Berkompromi dengan Kehilangan

source : unspalsh

Hallo Fit, bagaimana rasanya menjalani hari-hari di usia yang baru?

Semakin bertambahnya umur sepertinya kita harus belajar lebih keras untuk berkompromi dengan kehilangan. Kehilangan selalu saja datang tiba-tiba, seperti semilir angin, datang sesuka hati, kapan dan dimana saja ia suka. Banyak hal-hal yang kita genggam erat bahkan terpaksa harus kita lepaskan.

Tak ada yang benar-benar siap mengalami kehilangan baik bagi yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan. Orang kadang berkata lebih berat bagi rasanya ditinggalkan dari pada meninggalkan. Siapa Bilang? Rasanya sama saja seperti ada jarum yang menusuk-nusuk dada, sama-sama sakit cuy!

Tak ada orang yang ingin merasakan sakitnya kehilangan namun di saat-saat tertentu kita harus memilihnya karena terkadang itulah yang terbaik untuk kita di masa depan. Situasi dan kondisi yang memaksa kita ada di persimpangan jalan dan setiap manusia tentu punya pertimbangan pribadi untuk meninggalkan hal-hal bahkan yang paling ia cintai sekalipun.

Dan ya soal kehilangan cinta, itu adalah hal terberat. Patah hati memang menakutkan Fit. Tapi itulah risiko bila ingin merasakan kesenangan karena jatuh cinta. Bayangkan saja, seseorang yang mengisi hari-hari kita tiba-tiba saja pergi. Sungguh mengerikan!.

Memang pada akhirnya jatuh cinta itu menjadikan kita rela menjadi seorang penjudi. Meski kita tahu akan kalah, kita merasa candu dan terus merelakan uang kita untuk keberuntungan yang belum pasti.  Benarlah kata Amy Winehouse dalam lagu yang ia tulis sekitar pada tahun 2007 silam,  “Love is losing game. One I wished, I never played”

Well, kehilangan adalah bagian dari hidup dan kita harus berkompromi dengan itu, sesakit apapun luka yang nanti tertinggal. Walaupun sulit, kita harus belajar menghadapi kehilangan dengan rasional dan perlahan-lahan. Karena move on bukanlah yang mudah.

Tapi kita harus sadar benar bahwa kehilangan adalah hal yang wajar dan dialami semua orang. Matahari harus hilang ketika hujan datang. Malam harus menyingkir ketika matahari tiba. Jadi tidak sepantasnya kita merasa terlalu istimewa dan terus mempertanyakan “kenapa harus aku?”

Satu hal yang aku harap tidak akan hilang darimu adalah kehilangan diri sendiri. Fit, kamu bisa kehilangan siapa saja. Idola, pacar, teman, orang-orang terdekat tapi jangan sampai kehilangan diri sendiri. Hanya itu yang benar-benar kamu punya. Jangan pernah menjadi orang lain. Happy Belated Birthday Ade.

*sebuah kado untuk ulang tahun Fitri, bulan April lalu. 

Good Bye Giorgio

Jpeg

Aku pikir semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. tapi tidak. Tidak ada yang baik-baik saja setelah kepergianmu.

Aku ingat pertama kali kita bertemu, kurang lebih tiga setengah tahun yang lalu. Kau datang ke rumah, masih sangat kecil dan ringkih. Mereka memutuskan mengambilmu yang belum genap tiga bulan itu karena katanya ibumu tak mau lagi menyusui. Lalu mereka menamaimu “Giorgio”.

Awalnya aku biasa saja, tak ada yang spesial. Tapi lama kelamaan, jatuh hati juga lalu sayang. Mungkin karena aku banyak menghabiskan waktu denganmu. Lalu waktu berjalan normal, kau bertambah besar dan meski belakangan kita tidak lagi tinggal serumah, aku selalu berdoa semoga kau baik-baik saja.

