3 Film Anak-Anak untuk Akhir Pekan Ini

Bagi saya, menonton film bertema anak-anak memang selalu memberi kesenangan tersendiri. Alur cerita yang unik serta akting aktor cilik yang hebat selalu bisa membuat saya terpukau. Dari beberapa film yang pernah saya saksikan, berikut rekomendasi tiga film yang bisa Anda saksikan akhir pekan ini.

  1. Wonder

Wonder

Film ini akan mengajak kamu haru sekaligus takjub dalam satu helaaan napas. Berkisah mengenai pasangan Nate Pullman (Owen Wilson) dan Isabel Pullman (Julia Roberts) yang dikaruniai anak ke dua mereka, August. Augie, begitu ia akrab disapa, lahir dengan kodisi medis, “mandibulofacial dysostosis”, dimana ia memiliki kontour wajah tidak sempurna. Augie bahkan sudah menajalni 27 kali operasi hingga berumur 10 tahun agar membuat wajahnya tampak lebih baik.
Karena takut lingkungan berpengaruh pada Augie, kedua orangtuanya memutuskan agar sang anak mengikuti home school. Namun, saat memasuki kelas 5 SD, mereka ingin Augie mengikuti pendidikan formal.
Pilihan sekolah jatuh kepada Beecher Prep. Augie tentu saja harus berusaha keras untuk beradaptasi. Patah hati dan terluka tentu saja tak bisa dihindari. Tentu saja ini berpengaruh kepada orang disekitar Augie, termasuk kakak perempuannya Olivia Pullman (Izabela Vidovic).
Ditengah dunia yang kejam, beruntunglah Augie memiliki orang tua seperti Nate dan Isabel yang memberikan keberanian besar. Pun peran Olivia yang tak pernah mengganggap Augie sebagai anak ‘istimewa’, justru membuat Augie tumbuh menjadi lebih kuat.

2. Burn Your Maps

Burn Your Maps

Saya memutuskan untuk menonton ini gara-gara penasaran dengan kemampuan akting Jacob Trembley. Dari segi cerita, Burn Your Maps menawarkan konsep yang unik. Film ini mengangkat kisah mengenai Wes Firth (Jacob Trembley), anak berusia 8 tahun. Ia tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, Connor (Marton Csokas) dan Alise Firth  (Vera Farmiga) serta kakaknya, Beca.
Tak seperti anak kebanyakan yang sibuk dengan bermain sepakbola atau sepatu roda, Wes justru terjebak dalam imajinasinya. Entah berasal dari mana, Wes yakin ia sebenarnya adalah seorang penggembala dari Mongolia, dan lahir di keluarga yang keliru. Memenuhi panggilannya, Wes bahkan berpakaian seperti seorang gembala ketika pergi ke sekolah.
Sang ibu, Alise mendukung imajinasi sang anak. Namun, sang ayah, Connor melakukan hal sebaliknya. Jauh sebelum Wes menjadi sumber masalah, pasangan suami istri ini memang sudah dilanda konflik pasca kematian anak bungsu mereka.
Dibantu oleh Ismail, seorang film maker asal Pakistan, Alise lalu membawa Wes terbang ke Mongolia. Ternyata ini menjadi perjalanan yang tak hanya membawa babak baru bagi kehidupan keluarga mereka termasuk juga Ismail.

 

3. Gifted
Gifted

Di Gifted, kita tak akan melihat sosok kapten Amerika yang gagah berani pada sosok Chris Evans. Evans kali ini berperan sebagai Frank Adler, paman dari seorang bocah jenius, Mary Adler. Ibu Mary, Diane, sudah wafat sejak ia kecil.
Tak hanya periang dan cantik, Mary punya kemampuan khusus di bidang matematika. Ia bahkan bisa mengerjakan soal-soal sulit yang tak bisa dikerjakan anak seusianya. Melihat kemampuan Mary, guru kelasnya, Bonnie, memberi tawaran agar Mary mendapatkan beasiswa untuk belajar di kelas khusus. Frank pun menolaknya karena menganggap Mary akan kehilangan masa kecilnya.
Konflik sebenarnya pun dimulai saat ibu Frank, Evelyn, mendengar soal kejeniusan Mary. Meskipu

 

Advertisements

Memilih Beralih ke E-Book

E-book Ilustration

Hampir satu tahun belakangan saya memilih untuk membaca buku versi elektronikn (e-book). Alsasan utamanya, karena tempat tinggal saya yang sekarang cukup jauh dari pusat ibu kota provinsi, dimana di sana pun jumlah toko bukunya sangat terbatatas.

