Long Shot: Lebih dari Sekedar Komedi Romantis Biasa

Long Shot

 

Long Shot memang bukan film komedi romantis biasa. Terlepas dari kehadiran Seth Rogen dan Charlize Theron, film ini menyajikan kisah komedi yang dibalut parodi  kehiduan politik.

Dalam film garapan sutradara Jonathan Levine ini, Rogen berperan sebagai Fred Flarsky, seorang jurnalis liberal yang punya pikiran idealis. Ia berani menulis artikel yang menyerang pemerintah setempat.

Sementara itu, Theron memerankan Charlotte Field yang memiliki jabatan sebagai Sekretaris Negara. Cantik dan memiliki kehidupan yang super sibuk, Field ternyata memiliki masalah dengan presidennya yang ingin sekali sukses sebagai bintang film.

Keduanya pun bertemu di salah satu acara. Usut punya usut, ternyata saat masih remaja, Charlotte pernah menjadi baby sister untuk Fred. Seiring waktu berjalan, Charlotte pun akhirnya merekrut Fred menjadi bagian dari penulis pidatonya. Kedua sosok ini memiliki karakter yang sangat berbeda jauh. Namun akhirnya keduanya terlibat dalam hubungan asmara.

Semenjak awal, film ini sudah dibumbui dengan sarkasme mengenai realitas kehidupan serta politik yang penuh dengan ilusi dan sangat manipulatif. Banyak quote humor serta adegan lucu yang diselipkan membuat film ini terasa segar.

Saya pribadi sangat suka dengan cerita ini. Penulis skenario berhasil menonjolkan karakter Charlotte sebagai wanita yang independen, kuat dan cerdas namun tetap bisa rapuh bila berhubungan soal cinta.

Di film ini juga memperlihatkan bahwa sebagian wanita itu memang tidak butuh lelaki yang insecure, yang ragu karena jabatan perempuan lebih tinggi dan bla bla bla. Mereka cuma butuh lelaki yang apa adanya dan siap mendukung mereka dalam meraih mimpi mereka. Itu saja. Simpel.

Advertisements

Dua Garis Biru, Realita yang Lekat dengan Keseharian Kita

 

Novel dua garis biru

Judul Buku: Dua Garis Biru
Penulis : Lucia Priandarini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-602-06-3187-5
Jumlah Halaman : 208 Hal

Meski tak ada bioskop di daerah tempat saya tinggal, saya cukup beruntung dengan adanya novel ‘Dua Garis Biru.’ Meski tak bisa menyaksikan langsung akting Lulu Tobing, kekecewaan saya terbayar sudah. Jika kebanyakan film biasanya diadaptasi dari sebuah buku, novel ini adalah kebalikannya.

Novel dibuka dengan adegan Bima yang harus menanggung malu di kelas karena ulangan Fisikanya hanya mendapatkan nilai 40. Kondisi Bima ternyata berbeda 180 derajat dengan kekasihnya, Dara, yang justru mendapatkan nilai 100. Bima yang lahir dari keluarga pas-pasan, bahkan tak tahu setelah lulus sekolah apa yang harus ia lakukan. Sementara Dara sudah memasang target akan berkuliah di Korea Selatan.

Sayangnya, kekhilafan mereka berdua menghancurkan segalanya. Dara positif hamil saat mereka sedang dalam tahap persiapan ujian akhir sekolah. Tentu saja ini tak hanya mengguncang mental keduanya, namun seluruh keluarga besar.

Dara bahkan diusir dari rumah dan ia harus tinggal di rumah Bima. Di satu titik, kedua insan muda ini memutuskan untuk menikah. Bima bahkan harus bekerja di restoran ayah Dara, sambil tetap bersekolah.

Tapi menikah bukanlah solusi segalanya. Banyak konflik yang justru bikin Bima dan Dara semkin jauh. Dari awal hingga akhir, perkembangan karakter tokohnya terlihat nyata, serta ceritanya padat, jelas, tak bertele-tele.

Cara penulis membangun konflik pun keren. Bila ditarik garis, kita akan menemukan dua cara sudut pandang masalah kontras, yakni dari keluarga Dara yang kaya dan terpelajar serta keluarga Bima yang adalah kebalikannya.

