Relationship Go Public!

photo-1465711403138-162e171bb7e4

Di zaman yang serba cepat ini, kehidupan pribadi sebagian besar orang tak lagi menjadi rahasia. Media sosial menjadi tempat mengungkapkan apa saja sementara dilakukan, sedang berada dimana dan banyak informasi pribadi termasuk hubungan percintaan.

Kita tak perlu lagi penasaran mengenai bentuk fisik pasangan teman kita, bahkan bagaimana mereka bertemu, tanggal jadian, hingga cerita-cerita dalam hubungan romansa tersebut bisa kita ketahui. Tanpa perlu memaksa teman kita bercerita, informasi tersebut akan mereka bagikan secara rinci di akun media sosial mereka.

And it’s okay! Their Choice.

Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih membagikan informasi mengenai hubungan pribadi mereka di media sosial, misalya:

1). Ingin mendapat pengakuan.
Dalam pola pikir masyarakat milenial, ketika kamu punya pasangan hidupmu menjadi lebih baik daripada mereka yang tidak. Apalagi bila kamu berani mempublikasikannya ke media sosial, tentu akan ada banyak pujian dan pertanyaan-pertanyaan yang buat kamu senyam-senyum sendiri. Tjiiieee.

2). Pembuktian rasa Sayang.
Ini nih yang sering jadi tuntutan banyak cewek sama pacarnya. “Oh jadi kamu malu nunjukin ke teman-teman facebook kamu kalau kita pacaran?” atau “Oh, masih takut mantan pacarnya baper?” “Buktiin dong kalau kamu sayang sama aku!!” dan seterusnya sampai buah semangka berdaun sirih. Yawlah

3). Ikut Tren
Tau Awkarin kan? Jadi gaya pacaran Awkarin sama mantan pacarnya Gaga, yang walaupun banyak dicaci maki mereka yang kuper, menjadi Relationship Goal buat pasangan lain loh.
Videoin pacarnya yang baru bangun tidur, fotoin dia pas nyukur kumis, bahkan lagi ngupil pun di foto trus langsung diposting. Biar diangggap menerima segala kelebihan dan kekurangan kamu. Bahkan mereka yang dulu mencaci maki Awkarin bahkan kini instastory nya dipenuhi foto pasangan lagi tidur, keringatan karena ngegym atau screen capture percakapan yang romantis.

Membangun Opini 

photo-1507886331062-46436eea0317Ketika kita memutuskan untuk membagikan informasi pribadi ke media sosial, orang-orang akan membangun opini tentang kita berdasarkan hal tersebut.

Contohnya begini, waktu itu Pilkada Jakarta sementara berlangsung. Salah satu teman facebook saya, tiba-tiba menulis status tentang pilkada. Wah pokoknya pendapatnya keren. Tentu dong banyak yang memuji. Saya sendiri awalnya agak heran karena teman yang satu ini sepengetahuan saya bukanlah sosok pemikir.

Bukannya anggap remeh ya tapi takjub juga. HAHA. Statusnya tuh saya baca beberapa kali and taraaaaa!!! Itu adalah penggalan paragraf dalam tulisan Denny Siregar yang saya baca beberapa hari sebelumnya. Saya pengen muntah tapi gak jadi trus langsung kirim kometar ke status teman saya “Kok pikiranmu mirip Denny Siregar?” Trus dibalas “Ah kamu bisa aja!” ———— Menurut NGANA———–

Teman saya ini berhasil membangun opini publik bahwa ia adalah orang yang cerdas, tak peduli dia menggunakan buah pikir orang lain atau tidak. Seringkali kita juga menilai orang lain atas apa terlihat di dunia maya hingga mengabaikan keberadaan di dunia nyata.

Sama halnya juga ketika kita memberikan informasi baik melalui gambar maupun tulisan maka akan turut membangun citra kita di mata orang lain. Pasangan yang selalu memunggah foto mesra bersama pasangannya di media sosial tentu akan membuat orang lain iri.

Namun belum tentu mereka baik-baik saja di dunia nyata. Bisa saja salah satu di antara mereka adalah korban perselingkuhan yang ingin membangun opini publik bahwa mereka baik-baik saja.

