Kita dan Cerita-Cerita yang tak Pernah Selesai

Rainy Day

Lalu, setelah merenung berjam-jam, aku akhirnya tahu tak ada yang jalan masuk yang tepat untuk memulai tulisan ini selain dari patah hati. Kau tahu, aku mengakhiri tahun 2019 dengan hati yang patah. Tapi di awal 2020, kamu membuat lukanya semakin dalam hingga tak ada lagi yang tersisa selain sesal.

Hidup terkadang terlalu lucu hingga membuatmu tertawa sampai menangis. Aku sering bertanya-tanya, kenapa kerap kali manusia dipermainkan oleh waktu dan keadaan?

Kau mungkin tak pernah tahu, betapa aku gembira melihat dirimu malam itu? Setelah sekian lama kita tak bertemu dan tiba-tiba saja takdir menuntun mata kita untuk kembali saling menatap. Tentu saja, aku langsung refleks mencium ke dua pipimu, sesuatu yang seharusnya sudah aku lakukan sejak lama.

Aku ingat pertama kali kita bertemu, kita masih sangat muda. Aku dan kamu masih berbalut pakaian merah putih. Lalu kita beranjak menjadi remaja di SMP yang penuh gejolak emosi. Masih jelas di ingatanku, di suatu siang, saudara sepupuku membisikan sesuatu yang agak aneh di kuping. Katanya, kamu suka padaku.

Tapi tentu saja aku dan kekerenanku saat itu tak ingin melibatkan diri dalam hal-hal remeh seperti cinta monyet goblok yang akan membuatmu kehilangan keseimbangan. Ku beri tahu satu rahasia, aku baru punya pacar saat kuliah. Keren kan?

Lalu usai itu kita jarang bertemu sibuk mengurus hidup dan tetek bengeknya. Lantas takdir lagi-lagi mempertemukan kita yang sudah ada di dunia kerja. Lewat media sosial, kita saling bertukar kontak. Aku masih ingat tempat makan favorit kita, dimana pelayannya selalu menganggap kita sepasang kekasih, kamu yang sering datang terlambat setiap kali janjian dan cerita-cerita konyol yang saling kita tukar hingga larut malam.

Sampai sekian tahun berlalu, aku tidak pernah benar-benar yakin, kamu pernah memiliki perasaan lebih dari seorang teman kepadaku. Kamu bilang, sudah kerap kali melempar kode. Tapi aku bukan wanita yang suka dikirimi kode. Kalau memang suka ya bilang. Tapi entahlah. Mungkin aku yang terlalu bodoh tidak memahamimu dan banyak menghabiskan waktu untuk membahas lelaki lain yang saat itu membuatku terpana.

Mungkin aku terlalu takut merusak hubungan pertemanan kita. Tapi kau pernah bilang, kau tidak pernah ingin jadi temanku. Hanya aku yang terlalu angkuh saat itu. Maaf.

Aku tidak tahu, bagaimana harus menjelaskannya. Begini, mungkin aku menyayangimu dengan caraku sendiri dan masih sama sampai sekarang. Aku masih marah kenapa kamu tidak bisa berjuang dengan sedikit lebih keras? Menunggu sedikit lebih lama? Kenapa kamu harus memilih jalan yang lain?. Aku marah pada diriku sendiri yang terlalu terlambat menyadari bahwa akulah yang membuatmu pergi.

Aku selalu suka dengan caramu menatapku, selalu sama hingga kemarin. Matamu yang bulat sempurna, cahaya di dalamnya masih sama. Aku juga baru tahu kau memiliki suara yang merdu. Kenapa dulu tak pernah menyanyikanku sebuah lagu?

Yang paling menyakitkan adalah kamu pergi tanpa sepatah kata pun setelah bilang bahwa pernah memiliki rasa padaku. Kau pergi menyisakan lubang di hatiku. Lubang yang tak bisa aku tutupi meski kemarin sudah menegak berkaleng-kaleng bir, makan satu toples kue kering, manisan mangga, martabak manis. Jingan! Patah hati repot amat ya.

Hidup memang begitu lucu dan aku tak tahu apakah harus benar-benar menghilang dari mu atau tetap ada meski hanya samar-samar. Tapi sungguh aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir!