Saya tinggal di Maluku, dimana kalau mau datang ke ibu kota provinsi yang berlokasi di Ambon, harus menyebrang kapal laut dengan waktu tempuh 1,5 jam. Belum lagi, harus menempuh perjalanan 1 jam dengan kendaraan darat. Duh, ogah deh kalo sebulan sekali harus ke Ambon cuma untuk beli buku.

Belanja buku via online bukan merupakan opsi yang saya akan pilih. Gimana ya, ongkos kirimnya itu pengen bikin pingsan. Dari Makassar saja, pengiriman barang reguler yang nyampenya 7-10 hari harganya Rp70.000 per kilo. Dari Jakarta, tentu saja dua kali lipat dong! Jadi satu-satunya jalan untuk tetap menikmati bacaan dengan nyaman dan terjangkau, ya beli e-book.

Selain harganya lebih murah, punya e-book tidak menuntut kita menyediakan space lebih di rumah. Pusing juga kalo di rumah punya banyak banget buku tapi ya ujung-ujungnya cuma dibaca sekali, dua kali. Pada akhirnya cuma jadi pajangan di rak. Terus, e-book lebih mudah dibawa ke mana saja. Gak perlu ada akses internet, asalkan sudah beli dan baterai gadget masih oke, kamu bisa baca.

Selain buku, saya juga sudah mulai langganan majalah sama koran secara digital. Meskipun ya untuk National Geographic saya masih sempat-sempatin beli majalah fisik kalo lagi ke Ambon. Foto-fotonya bagus! Satu eks majalah Nat Geo bahkan harga fisik sama digitalnya gak beda jauh loh. Hmm.

Mungkin ada beberapa orang yang masih suka beli buku, koran atau majalah dengan alasan klasik, suka dengan bau kertas. Atau ada yang  tetap membeli buku fisik karena masalah penglihatan. That’s okay. Sesuai dengan pilihan masing-masing sih dan senyamannya aja.

Belanja Buku di Mana?
Ada dua tempat belanja buku yang sering saya kunjungi untuk berbelanja.

  • Gramedia Digital
    Di platform ini, saya bukan cuma bisa beli buku namun juga majalah. Sering-sering cek karena biasanya ada diskon harga di event tertentu. Pilihan bayaran pun beragam. Kalau saya, biasnya bayar pake pulsa telepon.
  • Google Play Book
    Saya suka pakai platform ini untuk baca buku yang terbitannya non gramedia. Lumayan banyak dan bukunya kerap diberi potongan harga.

Selain di dua tempat di atas, saya juga sering baca buku di aplikasi punyanya Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Jakarta. 100 persen gratis dan bisa diakses hanya dengan modal gadget dan koneksi internet. Cuma ya sistemnya seperti di perpustakaan, hanya bisa pinjam buku dalam jangka waktu tertentu dan buku yang diinginkan tak selamanya tersedia.
IPusNas (punyanya Perpustakaan Nasional) misalnya, memungkinkan kamu pinjam satu buku maksimal tiga hari saja. Kelemahan lain, sering sekali dua aplikasi ini eror jadi agak ganggu untuk loginnya. Dengan semua kemudahan ini, kayaknya gak ada lagi alasan untuk kita tidak membaca buku. Well, selamat membaca.

A Star is Born (Spoiler Alert!)