Tahun lalu, mungkin tahun terberani dalam hidupku. Aku memilih untuk pergi ke Ambon dan membawamu pulang ke rumah, menempuh perjalanan darat dan naik ferry hampir enam jam lamanya. Mereka nyaris menjualmu, katanya kau nakal dan tidak bisa diatur. Tapi aku yakin tidak ada anjing yang salah. Yang salah adalah bagaimana sang pemilik menilai kebutuhan mereka,

Itu adalah perjalanan pertamaku dari Ambon ke masohi via jalur darat. Aku ingat, hari itu mengambil cuti kerja dan memberimu sebuah tempat tinggal baru. Di dalam mobil, mungkin karena stres dan bingung, kau tidak tidur hanya berdiri memandang ke luar. Tapi pada akhirnya kita berhasil sampai.  Kamu punya  rumah baru.

img_aet6br2487848004037911919.jpg

Aku dan mama memutuskan untuk tidak lagi mengikatmu seperti yang mereka lakukan padamu di rumah yang lama. Belakangan kami baru tahu mengapa engkau sering mengonggong ketika terikat. Kau pernah dikebiri, namun gagal. Hasratmu untuk kawin masih tetap ada. Jadi kami melepasmu walau ya harus sering di jemput karena kamu bucin dan tidak mau pulang rumah ketika sudah ketemu perempuan. CKCK

Beberapa bulan pertama cukup sulit, ya namanya juga beradaptasi dan aku belajar banyak hal. Walaupun masih moody dan tidak bisa disentuh sembarangan orang termasuk mama, kita menjadi kian dekat.

Anjing memang cerdas dan selalu tahu waktu. Setiap pagi (kecuali musim kawinmu), kau selalu membangunkanku jam 5 pagi dan kita harus jalan-jalan. Well, akhirnya jam tidur malamku kembali teratur dan tentu saja, aku harus berolahrga.

Kalau tiba jam makan siang atau makan malam, kau selalu datang menghampiriku atau masuk ke dapur sambil bersin-bersin saat mama sedang menggoreng ikan. Tiga tahun ini aku menjalani sistem kerja remote office, jadi aku bisa bekerja dari rumah. Kau kerap datang menemani, entah itu tidur di pojok kamar atau tidur di ruang tamu dengan posisi dimana matamu bisa melihatku,

Giorgio sangat suka ayam goreng, nasi goreng merah, cake, pie susu, putu ayu, dan ikan yang dimasak pakai bumbu. Kau tidak suka ayam kampung apalagi yang direbus untuk sup. Hampir setahun ini, aku selalu berbagi sekaleng susu bear brand atau sekotak susu ultra dengannya.

Aku ingat persis, di akhir tahun lalu waktu harus mengakhiri hubungan dengan mantan pacar, dimana kami menjalin hubungan hampir 6 tahun. Aku bahkan tidak bisa bercerita untuk siapa-siapa. Tapi Giorgio selalu menjadi teman setia, duduk menemaniku menangis. Walaupun tak bisa berkata apa-apa hanya duduk di sampingku. Mungkin sampai bosan karena aku sering menangis. hahaha.

Sampai akhirnya kau sakit dua minggu lalu, aku pikir itu biasa saja karena kau masih jalan-jalan ke luar rumah, masih menemani aku di luar saat membersihkan halaman. Walau ya, kau banyak menghabiskan waktu di dalam rumah kali ini bahkan sampai pindah posisi tidur ke ruang nonton.

Kami sudah berusaha memberimu obat, memanggil petugas peternakan untuk menyuntikmu. Yah, di sini tidak ada dokter hewan jadi cuma itu yang bisa kami lakukan. Kau akhirnya menyerah berjuang penyakit flu anjing, yang memang sedang musim di sini. Banyak anjing juga yang meninggal karena ini.

Terlepas dari semua kesedihan, ketakutan bahkan kerap bikin pusing kepala, Giorgio telah memberikan satu tahun yang luar biasa untukku. Walaupun aku tahu, aku masih jauh dari sempurna dalam urusan mencintai seekor anjing. Tapi dia adalah alasan untukku selalu cepat-cepat pulang.