Bagaimana Mungkin Aku Tidak Merindukanmu?

un 5
Bagaimana mungkin aku tidak rindu bila selalu mengingat detil-detil kecil tentang kamu?

Aku ingat pertama kali, aku jatuh hati padamu. Malam itu, kita sudah sepakat untuk makan bersama. Namun kamu lagi-lagi terlambat karena pekerjaan yang masih menumpuk. Tentu saja aku kesal sekali terlebih sudah begitu lapar. Lalu tiba-tiba kau datang, membawa satu kotak susu Ultra Cokelat dan dua bungkus beng-beng. Tak banyak pria yang begitu.

Lalu setelah itu, kamu dan aku bersepakat untuk mencoba segala kemungkinan menjadi kita. Saling bertukar masa lalu, cerita hari ini dan mimpi mengenai hidup sederhana dengan lahan luas untuk menanam ratusan pohon, 1/4 darinya harus mangga karena kau begitu suka mangga.

Sungguh tidak pernah gampang menyatukan dua kepala. Selalu ada pertengkaran dibalik ciuman dan pelukan kecil yang manis. Tapi anehnya, gempuran sana-sini tak pernah membuat kita gentar, malah lebih kuat menggenggam. Me and You versus The World bukan masalah besar.

Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu?

Aku selalu ingat, bila kita usai bertemu, kau selalu menghadiahi tanda salib di dahi. Katamu, supaya malaikat menemaniku bila kau tak ada. Kau pun pernah mengecup kelopak mataku karena tak tahan melihatku terus menangis.

Aku rindu menyelami isi kepalamu yang seluas semesta itu. Rindu bertengkar mengenai siapa yang terbaik: AC Milan atau Chelsea, Fabio Quatararo atau Valentino Rossi. Atau mengenai perda, mekanisme pengereman, dan bla bla bla yang selalu kau tahu dari A sampai Z. Katamu, wartawan itu harus cerdas kalau tidak mati saja.

Lalu suatu hari siapa sangka, kau berlari begitu kencang dan aku tak mampu mengejar lagi. Hati yang aku bawa terlalu berat dan kau bahkan tak menoleh ke belakang untuk sekedar berbagi beban. Sekarang hanya ada me versus the shit world.

Apakah kita memang tak bisa berkompromi dengan jarak atau hanya pada egoisme busuk di dalam diri kita yang enggan berjuang? Dengan semua yang terjadi, aku tak pernah berhenti merenung, apakah memang hidup harus selucu ini ya?

Long Shot: Lebih dari Sekedar Komedi Romantis Biasa

Long Shot

 

Long Shot memang bukan film komedi romantis biasa. Terlepas dari kehadiran Seth Rogen dan Charlize Theron, film ini menyajikan kisah komedi yang dibalut parodi  kehiduan politik.

Dalam film garapan sutradara Jonathan Levine ini, Rogen berperan sebagai Fred Flarsky, seorang jurnalis liberal yang punya pikiran idealis. Ia berani menulis artikel yang menyerang pemerintah setempat.

Sementara itu, Theron memerankan Charlotte Field yang memiliki jabatan sebagai Sekretaris Negara. Cantik dan memiliki kehidupan yang super sibuk, Field ternyata memiliki masalah dengan presidennya yang ingin sekali sukses sebagai bintang film.

Keduanya pun bertemu di salah satu acara. Usut punya usut, ternyata saat masih remaja, Charlotte pernah menjadi baby sister untuk Fred. Seiring waktu berjalan, Charlotte pun akhirnya merekrut Fred menjadi bagian dari penulis pidatonya. Kedua sosok ini memiliki karakter yang sangat berbeda jauh. Namun akhirnya keduanya terlibat dalam hubungan asmara.

Semenjak awal, film ini sudah dibumbui dengan sarkasme mengenai realitas kehidupan serta politik yang penuh dengan ilusi dan sangat manipulatif. Banyak quote humor serta adegan lucu yang diselipkan membuat film ini terasa segar.