A Star Is Born
A Star is Born

Buat saya, waktu dua jam yang saya habiskan di bioskop untuk menonton A Star is Born tidaklah sia-sia. Film ini jauh diatas ekspektasi saya, mulai dari jalan cerita hingga akting Lady Gaga dan Bradley Cooper yang memukau.
Kisah ini menceritakan kehidupan seorang penyanyi country bernama Jackson Maine (Cooper). Berada di puncak karier, ia justru terjerumus dalam candu obat-obatan dan alkohol. Semua itu tak lepas dari pengalaman masa lalunya yang kelam. Terlebih gangguan pendengaran yang ia derita, membuat bermusik hanya sebagai pelarian belaka.
Namun pertemuannya dengan Ally (Gaga) di sebuah klub malam mengubah segalanya. Suara Ally yang menyanyikan ‘La Vie en Rose’ seakan merasuki Jackson. Rasa suka antara keduanya pun mulai tumbuh.
Kisah cinta mereka dikemas dengan manis. Mulai dari perban es di tangan Ally, ciuman pertama usai pentas hingga senar gitar yang digunakan Jackson untuk melamar Ally. Selain berbalut kisah cinta, film ini menceritakan bagaimana perjalanan karir Ally hingga menjadi penyanyi profesional.
Ally pertama kali tampil di depan ribuan penonton dalam konser Jackson, menyanyikan lagu ‘Shallow’ yang sudah lama ia ciptakan. Ally pun kemudian mengikuti rangkaian tur Jackson ke beberapa kota. Sampai ia bertemu dengan seorang produser musik, Rez Gavron.
Kehidupan Ally pun mulai berubah, dimana dirinya kian tenar meskipun mulai melakukan apa yang tak ia senangi demi tuntuan industri musik dunia. Sementara Jackson, yang meskipun masih bermusik, semakin larut dalam candu alkohol dan obat-obatan terlarang.

Meninggalkan Bekas
Seusai menonton A Star is Born, saya keluar dari bioskop dengan hati yang patah. Hubungan Ally dan Jackson pada akhirnya harus usai. Namun, bukan bercerai tapi Jackson memilih mengakhiri hidupnya dan meninggalkan Ally dan Charles.
Tak hanya sukses berperan sebagai Jackson, Bradley Cooper yang juga menjadi sutradara serta produser di balik film ini sangat berhasil membangun konflik hingga klimaks dan menyisakan patah hati mendalam.
Ally dan Jackson adalah couple goals. Bagaimana cara mereka berinteraksi, melihat satu sama lain, menciptakan musik, semuanya sangat indah. Tapi akar depresi Jackson yang luput dari perhatian Ally justru menjadi bumerang di akhir kisah.
Bukan cuma bekas patah hati, film ini juga meninggalkan pesan-pesan yang menjadi pengingat kita semua. Misalnya jangan pernah menganggap sepele soal depresi dan seberapa jauh kita berani mewujudkan mimpi masing-masing.

Banyak Kejutan
Banyak kejutan yang saya nikmati selama film. Pertama, Gaga pandai berakting. Kemudian Cooper punya suara yang bikin klepek-klepek. Kalau soal akting, Cooper sih gak usah diragukan lagi. Sudah nonton Limitless atau Hang Over kan?
Lagu-lagu sepanjang film ini enak didengar dan seluruhnya merupakan lagu asli yang belum pernah dipublikasikan. Bahkan  berita semalam menyebutkan, tiga lagu yang ditulis Gaga untuk film ini, yakni “Shallow”, “Always Remember Us This Way” dan “I’ll Never Love Again”  diajukan Warner Bros sebagai kandidat untuk mendapatkan Oscar.
Banyak cerita menarik di balik pembuatan film ‘A Star is Born’ ini dan bisa kalian lihat cuplikan wawancaranya di YouTube. Namun, buat saya yang paling menarik adalah kisah mengenai bagaimana Bradley Cooper meyakinkan Gaga untuk tampil dalam film garapannya.
Ia datang ke rumah Gaga untuk berbincang dan kemudian mengajak Gaga bernyanyi bersama. Dalam wawancara bersama People TV, Bradley mengaku ia gugup terlebih menghadapi penyanyi sekelas Gaga. Meskipun bukan penyanyi, baginya tak ada cara lain untuk meyakinkan Gaga. Ternyata tindakan Bradley tersebut membuat Gaga yakin untuk terlibat dalam film ini.

