Perlu Gak Sih Nabung Saham?

Logo Yuk Nabung Saham

Beberapa tahun terakhir, Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin gencar mempromsikan gerakan investasi saham, melalui ‘Yuk, Nabung Saham’. Gerakan ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk berinvestasi di pasar modal.
Well, buat saya yang backgroundnya bukan jurusan ekonomi, selalu berpikir bahwa nabung saham adalah kegiatannya para orang berduit banyak. Buat sobat miskin kaya saya bisa apa???
Tapi, tahun lalu, saya dapat kerjaan untuk nulis konten tentang saham. Nah, dari situ mulai mengubah cara berpikir tentang saham. Setelah nyari-nyari informasi, akhirnya saya ikut kelas pasar modal yang diadain Bursa Efek Indonesia cabang Ambon.

Apa Sih Saham Itu?
Kalau menurut BEI, Saham adalah salah satu tanda penyertaan modal dalam suatu perusahaan. Jadi, kalau kita punya sebagian saham perusahaan tertentu, kita adalah salah satu pemilik perusahaan itu.
Ibaratnya, bila saham perusahaan itu diandaikan dengan sebuah buku. Nah, semua masyarakat berhak membeli setiap halaman dalam buku tersebut. Kamu bisa beli berapapun halaman buku yang diinginkan, yang penting memiliki modal dan masih tersedia.

Ikut Kelas Pasar Modal

Kelas Pasar Modal Ambon
Suasana Kelas Pasar Modal, Ambon, ketika Mas Haris, Perwakilan RHB Sekuritas Memberi Materi (Foto Oleh IDX Ambon)


Buat orang yang masih awam dengan saham, saya pikir sebaiknya saya ikut kelas atau kursus. Memang, internet dan buku menyediakan banyak informasi berguna. Tapi kalau belajar dasar-dasarnya ke yang ahli bisa dilakukan, kenapa tidak?
Banyak kelas online yang tersedia dari beberapa pakar investasi saham, misalnya dari Ellen May. Tapi suatu ketika, saya lewat di depan kantor BEI, dan disana ada spanduk tentang kelas pasar modal.
Oh, ternyata ada, saya pikir hanya di Jakarta saja selama ini. Hehehe. Saya pun langsung daftar dan biaya pendaftaran Rp100.000. Biaya tersebut akan digunakan untuk membukakan rekening sekuritas.
FYI, kalau mau berinvestasi saham di pasar modal, kita harus punya rekening sekuritas.  Rekening ini sangat berbeda dengan rekening bank biasanya, karena memang ditujukkan untuk bertransaksi saham.
Biasanya, beberapa bank di Indonesia juga punya rekening sekuritas misalnya di bank Mandiri atau BNI. Kamu juga bisa membuka rekening sekuritas di perusahaan sekuritas. Sementara BEI disini posisinya adalah pengelola pasar modal.
Di Ambon , baru ada dua  perusahan sekuritas yakni RHB Sekuritas dan Philip Sekuritas. Dua-duanya adalah perusahaan Asing yang sudah cukup lama beroperasi di Indonesia. Kalau BEI Cabang Ambon, langsung bekerja sama dengan RHB Sekuritas. Jadi, kita yang ikut kelas pasar modal, langsung otomatis buka rekening dan jadi nasabah RHB.

Apa Sih yang Didapat?

Paparan Materi dari Perwakilan dari BEI
Paparan Materi dari Perwakilan dari BEI, Mas Alberto (Foto: IDX Ambon)

Tentu saja, yang kita dapat dari kelas ini adalah pengetahuan mengenai pasar modal, dan investasi saham. Pematerinya ada dua, satu dari BEI dan satu lagi dari RHB. Seru kok karena saya jadi belajar sesuatu yang baru!
Nah, nantinya setelah kita ikut kelas pasar modal, RHB juga akan menyediakan kelas trading, yang akan membantu kita melakukan transaksi jual beli saham nantinya.
Sayangnya, peminatnya masih jauh dari maksimal. Kelas yang saya ikuti, cuma berisi 6 orang. Memang sih ada peserta yang udah duluan, tapi tetap aja jauh dibanding masyarakat Jakarta yang bahkan untuk ikut kelas pasar modal harus masuk daftar antri.

Perlu Gak Sih Nabung Saham?

