjalan tertatih-tatih. Tapi saya masih hidup dan kuat menjalaninya  karena Tuhan Yesus masih sayang sama saya dan akan selalu begitu. BerkatNya selalu baru tiap pagi dan saya percaya. Saya masih mendapatkan kesempatan untuk menulis dan mendaptkan uang tanpa  harus menghakimi orang lain.

Ada orang yang pernah bilang kepada saya begini, “Saya tidak cukup bodoh untuk meninggalkan pekerjaan saya sekarang sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Hidup juga butuh uang”

I told you, “Uang bisa datang dari mana saja dan kamu terlalu bodoh untuk tinggal di dalam pekerjaan yang tidak kamu nikmati”

Dengan Sebuah Pelukan

Hari sabtu  pagi yang lalu , saya sarapan sembari menonton The Penguins of MadagascarTayangan masih menyajikan pokok masalah yang sama, yakni kehidupan keempat pinguin bersama penghuni kebun binatang lainnya. Dalam episode kemarin diceritakan bahwa mereka kedatangan tamu, seekor katak beracun, yang bila tersentuh oleh organisme lain akan menyebabkan kematin. Untuk itulah si katak bertindak sewenang-wenang pada yang lain, karena ia merasa memiliki kemampuan luar biasa. Tentu saja para pinguin dan penghuni lain gerah dan melakukan berbagai cara untuk menghentikan ulah si katak. Namun tak ada yang berhasil. Semua kecerdasan yang biasanya mujarab kali ini seakan menjelma butiran debu.

Lalu ketika semua sudah menyerah, salah satu pingun yang bernama Privat (pingun paling muda) menjadi penyelamat. Ia mengalahkan sang kodok dengan sebuah pelukan. Well, tentu saja ia memakai baju besi karena katak tak bisa menempel disana, Hahaha, Sebenarnya saat  mengalahkan sang katak, Privat bisa saja menyiksa, membuang bahkan membunuhnya (Lha!). Tapi dia tak melakukannya, dia memeluk si katak. Dan sang katak pun merasa terkesima karena saat itu untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya pelukan dari organisme yang tak sejenis.

Well, saya jadi berpikir mungkin itulah yang seseorang kadang butuhkan : Sebuah Pelukan. Pelukan bukan hanya diberikan sebagai penghargaan pada saat seseorang berhasil melakukan hal tertentu, namun juga pada sebuah situasi kesedihan, Percaya atau tidak, sebuah pelukan saat dalam masa-masa itu benar-benar ajaib. Saya kadang merasa lebih baik setelah dipeluk oleh orang-orang terdekat saya.

Dan untuk yang gemar marah-marah tanpa alasan pasti, saya rasa mereka butuh dipeluk dengan tulus. Mungkin mereka kurang pelukan hingga hati menjadi beku kemudian mudah sekali pecah dan  pecahannya berhamburan menusuk sekelilingnya tanpa kira-kira. Jika sedang marah-marah langsung dipeluk aja, biar amarahnya remuk redam dalam hangatnya sebuah ketulusan. Halah! Tapi lihat-lihat situasi juga sih mau meluk-meluk orang, Gak mungkin dong main peluk tunangannya orang yang notabenenya adalah mantan kita, trus besok dia mau nikah di depan calon istrinya pulaa,.. alamak! Self control dear :3

Pelukan memang hal sederhana namun punya efek luar biasa jika kita lakoni dengan tulus. Sudahkah kamu memeluk mereka yang ada disekelilingmu hari ini? Saya dan ponakan saya pelukan minimal harus sekali sehari sih.

Lalu bagaimana jika kita sangat ingin memeluk seseorang tapi dia berada jutaan kilometer dari sisi kita? Atau kita merasa tak punya kemampuan untuk sekedar merentangkan tangan padanya padahal jarak hanya nol kilometer? Doakanlah dia dengan tulus. Kalo saya sih percaya, Tuhan akan mengirimkan malaikat untuk memeluknya menggantikan kita. Memang benar kata mama saya, bahwa sejauh apapun kita terpisah dengan seseorang, doalah akan menjadi ruang temu abadi.

Bandung, 28 Juli 2013 – Sakaleng Latte & Green tea Cheese Brownies sedang memeluk saya