Good bye Giorgio, you are the sweetest dog i ever had. Until we meet again!

DSC_1302
Ini Giorgio waktu masih berumur 2 bulan

Hujan dan Kemarau

Rainy Day

*
Namanya Hujan. Aku bertemu dengannya pada malam dimana segala penyair melarungkan puisinya ke langit, pada suatu Desember yang basah.
Bola matanya yang bulat penuh, mengingatkanku pada bayangan bulan di lautan lepas. Senyumnya seperti menarik jiwa yang tersesat pulang kembali.

Ia perempuan berkepala paling bebas yang pernah aku temui. Tindak tanduknya kadang seperti hujan yang datang tiba-tiba. Mengejutkan. Ia pernah bilang, cinta itu membebaskan dan tak perlu satu komitmen untuk mengekangnya.

Kata dia, komitmen hanya milik orang-orang penakut, yang selalu merasa tak aman akan masa depan, yang merasa takut hidup tanpa cinta padahal cinta adalah diri mereka sendiri.

 **

“Kamu takut menikah?” tanyaku padanya di suatu sore yang merah

Ia tertawa. Aku menatapnya lekat.

“Bukankah cinta itu membebaskan?,” Ujarnya.

Ia tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. Aku bergeming

“Lalu mengapa ketika kita mencintai seseorang kita ingin mengaturnya? Pernikahan? Haruskah kedua orang yang saling mencintai itu menikah?” lanjutnya

Sore yang semakin hening

“Apakah itu cinta? Ataukah hanya upaya pemenuhan ego dalam diri? Kalau cinta dibumbui ego masih pantaskah dia disebut cinta?”

Aku terbahak. Ia tersenyum puas. Ia tahu telah memenangkan logikaku sepenuhnya.

Ia mengajariku melihat dunia dari sisi yang berbeda. Dunia diluar kebenaran hakiki yang normatif. Dan aku terpesona sungguh lalu aku jatuh berkali-kali kedalam isi kepalanya.

Namanya Hujan dan seperti itulah, ia selalu datang menyejukan kemarau panjang di dada. Sampai pada suatu titik, aku takut.
Kian lama aku jatuh kepadanya, kian kuat inginku untuk mengekangnya dalam komitmen. Aku hanya ingin dia selalu kembali padaku.

Lantas, aku memilih pergi karena aku tahu komitmen akan membunuhnya perlahan-lahan. Isi kepalanya tak akan pernah bisa jadi sesempit kepala perempuan kebanyakan.
Dan aku mencintainya lebih dari diriku sendiri.

Toh, dia akan selalu baik-baik saja.
Aku lebih memilih membunuh diriku sendiri berkali-kali asalkan dia dan kebebasannya selalu hidup. Itu sudah lebih dari cukup.
Aku pergi dengan satu keyakinan bahwa cinta memang membebaskan.

***
Namanya Kemarau. Aku bertemu dengannya saat para penyair riuh mengumandangkan puisi di suatu Desember yang basah. Lalu ia nampak bagai api dengan puisi-puisinya yang maha indah.
Aku terbakar pada kata-kata dan mimiknya. Aku terpesona.

Ia lelaki berkepala paling keras yang pernah kutemui. Namun keras kepala kadang membuatnya terlihat menggemaskan. Lantas aku ingin menyimpannya dalam dada seutuhnya.

Ia mungkin paranormal. Aku tak pernah mengerti isi kepalanya.
Ia lelaki pertama yang bertanya padaku, “Kamu takut menikah?”

Aku tertawa. Ia menatapku lurus.

“Bukankah cinta itu membebaskan?,” Ujarku

Aku tersenyum. Ia bergeming


“Lalu mengapa ketika kita mencintai seseorang kita ingin mengaturnya?

Pernikahan? Haruskah kedua orang yang saling mencintai itu menikah?” cecarku

Sore yang mistis

“Apakah itu cinta? Ataukah hanya upaya pemenuhan ego dalam diri?  Kalau cinta dibumbui ego masih pantaskah dia disebut cinta?”