Keep Private and Be Happy
Tak semua orang ingin jalinan asmaranya menjadi konsumsi publik termasuk saya. Dulu sih ia pernah sekali dua kali pas zaman kuliah. Tapi sekarang kok lucu jadi nganu banget.Well, saya sih bukannya tidak bahagia atau takut dimarahi atau bla bla bla.

Kadang besar godaan sebagai perempuan, mau pamer gitu supaya para netijen paham kalo “Aku juga bisa loh punya pacar” atau “Mantan, aku udah move on loh!”.

Tapi balik lagi ke komitmen sama pasangan kamu di awal membina hubungan. Apakah membagikan jalinan asmara di media sosial adalah sebuah keharusan dan bukti rasa sayang?

Kalau tidak, keep it private and you’ll be happy tanpa sering-sering cek jumlah like atau siapa saja yang kasi komentar. Orang mah kadang suka kometar bagus padahal sering dijadiin bahan omonga pas di belakang kita.

Kalian gak akan mati kalo gak pamer kemesraan di media sosial. Biar orang-orang tertentu aja yang tau. Kita masih bisa gandengan tangan ke mana-mana, pergi makan, menikmati cerita tanpa peduli dengan gawai dan sibuk ambil foto dengan pose terkini lalu mengunggahnya dibubuhi kata-kata copas dari internet. Yang masih kepo dan penasaran sih ke laut aja.

Advertisements

FIX ME

When you’re too in love to let it go – Fix You (Coldplay)

Dalam hidup, setidaknya sekali saja kita akan bertemu seseorang yang membuat kita selalu terbakar gairah dan semuanya terasa begitu cukup. Namun jika sedang sial, pada satu titik nantinya kita tak bisa lagi berjalan beriringan dengannya dan harus melihat punggungnya menjauh dan hanya meninggalkan segudang luka.

Ah, sungguh. Tak ada orang yang benar-benar siap di tinggalkan dan patah hati.

Orang-orang sering berkoar-koar tentang move on dengan kata-kata yang katanya bijak, kutip motivator sana, kutip juga yang disini biar terlihat keren.

Whatever sih. Ya mungkin kalo lagi khilaf, orang-orang yang sedang patah hati akan langsung respon sama kata-kata bijak itu. Dude, i tell you. kalau orang emosinya sedang labil gitu, jangan harap ada pertimbangan rasional disana.
Saya mah, cuek bebek kalo lagi patah hati trus sok dinasihati bijak. Cih, yang nasehatin malaikat apa setan?

Perkara move on itu gak mudah jendral!

Beberapa bulan lalu ada yang datang dalam hidup saya, menciptakan gelombang di dada, lantas pergi tanpa penjelasan apapun. Booom. Gila men, I fell like lost my half soul. It’s not too much. It’s just like that. Padahal sama-sama dia gak lama juga.

Tapi gimana ya, saya mengalami masa-masa transisi diisi rindu yang akut. Saya ingat, pernah pergi dan memesan secangkir kopi rarobang. Setelah satu jam, kopi itu akhirnya saya minum sedikit saja dan sisanya saya gunakan untuk gambar seakan ingin mengalami suasana yang lalu.

Hal-hal berubah dengan cepat. Sekarang tak ada dia dan cerita mengenai sejarah-sejarah rumit itu. Damn.

Lalu saya tahu, kuantitas rasa itu bukan soal berapa lama kamu bersama seseorang dan banyaknya kenangan yang kalian punya tetapi bagaimana di waktu yang singkat itu kamu bisa merasakan dirimu begitu penuh.

He makes me full already. – but i lost him and it feels like falling to pieces. I’m too panic to imagine my day without him! But well, time after time i’ll be fine I know for sure, I’m not okay today. May be tomorrow or next month or next year to got a half of me again.

But at least, I’m alive.

Hidup memang gak selamanya berjalan sesuai yang kamu ingini. Ada saatnya kamu akan merasa begitu sakit ketika kehilangan sesuatu yang menurutmu tak ada gantinya.

Yang bisa mengobatinya, bukan waktu, bukan juga orang lain, tapi kamu. IYA KAMU sendiri. Semua orang, punya kemampuan alami untuk recovery dirinya sendiri. Cepat atau lambat, semua hati yang luka akan kembali baik-baik saja.

