Maryam: Gambaran dari Mereka yang Terusir

cover-maryam-crop1
doc: gmedia.com

Judul Buku : Maryam
Pengarang : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 280 Halaman

Agama adalah sebuah paradoks. Hadirnya bisa menumbuhkan gelombang damai di mana-mana. Tetapi karena alasan agama juga, manusia menciptakan peperangan. Banyak pertumpahan darah terjadi, banyak orang yang terusir dari tanah kelahirannya, lantaran diangap hanyalah kelompok minoritas dengan keyakinan yang berbeda.

Dalam Maryam, Oky Mandasari berutur mengenai serangkaian pengalaman seorang gadis bernama Maryam yang akhirnya harus terusir bersama sekelompok orang Ahmadiyah di Lombok karena dianggap sesat.

Kisah ini dimulai dengan bagaimana Maryam ingin kembali pulang menemui keluarganya setelah lima tahun lamanya pergi. Dengan alur maju mundur, Oky mengupas bagaimana perasaan menjadi seorang dengan label minoritas di tengah-tengah negara yang katanya menjunjung tinggi perbedaan.

Terlahir sebagai Ahmadiyah tentu bukan sesuatu yang bisa ditolak Maryam. Semenjak belia, ia telah memelihara ketakutan. Orang tua dan orang-orang dalam kelompoknya selalu mewanti-wanti Maryam agar mencari pasangan yang sejalan dengan dirinya. Telah banyak contoh, saudara-saudara seimannya yang nekat menikah dengan orang luar, akhirnya tak dianggap oleh keluarga sendiri. Lebih buruk lagi, pernikahan mereka berujung pada kehancuran.

Sekali waktu, Maryam pernah jatuh cinta dengan Gamal yang juga adalah seorang Ahmadi saat dirinya masih berkuliah di Surabaya. Meski hanya dijodoh-jodohkan saja, kedua sepasang muda mudi ini tak menolak. Kerabat keduanya menyambut dengan sukacita. Namun siapa sangka, kepergian Gamal ke Banten mengubah segalanya. Ketika kembali, ia menjadi orang lain. Maryam harus belajar melupakan Gamal.

Ketika hijrah ke Jakarta, kehadiran Alam benar-benar jadi penyelamat untuk Maryam. Hatinya yang tertutup rapat semenjak kepergian Gamal berangsur-angsur mulai terbuka lagi. Keyakinan Alam yang berbeda dengan dirinya tak lagi dihiraukan. Ia lupa nasehat orangtuanya untuk mencari lelaki yang sejalan. Akhirnya ia nekat keluar dari ketakutan yang selama ini membelenggunya.

Namun ternyata pernikahannya dengan Alam tak berujung bahagia. Tekanan sebagai seorang Ahmadi masih membelenggu Maryam. Dirinya bahkan secara halus dipaksa untuk beralih agama oleh ibu Alam. Lama-lama kelamaan jiwa Maryam mulai penuh lubang. Bahtera rumah tangganya harus berakhir di meja hijau.

Pulang akhirnya menjadi satu-satunya jalan keluar yang terlintas di kepala Maryam. Sekian lama tidak berjumpa keluarganya, ternyata banyak kejutan yang dihadapi. Mulai dari kemarahan terpendam ayahnya, tawaran cinta dari Umar, terusir bersama orang-orang seimannya hingga hadirnya sebuah harapan baru, Mandalika.

Di akhir buku, Okky membebaskan imajinasi pembaca untuk menyimpulkan akhir cerita yang masih menggantung. Mungkin saja Maryam dan kelompok minoritasnya masih terus berjuang pulang ke rumahnya. Setelah milik mereka dirampas oleh kaum yang menganggap keyakinan  yang benar paling benar. Mungkin saja, mereka menyerah pada keadaan. Mungkin.

