Hai —

Well, Apa Kabar??

Sudah lama sepertinya tidak lagi menjamah blog ini. Tulisan terakhir saya di blog ini Februari silam. Soal produktivitas, saya setiap hari menulis tapi tidak di blog ini. Kangen juga kadang-kadang menuangkan pikiran seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan sudah lama saya tidak menulis puisi dan melukis. Pekerjaan di media benar-benar menyita waktu atau mungkin saya saja yang tidak menyediakan waktu untuk berpikir sedikit lebih banyak untuk menulis di sini dan melukis. Entahlah.

Enam bulan terakhir saya bahkan sudah jarang sekali menyentuh media sosial, banyak kawan yang jauh menjadi semakin jauh, komunitas yang semakin jarang saya dengar kabarnya. Untung saja setiap pagi masih membaca koran dan mendengar headline TV nasional yang masih saja sensasional. Begitulah.

Bosan? Kadang. Tapi saya menikmati dinamika hidup belakangan ini dan membaca lebih banyak buku. Saya mengambil banyak keputusan lebih besar belakangan ini.Pusing juga.  Semoga akhir tahun, nama belakang saya sudah berubah. Hahaha. Mudah-mudahan dilancarkan seluruh jalan ke sana.

XoXoXo

 

Persidangan Sinode Ke-37 : sebuah Catatan

Melelahkan sekaligus menakjubkan. Itulah yang ada dalam pikiran ketika orang bercerita mengenai pelaksanaan sidang sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-37. Saya selama dua minggu berada disana, memperhatikan dinamika para pelayan Tuhan bergumul dengan berbagai konsep gerejawi lalu menuliskannya agar dibaca khalayak ramai.
Saya belum pernah berada dan terlibat secara langsung dalam proses seperti demikian dan ketika saya ditugaskan kantor untuk berada disana, oh, saya sudah lelah duluan. Saya membayangkan waktu saya yang terbuang banyak dan deadline gambar-gambar yang nanti tidak bisa selesai pada waktunya. Saya selalu berpikir, untuk apa orang terlibat dalam suatu perdebatan yang panjang and well, ini gereja. Kamu tidak harus selalu berdebat sengit dengan suara menggelegar pertanyakan kata per kata seperti orang-orang yang melakukan amandemen undang-undang.
Lalu waktu berjalan dan sesuatu yang menakjubkan terjadi. Saya belajar bahwa perdebatan itu penting karena perwakilan 32 klasis yang ada di wilayah pelayanan GPM membawa kebutuhan jemaatnya masing-masing dengan latar belakang yang sangat beragam.
Dan saya takjub, lewat suatu perdebatan begitu alot orang-orang pada akhirnya setuju dan mengalahkan dirinya sendiri demi diambil sebuah keputusan.
Perdebatan itu penting untuk mendudukan kesamaan presepsi dan misi dan sekaligus mengingatkan para pelayan bahwa mereka tidak lagi berjalan menuju kepentingan masing-masing namun harus bersatu padu bersama membawa visi gereja. Perdebatan itu penting agar selalu tertanam bahwa bagaimana gereja tetap menjadi gereja ditengah perubahan zaman yang tak bisa dikekang.
Dan orang sering menjustifikasi suatu hal karena menurut ‘kata orang’ atau sesuatu yang hanyalah dikulit saja tanpa terlibat didalam. Kalau ingin berpendapat setidaknya mari kita terlibat didalam, dan mengenal prosesnya lantas memberi komentar yang membangun agar gereja ini bisa bertumbuh ke arah yang lebih baik