Lights will guide you home, And ignite your bones. And you Should try to fix your own self. You’ll be fine

Sebuah Kemungkinan

Dear you,
Masihkah hujan membasahi langitmu sekarang? Aku menulis ini saat matahari sudah mulai bersembunyi dibalik awan, mungkin sebentar lagi hujan tapi semoga saja tidak.

Love,
Jika dipikir-pikir, maka tak akan ada habisnya. Bagaimana takdir memperlakukan kita bagai ombak, memukul kita kian kemari menuju pantai-pantai asing dan pada akhirnya mempertemukan kita dalam kekinian. Berapa lama kita saling mengetahui? Tujuh tahun bagiku, delapan tahun bagimu. Ah, waktu yang begitu panjang. Lalu baru saja setahun belakangan saling membuka diri.

Kadang kau sering menggerutu, mengapa kau tidak datang padaku sedari dulu saja? Mengapa harus ada jeda delapan tahun hanya untuk mengumpulkan keberanian?

Love, semua waktu adalah tepat. Mungkin ketika kita dipertemukan lebih dini tak ada aku dan kamu yang seperti sekarang, tak ada kamu dan aku yang entah punya kekuatan darimana mampu menerobos sekat-sekat paling tak masuk akal. Jadi kini adalah waktu kita, terserah orang mau menilai apa. Who cares?

Aku tahu, ini tidak akan pernah mudah. Sejak hari dimana aku memutuskan untuk menjatuhkan hatiku padamu, aku sudah tahu kepalaku akan berpikir lebih banyak. It’s okay. Ini lagi-lagi bukan soal jarak, atau soal janji-janji atau soal keberadaan. Ini soal dua kepala yang mempunyai isi benar-benar berbeda.

Pada satu titik, karena dikuasai perasaan emosi, aku sering lupa bahwa kita benar-benar berbeda. Ada hal-hal dalam kepala yang bahkan tak bisa kita kompromikan untuk jadi satu dan kita sudah sepakat bahwa dalam hubungan satu tambah satu tak selamanya harus jadi satu tapi tetap saja dua. Jangan lelah untuk mengingatkan kalau aku lupa. Yang bisa kita lakukan selanjutnya hanyalah sama-sama belajar untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bisa saling memahami.

Aku, juga kamu, mungkin akan menjadi kaget dengan begitu banyak hal yang pelan-pelan kita buka dan akan kita buka lagi terlebih sisi-sisi buruk yang mulai terkuak. Kaget tidaklah mengapa asal jangan panik lalu cepat-cepat memilih pergi. Bukankah pemahaman itu butuh proses?

Kita adalah sebuah kemungkinan sayang, yang tak tahu akan berakhir seperti apa. Aku tidak bisa berjanji apa-apa hingga kini selain jika hari ini kita masih ada, aku akan menggengam jemarimu dan hidup sepenuh-penuhnya. Kita tak akan tahu kemana takdir akan membawa kita. Tapi jangan pernah lupa kita adalah satu-satunya penentu takdir kita sendiri.

Maka marilah kita saling menopang meski jarak memisahkan raga ribuan kilometer dan menguatkan hati untuk berani memperjuangkan setiap kemungkinan.

Love,

Totally Yours!

Rahasia Dalam Kepala

Begitu banyak hal dalam dunia ini yang membuat kita gemetar ketika hendak melakukannya. Salah satunya adalah mengatakan hal yang selama ini kita pendam dalam kepala. Ada begitu banyak cara untuk mengungkapkan misal lewat sebuah metafor, kata-kata yang jelas dan langsung atau yang paling beken, tunjukkan. Saya sih biasanya langsung bilang, gak pake metafor atau tunjukkan. Karena gak semua orang diciptakan dengan kemampuan bisa nangkep kode kak.