Ia terbahak. Aku senang bisa memenangkan logikanya.

Ia selalu saja tahu apa yang aku butuhkan, bukan yang menjadi keinginanku. Ia selalu bisa memeluk diwaktu yang tepat dan menahan diri untuk memeluk diwaktu yang tepat pula.

Apa dia malaikat? Semakin aku dekat dengannya, semakin aku takut. Aku takut aku menjadi bergantung padanya.
Namun satu hal yang tak pernah ku duga, aku menjadi lebih takut bila kehilanganya.

Pada satu titik, aku ingin sekali dikurung dengan semua kebodohan aturan normatif dunia ini asalkan aku bisa bersamanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin berkomitmen. Aku ingin percaya pada lembaga bernama pernikahan.

Sayangnya, ia mulai menjauh. Entah apa penyebabnya. Aku telah berlari mengejarnya, tetapi ia lebih cepat berlari meninggalkanku.

Namanya Kemarau dan ia telah meninggalkan kemarau panjang di dadaku semenjak dia perlahan-lahan pergi.

****
Nama mereka Hujan dan Kemarau. Mereka membiarkan cinta dalam diam perlahan-lahan membunuh diri mereka sendiri.
Apakah cinta memang harus selalu membebaskan?
Apakah orang-orang yang saling jatuh hati harus pergi menjauh dulu untuk kembali saling menemukan?

 

Bagaimana Mungkin Aku Tidak Merindukanmu?

un 5
Bagaimana mungkin aku tidak rindu bila selalu mengingat detil-detil kecil tentang kamu?

Aku ingat pertama kali, aku jatuh hati padamu. Malam itu, kita sudah sepakat untuk makan bersama. Namun kamu lagi-lagi terlambat karena pekerjaan yang masih menumpuk. Tentu saja aku kesal sekali terlebih sudah begitu lapar. Lalu tiba-tiba kau datang, membawa satu kotak susu Ultra Cokelat dan dua bungkus beng-beng. Tak banyak pria yang begitu.

Lalu setelah itu, kamu dan aku bersepakat untuk mencoba segala kemungkinan menjadi kita. Saling bertukar masa lalu, cerita hari ini dan mimpi mengenai hidup sederhana dengan lahan luas untuk menanam ratusan pohon, 1/4 darinya harus mangga karena kau begitu suka mangga.

Sungguh tidak pernah gampang menyatukan dua kepala. Selalu ada pertengkaran dibalik ciuman dan pelukan kecil yang manis. Tapi anehnya, gempuran sana-sini tak pernah membuat kita gentar, malah lebih kuat menggenggam. Me and You versus The World bukan masalah besar.

Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu?

Aku selalu ingat, bila kita usai bertemu, kau selalu menghadiahi tanda salib di dahi. Katamu, supaya malaikat menemaniku bila kau tak ada. Kau pun pernah mengecup kelopak mataku karena tak tahan melihatku terus menangis.

Aku rindu menyelami isi kepalamu yang seluas semesta itu. Rindu bertengkar mengenai siapa yang terbaik: AC Milan atau Chelsea, Fabio Quatararo atau Valentino Rossi. Atau mengenai perda, mekanisme pengereman, dan bla bla bla yang selalu kau tahu dari A sampai Z. Katamu, wartawan itu harus cerdas kalau tidak mati saja.

Lalu suatu hari siapa sangka, kau berlari begitu kencang dan aku tak mampu mengejar lagi. Hati yang aku bawa terlalu berat dan kau bahkan tak menoleh ke belakang untuk sekedar berbagi beban. Sekarang hanya ada me versus the shit world.

Apakah kita memang tak bisa berkompromi dengan jarak atau hanya pada egoisme busuk di dalam diri kita yang enggan berjuang? Dengan semua yang terjadi, aku tak pernah berhenti merenung, apakah memang hidup harus selucu ini ya?