Single Fighter

Dear people!

Surat ini ditujukan teruntuk mereka …

Para ibu tunggal yang sedang berjuang mengejar waktu yang berlari. Yang dengan rela menunggalkan kenyamanan selimut dan menyambut uap panas dapur saat bintang timur masih bertengger. Yang rela membuang Dolce Gabana dan martini demi membacakan dongeng dan mengecup putra-putri mereka sebelum menjemput mimpi.

Para ayah yang kini berjuang seorang diri mengasuh buah hatinya, secara tidak disengaja atau sangat disengajakan. Yang mengorbankan sebagian egonya sebagai lelaki, menghadirkan aura feminitas di balik otot tangan yang legam tebakar matahari.

Para anak yang ditinggalkan dengan atau tanpa belas kasih. Yang menghabiskan malam-malamnya menangis disudut-sudut kamar mandi. Yang berjuang tanpa kenal lelah untuk tetap bisa tidur lelap tanpa mimpi buruk.

Para pencinta yang ditinggalkan, dikhianati, diacuhkan. Para pencerita yang dicemooh dan dipandang sebelah mata.
Para pejuang yang berkali-kali gagal, ditertawakan, serta direndahkan.

Orang-orang yang sudah lama tak lagi merasakan angin keadilan dan dibasahi dengan kejujuran. Yang melewati hari-hari sendu meraka dengan mengutuki malam dengan dinding yang dingin.

Dan teruntuk siapapun, siapa saja, dimanapun berada, lalu sedang berjuang dalam kesendirian mereka!

Ketahuliah, sesungguhnya tiada perjuangan dan usaha yang sia-sia dibawah langit ini. Setiap keringat, air mata, kesunyian dan pengorbanan akan ada harganya.
Kita semua memang sedang berlomba dan masih terus berlomba hingga menemukan titik berhenti.

Karena selalu ada pagi setelah malam datang, selalu ada hujan setelah kemarau panjang bertahta.
Mengutip kata-kata ibuku : “Jangan pernah marah dan kecewa atas kehidupan ini. Karena itulah arti kehidupan sesungguhnya. TETAPLAH BERJUANG. ”

Jangan pernah berhenti berharap dan berbahagialah-
Bahagia itu sesunggunya sangat sangat sederhana! Ciptakan dan tersenyumlah.

*Terkhusus untuk ibu yang berjarak ratus kilometer dari sisiku. Yang berjuang melawan malam-malam sendirinya selama hampir tiga tahun ini. Terimakasih untuk setiap kepercayaan, cinta, rindu, doa, transferan dan dorongan semangat yang selalu tak pernah padam disetiap kata-katanya. Aku mencintaimu IBU – mencintaimu tiada berjeda. *

with love- seseorang yang masih tetap berjuang-

Advertisements

Before Ring

Infinity Ring - Need now.
Sayang,
Tadi pagi matahari bersinar begitu indah. Aku pergi ke taman bermain di sudut kota.
Anak-anak tertawa riang dan suasana begitu ramai. Namun aku mendapati diriku terserang kesunyian tingkat akut.
Tak ada lelaki yang menawarkanku arum manis seperti biasa.  Tak ada yang mengerutkan kening saat aku tertawa nyaring.
Tak ada tangan yang merangkul mesra pundakku. Tidak ada kamu disisiku sayang.

Matahari terasa tak lagi bersahaja.
Aku rasa sudah tiba waktunya untuk kita duduk bersama tanpa ada lagi saling membuang muka.
Setelah sekian hari kita lewati dengan pertengkaran konyol mengenai warna pastel atau putih gading, puding cokelat atau rainbow cake lalu warna tuksedomu.
Sungguh, aku merasa semua pertengkaran yang terjadi ini sangat konyol.
Aku minta maaf untuk sikap ku yang terlalu berlebihan.

I got panic attack babe!  I’m freaking out about those things ! I’m so so sorry!

Lelakiku,,,
Aku yakin kita melewati beberapa hari kedepan dan puluhan tahun setelah hari-hari itu.
Ya, Kita! Bukan Kamu atau lagi Aku.
Kita yang akan terus berpegangan tangan hingga malam dan siang bertukar tempat.
Kita adalah yang aku mimpikan di hari senjaku.