***

Okky cukup berani mengangkat kisah keberadaan kaum minoritas, terutama menyangkut hal yang dirasa sensitif untuk dibahas, agama. Sejauh ini, saya jarang mendapati alur cerita seperti yang Okky tawarkan. Biasanya, romansa dua insan berbeda agama yang akhirnya harus berpisah atau berakhir bahagia seperti akhir-akhir novel percintaan.

Maryam lahir untuk turut menyuarakan kisah-kisah miris yang dihadapi segelintir umat minoritas di Indonesia seperti kaum Amhadiyah, Syiah, Salamullah, Aliran Kutub Rohani dan masih banyak lagi aliran keyakinan yang dicap negara dan lembaga agama besar sebagai ajaran sesat.

Sadar atau tidak, di kehidupan nyata kita sering berperan menjadi Ibunya Alam, guru agama Fatimah, bahkan lebih parahnya menjadi orang-orang yang mengusir Maryam dari Gegerung. Bila ada yang berbeda keyakinan, bahkan berbeda aliran gereja, kita menganggapnya sebelah mata. Terlebih lagi bila kesialan datang menghampirinya bertubi-tubi, dia berubah jadi sasaran empuk kita menyampaikan seruan pertobatan.

Bayangkan saja, kalau kita ada di posisi mereka. Tahankah kita divonis sesat lalu diserukan beralih yakin kepada sesuatu yang begitu asing, yang untuk mengenalnya kita enggan. Ataupun kalau sudah mengenal tak ada damai disana.

Adakah ajaran agama atau keyakinan yang paling benar di dunia ini? Tuhan siapa yang lebih superior dari Tuhan yang lain? Para pemuka agama mulai berpikir untuk mereformasi tata cara beribadahnya agar umatnya tidak diambil oleh agama lain. Sehingga kadang tujuan beribadah tak lagi murni.

Di luar sana, masih banyak orang yang tidak ingin berpaling ke Tuhan kelompok superior malah diancam, diusir bahkan dibantai. Tanah yang penuh darah menjadi saksi bisu keganasan oknum yang berkedok agama.

Bukankah semua ajaran agama sama pada dasarnya yakni mengajarkan kebaikan. Jika kita marah atas ritus ibadah orang lain, layakkah kita menjadi orang yang beragama? Apalagi di tengah-tengah negara yang katanya menjunjung tinggi keberagaman. Sungguh ironis.

Saya ingin menutup tulisan ini, dengan suatu bait dalam buku ini yang menurut saya bisa jadi perenungan kita di akhir pekan ini.

“Meski demikian dalam segala keputusasaan, tak ada satu pun yang berpikir meninggalkan keimanan,” kata Zulhaikar. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali. Ada nada syukur dan bangga. Seolah ia ingin meyakinkan pada Maryam bahwa iman orang-orang Ahmadi tak bisa dikalahkan hanya sekedar oleh penderitaan.

Buku ini bukan hanya sekadar untuk mengisi waktu luang di hari libur. Saya terkadang masih sering membuka halaman-halaman tertentu untuk mengenang penderitaan dan merenungkan pelajaran dari Maryam. Pantas jika novel ini diganjar penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012.

3,5 dari 5 bintang untuk Maryam karya Okky Madasari

Yang ingin berbelanja buku ini secara online, silakan klik link ini.

Adakah Cara Jitu untuk Mengobati Patah Hati?

Dok: https://ebooks.gramedia.com/

Judul: Bagaimana Mengobati Patah Hati
Penulis : Guy Winch
ISBN: 978-602-06-3057-1
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit; 2019
Tebal: 142 halaman

Saat seseorang harus mengakhiri hubungan dengan orang lain, baik mengakhiri hubungan pacaran, tunangan, maupun pernikahan, tentu rasanya luar biasa sakit. Kaget, syok, dan entah kata apa lagi yang tepat untuk menggambarkannya.
Mau berapa lama pun durasi hubungan tersebut, tak bisa dipungkiri ada sebagian dari diri kita yang hilang. Terlebih jika perpisahan tersebut terjadi tanpa melalui upaya rekonsiliasi atau percakapan antara dua belah pihak terlebih dulu.