Perihal Ketua Sinode
Yang paling ditunggu dalam pelaksanaan sidang Sinode adalah siapa figur yang akan memimpin GPM hingga 2020. Semua orang ramai, semua orang sibuk membicarakannya termasuk saya yang hampir sebulan menuliskannya.
Majelis pekerja harian (MPH) Sinode GPM dan seluruh jajarannya memang penting tetapi bukan segalanya. Artinya sidang sinode bukan hanya ditujukkan untuk ada sekian banyak hal yang lebih penting dari itu. Dalam sidang  sinode ke-37 ini, begitu banyak hal penting yang berhasil digumuli.
Selama delapan dekade GPM akhirnya lewat persidangan  sinode tahun  ini, GPM berhasil mengeluarkan sebuah ajaran gereja yang akan menjadi pedoman bagi pelayan dan umat untuk berkarya di GPM . Selama delapan dekade, GPM ahkirnya merekomendasikan agar ada sebuah sistem  yang bisa mendata dan mengelola aset-aset GPM secara lebih baik dan terstruktur, menata lagi pendidikan dibawah yayasan GPM, serta pengelolaan dana pensiun yang lebih baik bagi pegawai GPM.
Dan  hari ini jajaran MPH dilantik bersama dengan majelis petimbangannya. Sebuah kuk kini terdapat di pundak masing-masing hinga 2020 nanti para hamba Tuhan ini bisa membawa bahtera yang dinahkodai Yesus ini menghadapi kerahasiaan  dan kejutan setiap harinya.
Bukan perkara mudah memimpin ribuan umat yang punya isi kepala beraneka ragam. Bukan mudah juga menjadi pemimpin yang mau mendengarkan, menurunkan sedikit egonya lalu membiarkan pikirannya mengalami asimilasi dari saran-saran orang lain. Bahkan tak gampang menjadi pemimpin yang tidak mudah marah dan meredam kata-katanya menjadi menyejukkan.
Dalam suatu interview dengan Rektor UKIM Ambon, Pendeta Neles Aliyona, ketika saya menanyakannya bagaimana bila ia dicalonkan menjadi ketua sinode, beliau berujar”Dalam mengambil keputusan, saya membiarkan diri saya diam sejenak dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam senyap. Jadi apa yang nanti saya putuskan bukan lagi berasal murni dari diri saya melainkan telah terjadi karya Tuhan disana”.
Ya, mungkin MPH bahkan umat harus selalu mengingat benar bahwa GPM hadir di dunia bukan untuk kebanggan dirinya sendri atau kelompok tapi semata untuk menyaksikan bahwa Yesus yang mati di Kayu salin karena dosa-dosa manusia telah bangkit dan turut berkarya dalam hidup setiap umat yang percaya padanNya.
Dan kita selaku alat di tanganNya, harus memberi diri, memberi ruang dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam setiap pengambilan keputusan.
Memang tak mudah mengurangi ego, tapi tak ada yang tak bisa dilakukan jikalau ada Anugerah yang Tuhan anugerahkan untuk memampumakan. Bahwa memang tak pernah ada yang sempurna, namun Tuhan yang Maha Sempurna itu ada dan berkarya lewat ketidaksempurnaan manusia agar kemulianNya selalu terpancar.
Selamat melayani, mencintai, berbagi cinta, berbagi harapan dan belajar, pak Ates, pak Ely dan seluruh jajaran. Doa umat dari 32 klasis dan dimanapun saja berada akan mengiringi kalian. Percayalah.  Tetaplah teguh ,bertekun  dan jangan goyah.  Selamat menikmati kejutan hidup di dunia yang semakin tak menentu ini.

Dentuman Pikiran Dalam Simbiosa Alina

 

21457131

dok. goodreads.com

Jangan pernah menilai buku dari covernya. Setidaknya ini yang saya yakini ketika selesai membaca simbiosa Alina, sebuah karya kolaborasi antara dua penulis muda, Priangi Abdi dan Sungging Raga. Saya mendapatkan buku ini sudah sekitar setahun lalu sebagai hadiah dalam event menulis #puisihore3. Ketika mendapatkannya, saya tidak langsung membacanya karena sungguh, saya langsung tidak tertarik membuka halaman per halaman karena cover bukunya yang terlalu kental kesan femin. Dan tentu saja, buku ini berhasil menjadi penghuni rak buku sekian lama.