Saya pribadi sangat suka dengan cerita ini. Penulis skenario berhasil menonjolkan karakter Charlotte sebagai wanita yang independen, kuat dan cerdas namun tetap bisa rapuh bila berhubungan soal cinta.

Di film ini juga memperlihatkan bahwa sebagian wanita itu memang tidak butuh lelaki yang insecure, yang ragu karena jabatan perempuan lebih tinggi dan bla bla bla. Mereka cuma butuh lelaki yang apa adanya dan siap mendukung mereka dalam meraih mimpi mereka. Itu saja. Simpel.

Dua Garis Biru, Realita yang Lekat dengan Keseharian Kita

 

Novel dua garis biru

Judul Buku: Dua Garis Biru
Penulis : Lucia Priandarini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-602-06-3187-5
Jumlah Halaman : 208 Hal

Meski tak ada bioskop di daerah tempat saya tinggal, saya cukup beruntung dengan adanya novel ‘Dua Garis Biru.’ Meski tak bisa menyaksikan langsung akting Lulu Tobing, kekecewaan saya terbayar sudah. Jika kebanyakan film biasanya diadaptasi dari sebuah buku, novel ini adalah kebalikannya.

Novel dibuka dengan adegan Bima yang harus menanggung malu di kelas karena ulangan Fisikanya hanya mendapatkan nilai 40. Kondisi Bima ternyata berbeda 180 derajat dengan kekasihnya, Dara, yang justru mendapatkan nilai 100. Bima yang lahir dari keluarga pas-pasan, bahkan tak tahu setelah lulus sekolah apa yang harus ia lakukan. Sementara Dara sudah memasang target akan berkuliah di Korea Selatan.

Sayangnya, kekhilafan mereka berdua menghancurkan segalanya. Dara positif hamil saat mereka sedang dalam tahap persiapan ujian akhir sekolah. Tentu saja ini tak hanya mengguncang mental keduanya, namun seluruh keluarga besar.

Dara bahkan diusir dari rumah dan ia harus tinggal di rumah Bima. Di satu titik, kedua insan muda ini memutuskan untuk menikah. Bima bahkan harus bekerja di restoran ayah Dara, sambil tetap bersekolah.

Tapi menikah bukanlah solusi segalanya. Banyak konflik yang justru bikin Bima dan Dara semkin jauh. Dari awal hingga akhir, perkembangan karakter tokohnya terlihat nyata, serta ceritanya padat, jelas, tak bertele-tele.

Cara penulis membangun konflik pun keren. Bila ditarik garis, kita akan menemukan dua cara sudut pandang masalah kontras, yakni dari keluarga Dara yang kaya dan terpelajar serta keluarga Bima yang adalah kebalikannya.

***

Apa yang dialami Dara lekat dengan keseharian kita. Saya bahkan pernah punya teman dengan kasus yang sama. Bedanya, hubungan teman saya dan pacarnya saat itu tak berakhir di pelaminan. Mereka memilih jalan masing-masing.

Kehamilan di usia muda tentu saja sangat beresiko. Selain mengancam nyawa ibu dan bayi, pengaruh terhadap psikis ‘orang tua muda’ ini juga sangat besar. Dalam buku ini, Dara diceritakan akan meninggalkan anaknya dan melanjutkan kuliah ke Korea. Tapi tentu saja dalam realita, tak semudah itu dijalankan.

Lewat Dua Garis Biru, selaku orang tua juga kita diberikan warning untuk memberikan pendidikan seks dini kepada anak terutama mereka yang sudah memasuki masa remaja. Terlebih sekarang dengan hanya bermodal gadget, mereka bisa mengakses konten apa pun termasuk video porno.

Saya sewaktu usia remaja, tak pernah ada pembicaraan mengenai seks dengan orang tua. Itu adalah hal yang tabu bahkan saat menonton film yang ada adegan ciuman, saya diperintahkan untuk menutup matatanpa dijelaskan ‘mengapa anak tidak boleh melihat hal itu?’

Pesan yang paling ‘ngena’ dari novel ini adalah selalu ada konsekuensi untuk keputusan yang kita ambil. Jadi ya, tolong pakai otaknya dulu sebelum melakukan hal-hal bodoh nantinya.

4 dari 5 bintang untuk buku ini.