Memilih Beralih ke E-Book

E-book Ilustration

Hampir satu tahun belakangan saya memilih untuk membaca buku versi elektronikn (e-book). Alsasan utamanya, karena tempat tinggal saya yang sekarang cukup jauh dari pusat ibu kota provinsi, dimana di sana pun jumlah toko bukunya sangat terbatatas.

Saya tinggal di Maluku, dimana kalau mau datang ke ibu kota provinsi yang berlokasi di Ambon, harus menyebrang kapal laut dengan waktu tempuh 1,5 jam. Belum lagi, harus menempuh perjalanan 1 jam dengan kendaraan darat. Duh, ogah deh kalo sebulan sekali harus ke Ambon cuma untuk beli buku.

Belanja buku via online bukan merupakan opsi yang saya akan pilih. Gimana ya, ongkos kirimnya itu pengen bikin pingsan. Dari Makassar saja, pengiriman barang reguler yang nyampenya 7-10 hari harganya Rp70.000 per kilo. Dari Jakarta, tentu saja dua kali lipat dong! Jadi satu-satunya jalan untuk tetap menikmati bacaan dengan nyaman dan terjangkau, ya beli e-book.

Selain harganya lebih murah, punya e-book tidak menuntut kita menyediakan space lebih di rumah. Pusing juga kalo di rumah punya banyak banget buku tapi ya ujung-ujungnya cuma dibaca sekali, dua kali. Pada akhirnya cuma jadi pajangan di rak. Terus, e-book lebih mudah dibawa ke mana saja. Gak perlu ada akses internet, asalkan sudah beli dan baterai gadget masih oke, kamu bisa baca.

Selain buku, saya juga sudah mulai langganan majalah sama koran secara digital. Meskipun ya untuk National Geographic saya masih sempat-sempatin beli majalah fisik kalo lagi ke Ambon. Foto-fotonya bagus! Satu eks majalah Nat Geo bahkan harga fisik sama digitalnya gak beda jauh loh. Hmm.

Mungkin ada beberapa orang yang masih suka beli buku, koran atau majalah dengan alasan klasik, suka dengan bau kertas. Atau ada yang  tetap membeli buku fisik karena masalah penglihatan. That’s okay. Sesuai dengan pilihan masing-masing sih dan senyamannya aja.

Belanja Buku di Mana?
Ada dua tempat belanja buku yang sering saya kunjungi untuk berbelanja.

  • Gramedia Digital
    Di platform ini, saya bukan cuma bisa beli buku namun juga majalah. Sering-sering cek karena biasanya ada diskon harga di event tertentu. Pilihan bayaran pun beragam. Kalau saya, biasnya bayar pake pulsa telepon.
  • Google Play Book
    Saya suka pakai platform ini untuk baca buku yang terbitannya non gramedia. Lumayan banyak dan bukunya kerap diberi potongan harga.

Selain di dua tempat di atas, saya juga sering baca buku di aplikasi punyanya Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Jakarta. 100 persen gratis dan bisa diakses hanya dengan modal gadget dan koneksi internet. Cuma ya sistemnya seperti di perpustakaan, hanya bisa pinjam buku dalam jangka waktu tertentu dan buku yang diinginkan tak selamanya tersedia.
IPusNas (punyanya Perpustakaan Nasional) misalnya, memungkinkan kamu pinjam satu buku maksimal tiga hari saja. Kelemahan lain, sering sekali dua aplikasi ini eror jadi agak ganggu untuk loginnya. Dengan semua kemudahan ini, kayaknya gak ada lagi alasan untuk kita tidak membaca buku. Well, selamat membaca.

Advertisements

A Star is Born (Spoiler Alert!)

A Star Is Born
A Star is Born

Buat saya, waktu dua jam yang saya habiskan di bioskop untuk menonton A Star is Born tidaklah sia-sia. Film ini jauh diatas ekspektasi saya, mulai dari jalan cerita hingga akting Lady Gaga dan Bradley Cooper yang memukau.
Kisah ini menceritakan kehidupan seorang penyanyi country bernama Jackson Maine (Cooper). Berada di puncak karier, ia justru terjerumus dalam candu obat-obatan dan alkohol. Semua itu tak lepas dari pengalaman masa lalunya yang kelam. Terlebih gangguan pendengaran yang ia derita, membuat bermusik hanya sebagai pelarian belaka.
Namun pertemuannya dengan Ally (Gaga) di sebuah klub malam mengubah segalanya. Suara Ally yang menyanyikan ‘La Vie en Rose’ seakan merasuki Jackson. Rasa suka antara keduanya pun mulai tumbuh.
Kisah cinta mereka dikemas dengan manis. Mulai dari perban es di tangan Ally, ciuman pertama usai pentas hingga senar gitar yang digunakan Jackson untuk melamar Ally. Selain berbalut kisah cinta, film ini menceritakan bagaimana perjalanan karir Ally hingga menjadi penyanyi profesional.
Ally pertama kali tampil di depan ribuan penonton dalam konser Jackson, menyanyikan lagu ‘Shallow’ yang sudah lama ia ciptakan. Ally pun kemudian mengikuti rangkaian tur Jackson ke beberapa kota. Sampai ia bertemu dengan seorang produser musik, Rez Gavron.
Kehidupan Ally pun mulai berubah, dimana dirinya kian tenar meskipun mulai melakukan apa yang tak ia senangi demi tuntuan industri musik dunia. Sementara Jackson, yang meskipun masih bermusik, semakin larut dalam candu alkohol dan obat-obatan terlarang.