Dalam buku ini, Winch menjelaskan bahwa patah hati merupakan proses yang sistemik dan kompleks. Tak hanya berpengaruh pada emosi, tetapi juga pada tubuh serta otak seseorang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Michigan, Ethan Kross, ditemukan bahwa seseorang yang patah hati mengalami rasa sakit yang tak tertahankan. Kadar rasa sakitnya mirip dengan sakit tertentu yang dirasakan secara fisik.

Ketika patah hati datang, maka otak seseorang yang patah hati memiliki mekanisme yang mirip dengan otak pecandu narkotika saat sedang “sakau”. Orang yang mematahkan hati kita diibaratkan sebagai obat yang sangat kita inginkan. Jika asupan tersebut tidak didapatkan, maka kinerja otak pun terganggu. Tak heran, ketika patah hati terjadi, banyak yang tidak produktif, malas, dan tidak bisa bekerja dengan baik.

Bahkan ada beberapa orang yang mengalami sindrom patah hati di mana jantung bekerja secara tidak normal sehingga menyebabkan munculnya sakit parah di area dada, kejang, dan hormon stres melonjak.

Lalu bagaimana mengobati patah hati tersebut? Menurut Winch, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Pertama, buang semua barang yang mengingatkan kita terhadap sang mantan. Tak hanya produk fisik seperti baju hingga topi, tetapi juga arsip digital berupa foto dan rekaman video bersama. Menyingkirkannya jelas akan membuat kita tersiksa, namun itu yang harus dikorbankan untuk masa depan.

Kedua, sayangi diri Anda sendiri. Saat patah hati, harga diri seseorang tentu akan hancur. Karena itu, ubah cara pandang terhadap diri sendiri dengan tidak menghakiminya secara kejam,

Ketiga, miliki perspektif yang berimbang. Jangan hanya memikirkan kenangan-kenangan baik tentang mantan saja. Cobalah lihat apa kekurangan yang ia miliki dalam hubungan. Misalnya saja, kebiasaan buruk seperti susah bangun pagi, selera fashion yang buruk, atau perbedaan selera musik. Kekurangan-kekurangan ini akan membantu kita sadar bahwa kita juga bersama dengan manusia yang tidak sempurna.

Keempat, carilah dukungan orang lain. Pasca putus, kita bisa mencari dukungan untuk berbagi perasaan kita kepada teman, kerabat, maupun psikolog.

Kelima, membuka diri untuk orang baru. Kapan pun siap, Anda bisa membuka diri kepada orang lain dan mencoba untuk membangun hubungan lagi.

***

Terlepas dari semua tips yang Winch bagikan, menurutnya, sembuh dari patah hati sangat personal. Itu adalah keputusan pribadi seseorang apakah ia mau meninggalkan kesedihan tersebut atau terus berkubang di sana. Jadi jelas, waktu tidak menyembuhkan. Hanyalah kesadaran individu yang bisa menyelamatkan dalam situasi tersebut.

Saya menikmati buku ini karena memberikan perspektif berbeda baik dari pengalaman Winch selama sesi terapi dengan kliennya maupun beberapa hasil dari penelitian ilmiah tentang patah hati.

Saran-saran yang dikemukakan pun masuk akal. Tapi jika ingin mencari orang baru dalam waktu dekat. Makasih deh. Gak dulu. Buat saya lebih baik fokus pada diri sendiri dulu dan benahi apa yang masih kurang. Soal ada atau tidaknya pasangan lagi, itu soal nanti.

Fragaria

Setiap orang, minimal satu kali saja dalam hidupnya, tentu pernah mengalami momen surreal. Semuanya seperti tidak nyata, tapi itu benar-benar terjadi.