Lalu mungkin pada saat itu, saya sedang beruntung. Karena tak ada bacaan lagi dirumah saya lalu memutuskan untuk membaca Simbiosa Alina. And, Guess What? It was surprised me. Saya bahkan tidak sabar untuk membuka halaman berikutnya dan berikutnya dan terpaksa menutup buku karena petualangan menyenangkan saya berakhir sudah.

Simbiosa Alina terdiri dari 20 cerpen yang diporsikan rata ke dua orang penulis yang karakter penulisannya amat berbeda. Membaca tulisan Sungging, artinya kita harus mempersiapkan diri masuk ke dalam dunia baru, dunia yang adalah perpaduan dunia nyata dan imajinasi tingkat tinggi dan terkadang memaksa otak untuk bekerja ekstra memahaminya. Cerpen Sungging, kadang tak terlalu kaya dialog. Kebanyakan berupa untaian naratif panjang yang menjelaskan percakapan.

Sementara itu, tulisan Priangi Abdi lebih manis, puitik, dan nyata walau kebanyakan puntiran di akhir cerita bikin pengen nusuk kepala kuntilanak.
Saat membuka buku ini, pembaca akan disambut dengan cerpen “Simbiosa”, yang menceritakan bagaimana patah hati karena ditinggal pergi sang kekasih, bisa menimbulkan derita yang begitu mendalam di hati Dulkarip.
Kemudian ada “Bangku, Anjing dan Dua Anak Kecil” yang bikin pembaca mikir keras untuk membedakan mana potongan kejadian nyata, mana kejadian yang adalah khayalan.
Cerita favorit saya, senja di taman Ewood dan Sebatang pohon di Loftus Road yang bercerita tentang pengorbanan cinta dan kerelaan menunggu. Sungging buat saya, sungguh cerdas memainkan perasaan para pembaca.
Bab cerita Sungging, ditutup dengan cerita mengenai hantu terbang The Flying Britishman yang mencari-cari cinta sejatinya, Cartesia.
Priangdi membuka bagian ceritannya dengan “Malimbu” tetang kisah cinta dua insan berbeda latar belakang yang sayangnya berakhir tragis.
Lalu ada “Teka-Teki Kecil”, yang adalah salah satu cerita favorit saya. Ini bercerita tentang kisah Afrizal yang rasa cintanya mulai tumbuh kepada Nyimas lantaran merasa kalah tidak bisa menjawab besar teka-teki sederhana perempuan itu.
Siapapun yang membaca “bait-bait hujan” pasti gemas sendiri. Bagaimana tidak, cerita yang puitis dan manis namun diberikan puntiran akhir yang bikin pengen mandi air es saja. Huh!

Well, overall, buku ini merarik dan bikin nagih. Secara keseluruhan, saya lebih suka membaca cerpen-cerpen Sungging Raga, karena memang gaya bertuturnya tidak biasa.
Buku ini, walaupun sudah selesai dibaca sekali, dibaca berulang-ulang nanti tak akan membosankan. Recommended! 3,5 dari 5 bintang untuk buku ini.

quote favorit
“Kamu seperti hujan yang datang menghapus bau-bau kematian di hatiku yang telah gersang oleh kemarau,” – Bait-bait Hujan.

“Kakek itu terdiam. Ia seperti mengalami kekalahan dashyat yang menyenangkan. Memang selalu seperti itu, cinta membuatnya kalah selama seratus dua puluh tahun,” – Slania

INTERVENSI

Apakah yang menyebabkan seorang manusia  bisa bangun di pagi hari dan kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang manusia?
Apakah karena kekuatan dirinya semata? Apa karena fungsi organnya yang masih sangat prima? Atau karena dia memiliki harapan yang begitu besar?
Buat saya, bukan ketiganya. Tidak ada yang bisa bangun dan kembali melanjutkan hidup tanpa kasih karunia Sang Pemberi hidup. Ya, kita masih bisa hidup karena AnuhgerahNya semata.
Saya ingat bagaimana ibu selalu mengajarkan untuk bangun pagi dan berterimakasih karena masih beri nafas hidup.
Dan apa yang kita lakukan dan bisa memberi impact ke orang lain, juga tidak akan terjadi tanpa seizin Yang Kuasa. Percaya atau tidak, kata-kata hanyalah kehampaan kalau tak ada kekuatan Transeden yang membuatnya menjadi luar biasa sehinga bisa menyentuh, bahkan bertumbuh dan berakar di pikiran orang lain.