Menabung Saham
Perlu Dong! Banget. Alasan utamanya, karena untungnya yang menggiurkan, yakni 11,59 persen. Sementara untuk emas untungnya bisa mencapai 7,6 persen dan deposito itu sekitar 6 persen.
Tapi, harus diingat karena saham itu fluktuatif sekali, maka resiko kerugian juga besar. Yah, semua investasi tentu harus ada resikonya. Satu kunci suksesnya yaitu terus belajar, teliti dan jangan lupa investasi.
Buat yang di Ambon, kalian bisa langsung datang ke kantornya di Jalan Philip Latumahina No 16 (Samping kantor Garuda). Yuk, nabung saham untuk masa depan yang lebih baik.

Advertisements

3 Film Romantis dari Netflix Buat Akhir Pekan Ini

Akhir pekan datang lagi! Bagi yang tak ada agenda jalan-jalan atau kegiatan lainnya, menghabiskan waktu dengan nonton film di rumah bisa menjadi pilihan. Film yang saya rekomendasikan kali ini masuk genre komedi romantis. Jadi siap-siap ketawa dan senyum-senyum sendiri. Selamat menikmati akhir pekan ya.

1. To All the Boys I’ve Loved Before

To All the Boys I've Loved Before
Sumber : The Roar

Kalau lihat posternya pasti sudah tertebak dong, flim ini pasti berkaitan dengan surat cinta. Film ini mengisahkan tentang gadis keturunan Korea Amerika, Lara Jean (Lana Condor), yang menulis surat kepada setiap pria yang membuatnya jatuh hati. Namun, surat-surat tersebut tak dikirim dan disimpan dalam kotak pribadi yang diberikan mendiang ibunya.
Entah bagaimana surat itu bisa tersebar dan jadi masalah karena salah satu penerima surat tersebut adalah sahabat baiknya, Josh, yang juga berstatus sebagai pacar kakaknya.
Kebayang dong, bingungnya Lara Jane. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjalin hubungan palsu dengan Peter (Noah Centineo), yang juga salah satu penerima suratnya. Sepanjang menyaksikan film ini, saya senyum-senyum sendiri dong karena banyak jokes dan kejadian lucu.
Kalau untuk adegan romantis, khas anak remaja Amerika tapi bagus karena tak terlalu banyak adegan vulgar. Buku ini diangkat dari novel berjudul sama yang dikarang oleh Jenny Han. Ternyata novel ini trilogy loh jadi ku penasaran cari bukunya! (3,5 dari 5 untuk film ini).

2. Kissing Both

Kissing Both
Sumber Gambar: Walmart

Film ini merupakan film komedi romantis unggulan Netflix lainnya yang dirilis tahun ini, yang juga merupakan film adaptasi dari novel karangan, Beth Reekles. Saya tertarik nonton film ini karena Joey King yang memerankan Elle Evans. Gosh, I love her since Ramona and Beezus.
Kissing Both bercerita soal pertemanan antara Elle dan Lee Flyn (Joel Courtney). Karena ibu keduanya berteman, mereka pun otomatis menjadi teman akrab sejak kecil. Sayangnya, Elle melanggar salah satu aturan pertemanan mereka yaitu tak boleh saling berpacaran dengan keluarga dekat keduanya.
Tak ingin kehilangan Lee dan juga kekasihnya, Noah, (kakak Lee), Elle kemudian menyembunyikan hubungan cintanya. Hubungan Elle dan Noah ini ya sweet abis tapi ku lebih suka liat Elle waktu ada bareng Lee. Haha.
Well, film ini banyak adegan yang vulgar kalau di banding dengan To All The Boys I’ve Love Before. Jadi harus ditonton oleh remaja yang sudah berumur 17 plus. (3 dari 5 bintang untuk film ini).

 

3. Set It Up

Set It Up
Sumber gambar: Netflix


Bagi para pekerja kantoran yang sering disuruh kerja lembur sama bosnya, harus banget nonton ini. Adalah dua orang sekretaris, Harper (Zoey Deutch) dan Charlie (Glen Powell) yang memiliki bos super druper workaholic.
Keduanya sampe tak punya waktu untuk menjalani kehidupan pribadi saking sibuknya di kantor. Karena berkantor di gedung yang sama, suatu saat mereka ketemu. Muncullah ide menjodohkan bosnya masing-masing yang sedang singel.
Pokoknya film ini lucu dan seru abis. Serulah buat ditonton. Meski sudah masuk kategori dewasa, gak banyak kok adegan vulgarnya. Ada Lucy Liu loh yang jadi bosnya Harper. Kebayang kak gimana ngeselinnya. (4 dari 5 bintang buat Set It Up).