Pernahkah kalian bertemu dengan seseorang yang benar-benar asing? Namun hanya dalam hitungan menit setelah berbicara, kamu merasa telah mengenalnya lama. Seperti sudah separuh hidupmu.

Atau pernahkah kamu jatuh hati dalam waktu singkat, pada orang asing yang baru ditemui? Kamu tentu belum benar-benar mengenalnya dan belum seutuhnya menyelam dalam isi kepalanya.

Tapi anehnya, kamu jatuh hati begitu saja. Tanpa bisa dikendalikan, seperti ikan-ikan yang riang menyambut umpan dari nelayan tanpa takut terjerat jaring dan berakhir di penggorengan.

Semuanya tidak pernah masuk akal. Jika dipikir lebih dalam dan panjang.

Namun dalam satu masa, kehidupan menjadi lucu. Kadang semua yang tidak masuk akal itu, bisa kita alami dan benar-benar ada.

Aku percaya, alam semesta punya cara kerja yang ajaib untuk mempertemukan orang, membuat mereka saling tertarik, membuat mereka mengalami pengalaman-pengalaman unik yang tak pernah dirasakan banyak orang lain.

Semakin kita berusaha memahami cara alam semesta ini bekerja, kita semakin tidak paham. Kita terlalu kecil di alam semesta yang luar biasa dashyat ini.

Ada hal-hal di dunia ini yang terkadang tak bisa kita pahami dengan otak kecil kita. Yang lebih kuat dari logika dan pemahaman kita seumur hidup.

Pertengahan tahun 2024, aku berada dalam momen surreal itu, yang bahkan tidak bisa aku pahami hingga saat ini. Tidak pernah menyangka juga ini akan terjadi.

Kadang aku bertanya, bagaimana ini terjadi untuk seseorang yang selalu mempertimbangkan banyak hal sepertiku?

Tapi semakin aku mencari jawabannya, jawaban itu hilang dalam kabut. Tak berjejak.

Satu setengah tahun terakhir ini, aku merasa seperti sedang menaiki roller coaster raksasa. Not just happy, but Inefabble. Merasa begitu bersemangat tapi sekaligus menyesakan dada karena rindu yang membuncah.

Takut namun sekaligus berani.

But let me tell you the truth! It is the one of a beautifull felling I ever fell after a long time ago. I feel Fulfilled. The joy you bring complete me.

Di titik itu, aku tak pernah mempertanyakan pada Tuhan kenapa setelah puluhan tahun pernah ada di tempar yang sama, kenapa kita salinh menemukan saat jarak memisahkan. 

Bertemu saat semua hal begitu kompleks, terlalu banyak tanggung jawab yang tak bisa dilepaskan, terlalu banyak mimpi yang harus diperjuangkan.

Dan ketika semuanya harus berakhir karena mungkin ada yang menjemukan dalam kepalamu, kelelahan akan banyak hal termasuk jarak yang tak pernah terpaut dan sikap² yang tak bisa ditolerir, Aku benar-benar bersyukur telah belajar.

Telah mencintai dan menerima cinta dengan begitu banyak. Ternyata manusia semandiri dan keras kepala sepertiku, bisa berubah menjadi manja, gampang cengeng, dan menurunkan banyak ego buatmu.

Aku tak pernah menyesal kita bertemu dan telah memberikan banyak cinta, telah memberikan waktu tidurku yang berharga untuk sekedar berbagai kabar, tertawa dan membahas banyak hal remeh.

Aku masih yakin hingga saat ini bahwa akan ada masanya, kita berdua akan duduk bersama, sekali waktu, entah kapan, untuk berbagi cerita dan membicarakan hal-hal yang selalu menjadi mimpi kita. Walau mungkin dengan rasa yang tak lagi serupa.