4,7 dari 5 untuk A Star is Born.

Puas Gak Sih Beli Produk The Body Shop?

shopping-1761233_960_720

Buat pecinta produk perawatan tubuh, pasti udah akrab dengan The Body Shop (TBS). Brand asal Inggris ini sudah merambah ke pasar Indonesia cukup lama, dari tahun 1992. Boleh dbilang brand ini adalah salah satu pelopor produk kosmetik yang ramah lingkungan. Sampe sekarang mereka masih setia buat menggunakan bahan-bahan alami serta melawan uji coba bahan kosmetik ke hewan.

Produk TBS ini memang tak dijual di toko-toko kelontong seperti kosmetik kebanyakan. Mereka punya gerai khusus di mall dan itu membuat harganya cukup menguras dompet, terutama buat sobat misqqqinnn kaya aku. Asli! Sabun mandi cair yang 60 ml aja harganya 50K. Bandingin dong sama Lux atau Lifeboy yang bisa didapatkan dengan harga 20 K dan punya isi yang lebih banyak.

Beli gak Sih?
Dengan harga yang lebih mahal dari produk kebanyakan sebenarnya layak gak sih beli The Body Shop? Buat aku sih layak. Meskipun mahal, produk dari TBS itu bisa dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya Body Mist, dengan ukuran 100 ml dan harga 150 K, bisa dipakai maksimal 3-4 bulan. Lumayan kan?
Trus buat yang cari produk-produk dengan bahan alami dan  tak pasaran, TBS adalah surganya!!! Bahkan TBS ini punya situs belanja online sendiri loh. Jadi kalau di daerah kalian belum ada gerainya, ya tinggal ke manfaatin fasilitas ini aja.

Produk Favorit
Dulu waktu pertama kali belanja di TBS sekitar tahun 2010an, saya ingat beli lip balm yang punya rasa Strawberry! Duh itu juara banget sayang sekarang sudah gak dijual lagi. Trus makin ke sini, pake produk TBS ga rutin sih kecuali Body Mistnya.

British rose
British Rose The Body Shop

Sebelum kamu bisa beli parfum Chanel atau Bvlgari yang asli, kamu bisa mulai dari TBS. HeHe.  Sejauh ini, favorit saya sih British Rose, gak tau nanti ya. Saya udah coba yang varian Shea, Atlas Rose juga Mango. Kalau sekarang lagi pake yang British Rose dan aromanya soft. Enak!

Manggo
The Body Shop Mango Scrub

 

Ini scrub favorit abis! Selain aromanya yang mood booster, beneran loh waktu selesai pake ini kulitnya beneran halus banget. Recomended pokoknya!

Aloe Foaming Facial Wash
Aloe Foaming Facial Wash

Buat saya yang tipe kulitnya sensitif dan berjewarat gini, rada susah memang cari facial wash. Mau pake yang tea tree, takut jadi tampah meradang wajah. Jadi, saya pilih aloe vera. So far sih aman-aman aja pake ini, gak ada break out. Trus, merah-merah di pipi pun berkurang.
Memang prosesnya agak lama sih dan buat hilangin jerawat, kayaknya harus pake produk lain. Trus buat cream malamnya pernah coba sampelnya tapi malah bikin bruntusan jadi say good bye.

chinnese gingseng
Chinese Gingseng & Rice Clarifying Peeling

Ini sih masker superb! Dari aroma sampe khasiatnya juara. Sayang, agar berat di kantong jadi kudu nabung dulu baru beli ini!

So masih ingin belanja di The Body Shop? Iya dong. Meskipun harus pinter-pinter ngatur duit dan gak tiap bulan juga. Yang penting pas masuk TBS jangan lapar mata aja sih dan pastikan sesuaikan dengan kondisi kulit juga. Selamat mencoba