Meninggalkan Bekas
Seusai menonton A Star is Born, saya keluar dari bioskop dengan hati yang patah. Hubungan Ally dan Jackson pada akhirnya harus usai. Namun, bukan bercerai tapi Jackson memilih mengakhiri hidupnya dan meninggalkan Ally dan Charles.
Tak hanya sukses berperan sebagai Jackson, Bradley Cooper yang juga menjadi sutradara serta produser di balik film ini sangat berhasil membangun konflik hingga klimaks dan menyisakan patah hati mendalam.
Ally dan Jackson adalah couple goals. Bagaimana cara mereka berinteraksi, melihat satu sama lain, menciptakan musik, semuanya sangat indah. Tapi akar depresi Jackson yang luput dari perhatian Ally justru menjadi bumerang di akhir kisah.
Bukan cuma bekas patah hati, film ini juga meninggalkan pesan-pesan yang menjadi pengingat kita semua. Misalnya jangan pernah menganggap sepele soal depresi dan seberapa jauh kita berani mewujudkan mimpi masing-masing.

Banyak Kejutan
Banyak kejutan yang saya nikmati selama film. Pertama, Gaga pandai berakting. Kemudian Cooper punya suara yang bikin klepek-klepek. Kalau soal akting, Cooper sih gak usah diragukan lagi. Sudah nonton Limitless atau Hang Over kan?
Lagu-lagu sepanjang film ini enak didengar dan seluruhnya merupakan lagu asli yang belum pernah dipublikasikan. Bahkan  berita semalam menyebutkan, tiga lagu yang ditulis Gaga untuk film ini, yakni “Shallow”, “Always Remember Us This Way” dan “I’ll Never Love Again”  diajukan Warner Bros sebagai kandidat untuk mendapatkan Oscar.
Banyak cerita menarik di balik pembuatan film ‘A Star is Born’ ini dan bisa kalian lihat cuplikan wawancaranya di YouTube. Namun, buat saya yang paling menarik adalah kisah mengenai bagaimana Bradley Cooper meyakinkan Gaga untuk tampil dalam film garapannya.
Ia datang ke rumah Gaga untuk berbincang dan kemudian mengajak Gaga bernyanyi bersama. Dalam wawancara bersama People TV, Bradley mengaku ia gugup terlebih menghadapi penyanyi sekelas Gaga. Meskipun bukan penyanyi, baginya tak ada cara lain untuk meyakinkan Gaga. Ternyata tindakan Bradley tersebut membuat Gaga yakin untuk terlibat dalam film ini.

4,7 dari 5 untuk A Star is Born.

Puas Gak Sih Beli Produk The Body Shop?

shopping-1761233_960_720

Buat pecinta produk perawatan tubuh, pasti udah akrab dengan The Body Shop (TBS). Brand asal Inggris ini sudah merambah ke pasar Indonesia cukup lama, dari tahun 1992. Boleh dbilang brand ini adalah salah satu pelopor produk kosmetik yang ramah lingkungan. Sampe sekarang mereka masih setia buat menggunakan bahan-bahan alami serta melawan uji coba bahan kosmetik ke hewan.

Produk TBS ini memang tak dijual di toko-toko kelontong seperti kosmetik kebanyakan. Mereka punya gerai khusus di mall dan itu membuat harganya cukup menguras dompet, terutama buat sobat misqqqinnn kaya aku. Asli! Sabun mandi cair yang 60 ml aja harganya 50K. Bandingin dong sama Lux atau Lifeboy yang bisa didapatkan dengan harga 20 K dan punya isi yang lebih banyak.

Beli gak Sih?
Dengan harga yang lebih mahal dari produk kebanyakan sebenarnya layak gak sih beli The Body Shop? Buat aku sih layak. Meskipun mahal, produk dari TBS itu bisa dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya Body Mist, dengan ukuran 100 ml dan harga 150 K, bisa dipakai maksimal 3-4 bulan. Lumayan kan?
Trus buat yang cari produk-produk dengan bahan alami dan  tak pasaran, TBS adalah surganya!!! Bahkan TBS ini punya situs belanja online sendiri loh. Jadi kalau di daerah kalian belum ada gerainya, ya tinggal ke manfaatin fasilitas ini aja.