Filosofi Teras untuk Hidup yang Lebih Namaste

Dok. Pribadi

Judul buku: Filosofi Teras
Penulis: Henry Manampiring
ISBN: 9786233463034

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Teknologi masa kini memungkinkan kita lebih cepat mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia. Meskipun demikian, derasnya arus informasi ini juga membawa pengaruh buruk bagi kehidupan pribadi kita.

Belum kelar urusan di dunia nyata soal pekerjaan, hubungan asmara hingga masalah pendidikan anak, setiap harinya kita dijejali dengan berbagai berita negatif dari internet. Mulai dari berita peperangan antar negara, korupsi, keracunan hingga penyalahgunaan kekuasaan pejabat, bisa bikin kepala tambah pening.

Salah satu cara untuk menjadikan pikiran lebih tenang adalah dengan mulai belajar filsafat. Loh kok? Mendengar kata filsafat saja merupakan hal yang horor bagi sebagian orang. Untungnya Henry Manampiring bisa meramu salah satu konsep dalam filsafat yakni filosofi teras atau stoikisme menjadi lebih ringan. Karena itu, bagi pemula yang ingin membaca tentang filsafat semuanya bisa terasa lebih mudah dipahami.

Buku ini dibuka dengan hasil Survei Khawatir Nasional yang dilakukan oleh penulis pada tahun 2017. Dari survei yang dilakukan secara daring itu, ternyata 63% dari responden lumayan khawatir pada hidup yang ia jalani saat ini. Sumber kekhawatirannya pun bermacam-macam. Mulai dari kesehatan, karier, keuangan, jodoh hingga presepsi orang lain terhadap kita.

Untuk mengatasi rasa khawatir tersebut, Henry menyarankan pembaca untuk menerapkan Filosofi Stoa. Filosofi yang digagas oleh filsuf Yunani, Zeno, ternyata sudah ada sekitar 2.300 silam. Meskipun sudah ada sejak ribuan tahun prinsip-prinsipnya masih relevan hingga sekarang.

Salah satu prinsip Filosofi Stoa yang bisa dterapkan agar hidup menjadi lebih namaste adalah Dikotomi Kendali. Manusia sebaiknya memikirkan hal-hal yang hanya ada di bawah kendalinya seperti opini, presepsi, interprestasi keinginan, tujuan serta tindakan yang dilakukan. Sementara hal-hal di luar kendali diri misalnya tindakan orang lain, reputasi cuaca, bahkan kesehatan sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan.

Meski tidak terlalu memilikirkan hal-hal yang ada diluar kendali, itu bukan berarti saat menerapkan Filosofi Stoa, kita hanya pasrah saja. Dalam Stoa juga diajarkan untuk Hidup Selaras dengan Alam. Artinya tetap harus rajin bekerja dan berkarya layaknya semua mahkluk di alam semesta. Apakah nanti kita bisa mencapai kekayaan atau keberhasilan dalam suatu hal, itu urusan kemudian. Yang penting, kita sudah memenuhi panggilan selaku seorang manusia.

Terapkan Metode S-T-A-R Sebelum Bertindak

Dalam buku ini, Henry mengemukakan metode yang bisa diterapkan oleh para pembaca untuk membuat hidup sehari-harinya menjadi lebih tenang. Metode tersebut yakni : Stop, Think & Assess, Respond atau STAR.

Saat dihadapkan dengan kondisi hidup yang tidak mengenakan dan membuat kita merasakan emosi negatif, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah berhenti sejenak (STOP). Setelah itu, berpikirlah secara rasional dan berikan penilaian (THINK & ASSESS) apakah emosi negatif yang muncul bisa dibenarkan. Setelah semua langkah tersebut, pikirkanlah apa respon yang sebaiknya diberikan (RESPOND).