***

Apa yang dialami Dara lekat dengan keseharian kita. Saya bahkan pernah punya teman dengan kasus yang sama. Bedanya, hubungan teman saya dan pacarnya saat itu tak berakhir di pelaminan. Mereka memilih jalan masing-masing.

Kehamilan di usia muda tentu saja sangat beresiko. Selain mengancam nyawa ibu dan bayi, pengaruh terhadap psikis ‘orang tua muda’ ini juga sangat besar. Dalam buku ini, Dara diceritakan akan meninggalkan anaknya dan melanjutkan kuliah ke Korea. Tapi tentu saja dalam realita, tak semudah itu dijalankan.

Lewat Dua Garis Biru, selaku orang tua juga kita diberikan warning untuk memberikan pendidikan seks dini kepada anak terutama mereka yang sudah memasuki masa remaja. Terlebih sekarang dengan hanya bermodal gadget, mereka bisa mengakses konten apa pun termasuk video porno.

Saya sewaktu usia remaja, tak pernah ada pembicaraan mengenai seks dengan orang tua. Itu adalah hal yang tabu bahkan saat menonton film yang ada adegan ciuman, saya diperintahkan untuk menutup matatanpa dijelaskan ‘mengapa anak tidak boleh melihat hal itu?’

Pesan yang paling ‘ngena’ dari novel ini adalah selalu ada konsekuensi untuk keputusan yang kita ambil. Jadi ya, tolong pakai otaknya dulu sebelum melakukan hal-hal bodoh nantinya.

4 dari 5 bintang untuk buku ini.

 

Ricardo

Sale on street

Sebagai anak laki-laki berusia 14 tahun, Ricardo tak punya banyak pilihan. Setiap sore, sekitar pukul 15.00, ia harus merelakan waktu bermainnya untuk menjajakan dagangan sang ibu. Entah itu pisang goreng, pisang molen, macam-macam. Seingat saya, dia sudah berjualan cukup lama.

Biasanya Ricardo melewati depan rumah saya dua kali dalam sehari. Kalau beruntung, sekali saja cukup. Hampir setiap hari, kecuali hari Minggu dan hari sedang hujan, Ricardo terlihat berjalan kaki, mengenakan topi, dan memegang toples berisi kue yang hendak ia jual. Di hari-hari tertentu, Ricardo menggunakan sepeda.

Tentu saja, bagi anak seusia Ricardo ini bukan pekerjaan mudah. Di saat semua teman seusianya bermain sepak bola atau balapan sepeda, Ricardo harus mengemban tanggung jawab yang tak bisa ia tolak. Sesekali, saya melihat Ricardo pernah duduk di tepi lapangan bola menyaksikan teman-teman seumurannya bermain. Mungkin saat itu, ia punya mimpi yang sederhana, ingin bermain bola. Itu saja.

img_20190819_1630137832461686300035638.jpg
Pisang molen yang dijual Ricardo

Tapi tak ada yang bisa disalahkan, bahkan orang tua Ricardo pun tidak. Karena sejatinya seperti itulah sebuah keluarga, saling menopang. Seluas apapun pundak orang tua, mereka tak bisa menanggung semuanya sendiri. Beruntunglah, bila Anda lahir di keluarga berkecukupan, sehingga bisa menikmati masa kecil dengan sepuasnya.

Mama saya pernah bercerita, sewaktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia dan saudara-saudaranya juga berjualan kue keliling bahkan sebelum pergi ke sekolah. Hal itu harus mereka lakukan untuk membantu menopang ekonomi keluarga setelah almarhum opa meninggal. Padahal saat itu, alm. oma saya sudah berstatus sebagai seorang PNS.

Tapi mama saya dan saudara-saudaranya tidak pernah menyesal harus merelakan waktu mereka di pagi hari, dimana mungkin sebagian besar anak-anak masih tidur, untuk menjajakan kue. Mereka bahkan kerap menceritakan kejadian-kejadian lucu bahkan yang lebih emosional, berterima kasih ke oma, karena hal itu menjadikan mereka menjadi anak-anak yang lebih tangguh.

Dari Ricardo juga mama serta saudara-saudaranya, saya bisa belajar satu hal. Bila hidup ini hanya memberikanmu satu pilihan, maka jalanilah dengan sukacita. Jadi setiap ada banyak pekerjaan yang menggunung dan ingin menyerah saja, saya kembali mengingat Ricardo. Percikan semangat memang bisa datang dari mana saja.