Produk Favorit
Dulu waktu pertama kali belanja di TBS sekitar tahun 2010an, saya ingat beli lip balm yang punya rasa Strawberry! Duh itu juara banget sayang sekarang sudah gak dijual lagi. Trus makin ke sini, pake produk TBS ga rutin sih kecuali Body Mistnya.

British rose
British Rose The Body Shop

Sebelum kamu bisa beli parfum Chanel atau Bvlgari yang asli, kamu bisa mulai dari TBS. HeHe.  Sejauh ini, favorit saya sih British Rose, gak tau nanti ya. Saya udah coba yang varian Shea, Atlas Rose juga Mango. Kalau sekarang lagi pake yang British Rose dan aromanya soft. Enak!

Manggo
The Body Shop Mango Scrub

 

Ini scrub favorit abis! Selain aromanya yang mood booster, beneran loh waktu selesai pake ini kulitnya beneran halus banget. Recomended pokoknya!

Aloe Foaming Facial Wash
Aloe Foaming Facial Wash

Buat saya yang tipe kulitnya sensitif dan berjewarat gini, rada susah memang cari facial wash. Mau pake yang tea tree, takut jadi tampah meradang wajah. Jadi, saya pilih aloe vera. So far sih aman-aman aja pake ini, gak ada break out. Trus, merah-merah di pipi pun berkurang.
Memang prosesnya agak lama sih dan buat hilangin jerawat, kayaknya harus pake produk lain. Trus buat cream malamnya pernah coba sampelnya tapi malah bikin bruntusan jadi say good bye.

chinnese gingseng
Chinese Gingseng & Rice Clarifying Peeling

Ini sih masker superb! Dari aroma sampe khasiatnya juara. Sayang, agar berat di kantong jadi kudu nabung dulu baru beli ini!

So masih ingin belanja di The Body Shop? Iya dong. Meskipun harus pinter-pinter ngatur duit dan gak tiap bulan juga. Yang penting pas masuk TBS jangan lapar mata aja sih dan pastikan sesuaikan dengan kondisi kulit juga. Selamat mencoba

Cewek Paling Badung di Sekolah

Cewek paling badung di Sekolah
Cewek Paling Badung di Sekolah – Enid Blyton

Judul Buku: Cewek Paling Badung di Sekolah
Pengarang: Enid Blyton
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792280302
Cetakan Kesepuluh ; Juni 2017

Siapa sih anak yang senang bila disuruh masuk ke sekolah Asrama? Bayangan sekolah yang seram, kehidupan serba teratur dan jauh dari orang tua menjadi momok yang menakutkan.
Hal yang sama juga dialami Elizabeth Allen. Ia hidup bergelimang harta dan dikelilingi mainan mewah. Sayangnya, sifatnya yang begitu nakal membuat para pengasuhnya harus angkat tangan.
Ibunya yang harus menemani sang ayah berpergian ke luar negeri, kemudian memutuskan memasukan Elizabeth ke sekolah asrama Whyteleafe. Tentu saja, hal ini ditentang habis-habisan oleh Elizabeth.
Meskipun setuju untuk masuk ke sekolah, Elizabeth bertekad menjadi anak yang paling badung, agar seisi sekolah tak tahan kepadanya dan langsung mengirimnya pulang.
Ternyata, tinggal di Whyteleafe membuat Elizabeth mengubah pola pikirnya. Sistem sekolah yang unik, membuat gadis kecil itu tak habis pikir. Belum lagi, ia kemudian menemukan sahabatnya, Joan serta pelajaran kesukaannya.
Tapi, karena sudah berjanji untuk menjadi murid yang paling badung, Elizabeth yang tak ingin menjilat ludahnya kini, lalu menyusun rencana demi rencana.
***
Saya suka sekali dengan penggambaran tokoh Elizabeth dalam buku ini. Ia memiliki karakter kuat dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Buku ini bagus sekali dijadikan bahan bacaaan anak-anak.
Buat orang dewasa, juga seru kok. Tingkah konyol Elizabeth bikin kita senyum sendiri. Banyak hal yang bisa kalian pelajari disini. Oh ia, buku ini dibuat beberapa seri jadi saya langsung penasaran mencari edisi selanjutnya.
Berikut beberapa kutipan favorit saya dalam ‘Cewek Paling Badung di Sekolah’

Kau cuma tidak mau menerima pikiran waras saja. Permainan musikmu mungkin bagus tapi cara berpikirmu sama sekali di bawah hitungan (hal 244)

Hanya orang-orang yang kuat saja yang berani mengubah pendirian karena mereka menyadari bahwa pendirian mereka ternyata salah (hal 241)

Wah! Anak-anak selalu mengherankan kita (hal 223)

4 dari 5 bintang untuk buku ini.