Pilih Lady Bird atau The Edge Of Seventen?

Lady Bird dan The Edge of Seventeen
Poster Film Lady Bird dan The Edge of Seventeen

Jika diminta memilih antara Lady Bird atau The Edge of Seventeen, pasti sebagian besar memilih Lady Bird. Alasannya tak lain karena film keluaran November 2017, menuai banyak pujian dari kritikus film.
Media ternama Amerika, New York Times menyebut Lady Bird sebagai “Kesempurnaan di Layar Lebar”. Bahkan kalau kita mengecek Rotten Tomatoes, film ini mendapat review terbaik sepanjang masa, yakni 99 persen tanggapan baik.
Setelah diputar, Lady Bird mendapat 148 nominasi dalam 34 ajang penganugerahan film, termasuk memenangkan best perfomence actrees (Saoirse Ronan) dan best motion picture di Golden Globe Award 2018.
Lady Bird sendiri menceritakan tentang kehidupan Christine McPherson (Saoirse ), seorang anak SMA yang tinggal di Sacramento. Ia memiliki hubungan yang renggang dengan sang
Berlatar belakang Sacramento, California, film tersebut mengisahkan Christine “Lady Bird” McPherson (Saoirse Ronan), seorang garis SMA, dan hubungan renggangnya dengan ibunya (Laurie Metcalf) yang memiliki sikap keras.
Seperti remaja kebanyakan, Christine memiliki sifat ingin tahu yang besar dan sedang dalam perjuangan mencari jati diri. Inilah yang menyebabkan konflik dengan ibu serta sahabat baiknya, Julie.
Kisah yang sama sebelumnya telah diangkat menjadi tema besar di dalam ‘The Edge of Seventen’ yang rilis satu tahun lebih awal, di 2016. Hubungan renggang antara sang ibu dan teman baiknya, membuat Nadine Franklin (Hailee Stanfield) mengalami depresi berat.
Dari segi kualitas, keduanya cukup berimbang. Bahkan ketika saya menyaksikan Lady Bird, saya langsung teringat sosok Nadine. Namun sayang, tak seperti Lady Bird, The Edge of Seventeen jauh dari sorotan penghargaan bergengsi.
Hanya ada tiga penghargaan yang dimenangkan salah satunya adalah Best First Film dari Newyork Film Critics. Walaupun di Rotten Tomatto, film ini mendapat rating cukup baik hingga 95 persen.
Sementara, segi alur dan eksekusi cerita, saya pribadi lebih menyukai The Edge of Seventen. Entahlah, lebih terkesan nyata. Untuk akting, Saoirse juara tapi Hailee sama sekali tak buruk.
Jika disuruh memilih antar keduanya, saya lebih memilih The Edge Of Seventeen. Alasannya, film ini lebih membekas di ingatan ketimbang Lady Bird.

4,5 dari 5 bintang untuk The Edge Of Seventeen dan Lady Bird.

Rememory

 

Rememory-2017

Bagi penggemar serial HBO, Game of Thrones, pasti akrab dengan sosok pria bertubuh mungil Peter Dinklage. Sukses memerankan Tyron Lannister, kali ini ia bermain dalam film Sci-fi, Rememory.

Dinklage akan memerankan sosok Sam Bloom, lelaki yang dihantui kematian sang kakak karena kecelakaan mobil. Saat itu, Sam berada dengan sang kakak namun tak dapat memahami pesan teakhri kakaknya sebelum meninggal.

Sam yang penasaran, seolah mendapat durian runtuh ketika Gordon Dunn (Martin Donovan) hadir dengan temuan terbarunya yakni mesin perekam kenangan. Teknologi ini memungkinkan Sam mengingat bagian yang hilang dari ingatannya.

Namun Sam sebelum mendapatkan kembali ingatannya, ia harus dikejutkan dengan kematian Gordon yang ditemukan tewas di kantornya sendiri. Sam lantas memulai penyelidikan untuk mengetahui siapa aktor dibalik semua itu.

Setiap potongan kejadian, ternyata memunculkan fakta baru dan membuat Sam akhirnya mengetahui apa yang terjadi dimalam kematian sang kakak.


Dari segi cerita, Rememory menawarkan konsep fresh tentang sisi baru kehidupan masa depan. Kecerdasaan penulis skenario mengemas cerita membuat pembunuh Gordon tak tertebak menjelang akhir cerita. Tentu saja, akting Peter Dinklage patut diacungi jempol.

4 dari 5 bintang untuk film ini.