Metode STAR sendiri buat saya pribadi, sangat membantu meregulasi emosi saya. Banyak hal yang mungkin terjadi akhir-akhir ini dalam kehidupan membuat saya harus sungkem ke Om Piring (Sapaan akrab anak Twitter buat Henry Manampiring). Walaupun selalu perempuan yang terkadang lebih mengedepankan emosinya saat bertemu dengan berbagai kejadian negatif, tak ada salahnya untuk mengambil jeda sebentar dan berpikir sebelum memberikan respon. Respon yang keliru bisa berakibat buruk pada banyak hal.

Karena buku ini disusun berdasarkan pendapat dari Filsuf Stoa lain, sepanjang buku Anda akan menemukan kutipan-kutipan pemikiran. Misalnya dari Seneca, Marcus Aurelius, dan Epictetus. Di dalam buku ini juga disampaikan trik untuk menghadapi orang yang menyebalkan, menjadi orang tua, serta bagaimana pandangan Filsafat Stoa terhadap kematian.

Meskipun demikian, di dalam buku ini, Henry tidak mengulas apa saja kekurangan dari Filsafat Stoa yang mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk para pembaca sebelum memutuskan untuk menerapkan prinsip-prinsip di dalam buku ini.

Saya akan menutup ulasan ini dengan kutipan yang ditulis oleh filsuf asal Romawi Seneca dalam bukunya On Tranquility of Mind

“Musibah terasa paling berat bagi mereka yang mengharapkan hanya keberuntungan”

Bagi yang ingin membeli buku ini secara online bisa klik di sini.

Menghitung Kebaikan-Kebaikan Kecil

Credit: Unsplash/Brett Jordan.

So Fit, bagaimana rasanya hidup di usia 30 plus? Menyenangkan? Atau justru bikin kepala makin pening?

Apapun yang kita rasakan saat ini, ada satu hal yang patut dirayakan di penghujung hari yakni ternyata kita mampu bertahan satu hari lagi. Bahkan ketika pagi terasa berat dan tubuh tak ingin beranjak dari tempat tidur, nyatanya kita mampu bangun dan pergi melakukan ini serta itu.

Begitu banyak opsi yang kita lakukan untuk menyemangati diri sendiri. Entah minum dua gelas kopi sebelum keluar dari rumah, makan bubur ayam porsi jumbo, mendengar podcast favorit atau sekedar mendengar suara pasangan yang masih ngantuk di ujung telepon. Setiap orang punya cara untuk membakar semangat dalam dirinya.

Kadang untuk bertahan satu hari lagi tidak mudah dilakukan. Terlebih ketika mood hancur dan kata-kata yang bisa keluar hanya “Yaelahhh!”. Kita harus dengan kreatif menemukan cara untuk survive di tengah dunia yang makin chaos ini.

Satu hal yang sering kulakukan belakangan ini untuk menghadapi hari-hari yang cukup buruk adalah menghitung kebaikan-kebaikan kecil yang didapatkan. Entah itu di hari kemarin, minggu lalu atau bahkan di sepanjang tahun. Ternyata setelah dihitung-hitung banyak juga.

Keburukan yang kita alami hari ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat jika dibandingkan dengan kebaikan yang sudah kita nikmati dan dapatkan selama ini. Ibaratnya, meskipun hujan deras sepanjang hari, kita masih bisa ke sana-sini dengan nyaman karena ternyata ada teman yang meminjamkan payungnya.

Kejadian-kejadian yang kita alami dalam hidup sebenarnya sifatnya netral saja. Semuanya tergantung bagaimana cara kita mempresepsikannya. Ya kalaupun kita akhirnya harus melabeli kejadian yang kita alami dengan kata buruk, jangan melupakan kebaikan-kebaikan kecil yang sudah pernah singgah di dalam hidup kita yang fana ini.

Meskipun tidak menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi, tapi mengingat-ingat kebaikan kecil yang pernah dirasakan bisa menjadi cara untuk bertahan, setidaknya satu hari lagi.

Selamat bertahan dan merayakan hidup yang kadang bisa menjadi tidak baik-baik saja.

Happy Belated Birthday Fitri.