Kita kadang terlalu takut untuk mengatakan hal yang kita simpan sendiri selama ini  karena takut akan menerima respon yang tak sesuai dengan keinginan. Kata orang waktu kita bilang suka ke orang, biasanya kita harap orang tersebut akan bilang hal yang sama. Tapi tidak semua orang yang bilang suka ke orang lain memiliki harapan bahwa orang tersebut akan balik menyukai mereka. Mereka cuma ingin mengatakannya karena harus, sebelum mereka meledak jika terlalu lama memendam sendiri. Urusan respon balik positif atau negatif itu soal kemudian. Yang penting bilang dulu, biar plong. Bukankah kecewa dan senang adalah konsekuensi ikutan yang pasti dari sebuah keberanian menyatakan? Lalu kenapa harus takut? Thinking too much? *nyruput bir*

Jadi gimana ketika kamu jatuh cinta dengan seseorang yang tidak seharusnya? Saya sering bingung apasih ukuran orang yang pantas dan harus untuk disukai itu? Apakah dia tidak boleh seorang berandal, tidak boleh seorang yang tak mapan, atau sahabat kita atau dia tidak boleh pacar orang lain? Gitu? Man, ketika lu jatuh cinta sama orang lain (yang katanya tak seharusnya), LU BISA APA? Pura-pura bego gitu? Atau pura-pura mati aja? Gue sih lebih milih menghargai perasaan sendiri, sebelum akhirnya nyesal nanti-nanti. Norma yang hidup selalu bisa membatasi ruang gerak seseorang untuk berekspresi termasuk dengan perasaannya sendiri. Gila kan? Hell yeah, itu namanya idup kak.

Jatuh cinta adalah proses dimana lu menggebu-gebu ketika bercakap-cakap dengan si dia, atau kalau ndak kontak sehari aja dengan dia lu rasanya pengen ngunyah baygon mat atau lempar dia pake batu aja. Tapi jatuh cinta tak selamanya berakhir dengan menyayangi atau mencintai. Mencintai adalah proses panjang sekali dan ketika bersama dia kamu sudah bisa bersikap tenang dan dengan santai menunjukan segala isi kepalamu tanpa jaim. Dan biasanya pembicaraan sampai jam 3 pagi tentang hal-hal berat terasa begitu ringan. Bahkan kalau dia gak ngehubungin kamu dua belas tahun pun kamu tau dia adalah untuk kamu, HAHA. AADC banget. Jelas dua hal yang beda , dalam pemahaman saya sih gitu. Gak tau kalo mas Dhani.

Sayangnya beberapa orang yang selalu suka menerjemahkan jatuh cinta adalah sama dengan mencintai. Jadi ketika kita bilang kita jatuh cinta sama mereka berarti kita akan berakhir dengan mencintai mereka. Lalu mereka marah-marah dan bilang kita suka PHP kalo gak lagi menghubungi mereka. LAH LAH LAH. Mereka bilang kita berubah, padahal kita bukan power ranger biru 😦 .  Lebih dashyat lagi ketika bilang jatuh hati dan mencintai mereka artinya kita harus hidup bersama dengan mereka selamanya. Oh c’mon, wake up. Hidup kan bukan cuma soal urusan cinta maz, apalagi soal hidup bersama selama-lamanya. Hidup adalah soal bergerak maju sejauh yang kita mampu, bersama atau tidak dengan mereka yang kita cintai.

Dalam hidup, kita mungkin akan jatuh cinta dengan banyak orang. Tapi hanya orang-orang tertentu aja yang bikin kita berhenti dan bilang, Hei you, I love you. Ketika kita mencintai seseorang pun bisa terjadi kita jatuh cinta dengan yang lain. Keberlangsungannya tak ada yang tahu. Perasaan itu hal paling bebas yang pernah ada didunia ini.

Pagi ini saya bangun dengan kepala yang begitu ringan, dan merenung begitu lama dan sadar masih mencintai lelaki yang sama dengan setahun lalu, sesering apapun saya jatuh cinta dengan orang lain.  Lelaki yang ketika saya begitu takut melangkah ke dalam suatu hal baru, dia akan tertawa dan bilang ‘untuk sebuah langkah berani gemetar adalah teman’ lalu keberanian saya dengan ajaib penuh kembali. Kampreett kan?.

Jadi berapa banyak rahasia dalam kepalamu sekarang dan belum berani kamu ungkapkan? Masih menunggu waktu yang tepat? Masih mengumpul keberanian? Pilihan selalu ada di tangan kamu mau mengungkapkan atau tidak. Setiap orang selalu punya rahasia sendiri-sendiri and it’s fine to keep it forever.