Namun kadang, kita, manusia yang fana ini bisa menjadi begitu sombong.
Apalagi kalau perkataan dan tindakan kita bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi orang lain. Perubahan yang menggema dan memberi dampak luas. Kita lalu mengira bahwa itu adalah usaha kita semata dan kita menjadi merasa begitu penting lantas merasa harus dipuja.
Kita lupa dalam kemampuan kita ada intervensi Yang Lebih kuasa dan dalam penerimaan orang lain akan pendapat kita juga ada intervensi Yang Lebih Kuasa.

Beberapa hari yang lalu saya sempat bercakap dengan pacar lalu saya  menanyakan kapan terkahir kali dia mengikuti missa di gereja. Dia bilang, sudah semenjak Paskah.
Lalu dia bilang, ke gereja itu soal personal . Kalau hati ingin, ya pergi karena sesuatu yang dipaksakan tidak baik.

Iman memang adalah urusan personal. Tidak ke gereja bukan berarti orang tidak beriman.  Saya sadar bahwa kalau pacar saya nantinya berkeputusan untuk kembali mengikuti missa di gereja, itu karena ada Intervensi yang kuasa. Yang memanggil hatinya untuk pergi lagi  ke Gereja. Bahkan saya  tidak punya kuasa apapun untuk memaksa pacar pergi ke Gereja.
Dan saya tidak akan melakukannya karena saya tahu pacar cuma akan melihat saya sejenak dengan tatapan yang berarti dalam sekali dan tak bisa dijelaskan lalu kembali melakukan aktivitasnya.

Memang secara sadar, manusia adalah mahkluk intelektual yang bisa memperkaya dirinya dengan pengetahuan asal mau berusaha. Tapi ada hal-hal yang tak bisa dijangkau dengan intelekual. Hal-hal yang bisa terjelaskan dengan sempurna.

Intervensi bukan dalam artian manusia adalah robot dan tidak memiliki kehendak bebas. Saya selalu percaya, kita dilengkapi dengan otak karena Tuhan ingin kita berpikir, jalan mana yang harus kita pilih.
Tapi sekali lagi, dalam beberapa hal, kita tak pernah mengerti bagaimana Ia yang Agung itu bisa mengintervensi dalam batas-batas yang tak pernah terpikirkan oleh kita. Untuk menunjukkan keberadaanNya. Untuk membuat manusia sadar bahwa hidup adalah anugerah semata.

Blaise Pascal dalam tulisannya pernah menyebutkan “Le couer a ses raison ne connait point” yang artinya bahwa hati mempunyai alasan-alasan yang tidak dimengerti oleh rasio.
Tentunya ia tidak bermaksud menunjukkan bahwa rasio dan hati itu bertentangan. Hanya saja, benar adanya bahwa rasio atau tidak akan sanggup untuk memahami semua hal.

Ada kekuatan trasenden yang tak bisa dikontrol dan dimensinya tak bisa dipegang oleh manusia. Jika kamu diintervensi untuk menyebar kebaikan, berbahagialah.

Jadi kalau ada keinginan mau ke gereja, ataupun mau mengenakan jilbab, itu adalah intervensi Yang Kuasa dan masalah pilihan.
Tak usah berbusa-busa sampai mau orang berubah deh, apalagi soal masalah keyakinan seseorang yang notabonenya adalah urusan vertikal dengan Sang Pencipta.

Jadi masihkah menyombongkan diri di hari ini?