Biolovers

Dear Biolovers,

Jadi sudah berapa lama kita tak saling bertatap muka?? Duduk bercerita yang tak ada ujungnya sambil menikmati makanan. Yah, kita selalu saja banyak makan. Hahaha.

Aku yakin pagi ini dimanapun saja kalian berada, semua akan dilimpahi rahmat yang besar.

Rindu memang kadang datang tak tepat waktu. Saat segala kemungkinan tak bisa lagi ditaklukan, saat jarak tak bisa diprpendek, rindu itu semakin menjadi-jadi, tak tahu diri merasuk setiap inchi.

Aku rindu kebersamaan kita yang sederhana seperti duduk di laboratorium menanti hasil uji berjam-jam, masuk kuliah pagi dengan mata mengantuk atau sama-sama menggerutu karena diagram bunga yang bikin pengen masuk dalam kulkas aja.

Ah, pertemuan kita selalu saja konyol, dan entah mengapa kita tak pernah bisa berhenti tertawa.

Dan untuk setiap kesalahan di masa lalu, yang terungkapkan ataupun tidak, aku tahu bahwa hati kita tak pernah benar-benar saling membenci.

Jadi, ayo kumpulin duit kita reuni di Bali Lagi!
Secepatnya ya.

I miss and love you all my dearest friend :*
-M-

BERHENTI

Akhir-akhir ini saya juga sibuk, membereskan pekerjaan di siang hari, malamnya kalau sempat membaca atau menyelesaikan tulisan dan gambar. Tapi seminggu ini, saya merasa sangat lelah. Mungkin karena beban kerja yang semakin meninggi, mungkin juga karena hidup memberi saya kesempatan untuk patah hati lagi.

Beberapa hari lalu, saya duduk sendiri sambil makan siang, menyesap mocca float dan membaca buku. Orang-orang di sekeliling pun sibuk berbincang, ada yang sibuk berpindah, sibuk mengurus dirinya sendiri. Saya pun sibuk dengan diri sendiri. Dunia dan segala isinya seolah tak punya jeda untuk berhenti.

Lalu setelah makan, saya meletakkan buku sejenak, memasukan gadget dalam tas dan memusatkan pandangan ke sekeliling. Saya berhenti menyibukkan diri saya sendiri. Tidak, kala itu saya tidak sedang menerka-nerka kemana arah pembicaraan orang-orang itu atau kemana mereka hendak pergi. Saya hanya menikmati tindak tanduk mereka.

Aneh? Mungkin untuk kalian tapi saya rasa normal saja.

Saya berhenti sejenak mempedulikan diri saya, berhenti bertanya mengapa, berhenti membangun prasangka atas orang dan mulai menjadi pengamat dengan kepala kosong.

Bagaimana orang bisa menjadi pengamat dengan kepala yang kosong? Bisa kalau kita mau. Kalau tak ada kemauan mana bisa hal-hal akan terwujud?

Saat itu saya sedang dalam fase mengosongkan diri, melepas segala keegoisan dan prasangka :)

Dan setelah itu, saya tahu selalu ada muatan baru yang menanti di depan, segala prasangka dan pembenaran diri yang melelahkan.

Ah, tenang. Nantinya saya perlu lebih banyak berhenti biar tetap waras.

Cerita Tentang Nelayan

Peter,
Sore ini aku teringat akan cerita tentang seorang nelayan yang tinggal dihadapan rumahku.
Ia sering pergi melaut di sore hari, meninggalkan istri dan anak-anaknya. 
Ia selalu meninggalkan pantai dengan penuh semangat, tenggelam dalam merahnya senja dengan penuh harapan dan berjanji akan membawa pulang ikan yang banyak untuk istri dan anak-anaknya.
Tapi keesokan harinya ia tak kunjung pulang.
Semua orang cemas dan berdoa.
Besoknya pun masih tetap tak ada berita.
Orang-orang lelaki bergegas mencari, tapi nihil.
Perempuan-perempuan meratap tapi air mata mereka dikalahkan ombak.
Istri dan anak-anaknya melarung doa setiap pagi di kaki langit.
Lalu sebulan kemudian, tersiar kabar ; nelayan itu bertemu putri duyung cantik di ujung selat, mereka saling jatuh cinta dan mereka memilih hidup bersama di kerajaan laut.
Meski nelayan itu tahu, harga yang harus mereka bayar sangat mahal : kematian.

Ah,
Mungkin nanti, entah dimana dan kapan kita akan bertemu orang-orang yang akan diam-diam mencuri napas.
Bertemu orang yang mungkin tak kita lihat wajahnya sehari saja, seperti mau mati.
Mungkin kau dan aku kemudian akan melupa tentang janji yang kita buat saat purnama datang di akhir Desember.
Mungkin kau dan aku, akan lebih berani menerjang apapun lebih dari saat kita menjadi kita.
Dan lalu kemungkinan-kemungkinan lain yang tak ingin dibayangkan sepasang kekasih yang telah memasuki tahun ke empat masa kebersamaannya.

Orang selalu bilang cinta selalu butuh waktu lama untuk dipahami, dan cinta yang dewasa bukan lagi cinta-cinta penuh pesona, yang sekali menatap dan boom. Hal-hal instan jarang sekali berumur panjang.

Tapi mereka, orang-orang pandai itu lupa, cinta itu bukan soal defenisi, bukan juga soal seberapa lama kita bersama. Percaya atau tidak cinta selalu menembus begitu banyak hal, mau atau tidak mau.

Yang tersisa hanyalah pertanyaan, kamu berani atau tidak menembus batas-batas itu?

Aku tak bisa mengatakan, apa aku orang yang tepat untukmu atau tidak karena seiiring waktu semua hal selalu berubah, termasuk kau dan aku.
Aku tidak pernah takut Peter untuk ditinggalkan atau meninggalkan, karena kehilangan itu pasti suatu saat nanti.
Seperti nelayan yang selalu pergi untuk melaut, demikianlah kita para pecinta. Melangkah masuk dalam sebuah kemungkinan tak pasti.

Jadi apapun yang terjadi besok, siapapun yang akan kau temui besok, sampai saat ini aku tak peduli.
Kau tau hingga kini aku masih mencintaimu sepenuh dada.
Mencintaimu dengan segenap kemungkinan yang kau bawa besok hari.

Dari
*gadis kecilmu*

Hujan

Kepada hujan,
Entah kenapa aku ingin menulis surat untukmu sore ini.
Mungkin karena aku teringat seorang lelaki keras kepala yang begitu membencimu.
Katanya dia membencimu sama seperti dia membenci tomat.
Padahal kau tahu hujan, aku begitu menyukaimu dan juga tomat
Kami begitu berbeda bukan?
Akhir-akhir ini kami saling berjalan menjauhi.
Aku benar-benar marah pada dirinya, keadaan ini begitu juga pada diriku sendiri.
Tapi pada satu titik, aku masih berdiri dan mengharapkan dia datang dan meraihku.
Ah hujan, sesekali aku ingin sekali menjelmamu. Karena dengan itu, aku bisa bebas menjumpainya sesekali, menyentuh kepalanya, dan kalau beruntung juga mata indahnya.
Tapi iu mustahil bukan?
Jadi hujan, semoga sebentar lagi engkau datang menyapa bumi, biar resah dadaku bisa sedikit lenyap.

Dari yang mencintaimu,
M