Kutunggu kau hadir malam ini di tempat dimana cupid dan andromeda pertama kali berdansa.
Aku merindukan KITA.

P.S: Thank you for the red roses and creamy soup in my front door in the morning. I Love You 

80+2 Lembar

Correct no correct no :(
Correct no correct no 😦

Kepada  delapan puluh dua lembar kertas yang aku tekuni sebulan terakhir!

Sebut aku gila karena mengirimu surat.
Aku tak bisa lagi peduli kali ini karena rasionalitasku sudah kau bunuh dengan rasa bersalah terhadapmu.
Rasa bersalah untuk apa?? Jangan coba lagi kau tertawa.
Aku bukan manusia super, tapi pengakuan kelemahan tak pernah cukup kata mereka.
Aku berharap oksigen memutasi melatonin menjadi senyawa yang bisa membuatku bersemangat saat menatapmu.

Aku minta maaf karena mungkin belum mengerahkan hidupku sepenuhnya kepadamu.
Aku mencintaimu, kau tahu itu.
Tapi memang benar cinta saja tak pernah cukup.
Dalam kasus ini aku butuh ketekunan, imajinasi, semangat dan kacamata baru.
Jika semua itu telah terpenuhi, adakah kau menawariku sekotak Norepinephrine?

Pagi ini aku telah melupakan uang kembalian, minum dua gelas teh dan mencoret-coret tanganku dengan spidol merah.
Masih tersisa satu kantong daun teh yang ingin sekali aku lahap sebagai menu makan siang.
Namun pada kenyataanya aku mendapati diriku dengan semangkuk ice cream vanila.
Itu berarti aku masih berpijak dibumi ini!

Delapan puluh plus dua,
Aku ingin hari-hariku kembali dengan normal.
Aku ingin bangun menikmati segelas teh dan semangkuk oatmel ditaburi parutan cinnamon.
Tidur tanpa mimpi-mimpi mengerikan yang membangunkan di jam-jam aku tak pernah kehendaki.
Inginku semuanya tetap normal dengan kehadiranmu.

Aku janji akan segera menyempurnakanmu.
Sesegera mungkin yang kubisa!
Aku rindu akan aroma pagi yang bercampur semangat sempurna.

Aku ingin diriku hidup lagi delapan puluh dua lembarku!
Hidupkanlah aku lagi dengan kata-katamu 😀

Hujan Untukmu!

Catch My Rain Love
Catch My Rain Love (pics from teardroplies.wordpress.com)

Surat ini kutitipkan bersama kaki-kaki hujan yang membasahi halaman hijaumu.
Mengapa hujan?
Karena dalam nuansa basah itu  selalu kuselipkan rindu ku yang tak kunjung kering

Tak perlu kau tanyakan mengapa aku selalu punya cukup rindu padamu
Itu pertanyaan yang tak bisa kutemui jawabannya
Mirip jika aku bertanya apakah kau tidak bisa berhenti merokok?
Kau selalu saja tersenyum pahit.

Aku  merindukan hadirmu lagi disisiku!
Aku tahu kau selalu tak mudah mengatakan rindu apalagi cinta
Dan walaupun jarak sudah membantai sedemikian rupa, kau tetap saja kau.
Tapi nada dan tindakanmu tak akan pernah bisa bohong.
Pstttt! Jangan berdebat kali ini sayang
Diamlah! Pejamkan mata dan tersenyum.
Nikmatilah kaki hujan yang tumpah ruah.
Sesapi rinduku dalam-dalam disela-sela hujan yang ku kirim padamu.

Hujan itu akan membasuh separuh kemarau dihatimu, Ya, separuh saja.
Separuh lagi akan segera terhapus jika kita sudah berjumpa.
Kau selalu tahu tak ada yang paling manjur mengahapus rindu selain sebuah pertemuaan bukan?

Dari : Perempuan yang selalu menunggu mu untuk memadamkan kesahnya di kota ini.

-Yogyakarta tanggal tujuh bulan kedua tahun ular air-