3 Film Anak-Anak untuk Akhir Pekan Ini

Bagi saya, menonton film bertema anak-anak memang selalu memberi kesenangan tersendiri. Alur cerita yang unik serta akting aktor cilik yang hebat selalu bisa membuat saya terpukau. Dari beberapa film yang pernah saya saksikan, berikut rekomendasi tiga film yang bisa Anda saksikan akhir pekan ini.

  1. Wonder

Wonder

Film ini akan mengajak kamu haru sekaligus takjub dalam satu helaaan napas. Berkisah mengenai pasangan Nate Pullman (Owen Wilson) dan Isabel Pullman (Julia Roberts) yang dikaruniai anak ke dua mereka, August. Augie, begitu ia akrab disapa, lahir dengan kodisi medis, “mandibulofacial dysostosis”, dimana ia memiliki kontour wajah tidak sempurna. Augie bahkan sudah menajalni 27 kali operasi hingga berumur 10 tahun agar membuat wajahnya tampak lebih baik.
Karena takut lingkungan berpengaruh pada Augie, kedua orangtuanya memutuskan agar sang anak mengikuti home school. Namun, saat memasuki kelas 5 SD, mereka ingin Augie mengikuti pendidikan formal.
Pilihan sekolah jatuh kepada Beecher Prep. Augie tentu saja harus berusaha keras untuk beradaptasi. Patah hati dan terluka tentu saja tak bisa dihindari. Tentu saja ini berpengaruh kepada orang disekitar Augie, termasuk kakak perempuannya Olivia Pullman (Izabela Vidovic).
Ditengah dunia yang kejam, beruntunglah Augie memiliki orang tua seperti Nate dan Isabel yang memberikan keberanian besar. Pun peran Olivia yang tak pernah mengganggap Augie sebagai anak ‘istimewa’, justru membuat Augie tumbuh menjadi lebih kuat.

2. Burn Your Maps

Burn Your Maps

Saya memutuskan untuk menonton ini gara-gara penasaran dengan kemampuan akting Jacob Trembley. Dari segi cerita, Burn Your Maps menawarkan konsep yang unik. Film ini mengangkat kisah mengenai Wes Firth (Jacob Trembley), anak berusia 8 tahun. Ia tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, Connor (Marton Csokas) dan Alise Firth  (Vera Farmiga) serta kakaknya, Beca.
Tak seperti anak kebanyakan yang sibuk dengan bermain sepakbola atau sepatu roda, Wes justru terjebak dalam imajinasinya. Entah berasal dari mana, Wes yakin ia sebenarnya adalah seorang penggembala dari Mongolia, dan lahir di keluarga yang keliru. Memenuhi panggilannya, Wes bahkan berpakaian seperti seorang gembala ketika pergi ke sekolah.
Sang ibu, Alise mendukung imajinasi sang anak. Namun, sang ayah, Connor melakukan hal sebaliknya. Jauh sebelum Wes menjadi sumber masalah, pasangan suami istri ini memang sudah dilanda konflik pasca kematian anak bungsu mereka.
Dibantu oleh Ismail, seorang film maker asal Pakistan, Alise lalu membawa Wes terbang ke Mongolia. Ternyata ini menjadi perjalanan yang tak hanya membawa babak baru bagi kehidupan keluarga mereka termasuk juga Ismail.

 

3. Gifted
Gifted

Di Gifted, kita tak akan melihat sosok kapten Amerika yang gagah berani pada sosok Chris Evans. Evans kali ini berperan sebagai Frank Adler, paman dari seorang bocah jenius, Mary Adler. Ibu Mary, Diane, sudah wafat sejak ia kecil.
Tak hanya periang dan cantik, Mary punya kemampuan khusus di bidang matematika. Ia bahkan bisa mengerjakan soal-soal sulit yang tak bisa dikerjakan anak seusianya. Melihat kemampuan Mary, guru kelasnya, Bonnie, memberi tawaran agar Mary mendapatkan beasiswa untuk belajar di kelas khusus. Frank pun menolaknya karena menganggap Mary akan kehilangan masa kecilnya.
Konflik sebenarnya pun dimulai saat ibu Frank, Evelyn, mendengar soal kejeniusan Mary. Meskipu