Prompt #67: Surga Kita

“ Seandainya kita hidup di surga, pasti tak akan susah begini.”

“Berarti harus mati dulu?”

“Tak perlu. Kata uwak, surga itu ada di telapak kaki ibu.”

“Benarkah?”

Ijat tersenyum mengiyakan, lantas aku merenung.

 ***

Malam sudah larut. Aku mengendap-endap menuju kamar ibu. Dia tertidur begitu lelap hingga tak menyadari keberadaanku. Lalu dengan cepat aku menebas pergelangan kakinya dengan parang. Dia sontak terbangun lalu menjerit keras. Aku tak peduli. Kuambil potongan kakinya, lalu berlari menuju tepi sungai. Disana kulempar onggokan daging ke dalam air sekuat tenaga.

“Tenang saja ibu, besok seluruh desa ini akan menjelma surga. Kita tak lagi sengsara.”

#98Kata

Memasuki Dunia Di Balik Pintu Kayu

dok. pri
dok. pri

Judul : Dunia Di Balik Pintu Kayu

Penulis : Sulung Lahitani, Nina Nur Arifah, Ria Rochma, dkk.

Ide dan Konsep : Harry Irfan

Ilustrasi Sampul : Masya Ruhulessin

Design Sampul : Carolina Ratri

Penerbit : Monday Flashfiction

 

Ketika membaca “Dunia Di Balik Pintu Kayu” saya seperti menaiki mesin waktu kembali ke event yang diadakan grup Monday Flashfiction tahun lalu. Saya mengikuti perkembangan event tersebut sudah di pertengahan sebagai audience dan salah satu penyumbang prompt di grand final. Lalu sekitar bulan Desember Mbak Carra (Salah satu Admin MFF) menghubungi saya untuk membuat sketsa/gambar untuk keperluan cover buku terbaru (ini merupakan buku ke dua) dari Monday Flashfiction, dan saya selesaikan di bulan Februari. Saat buku ini akhirnya bisa dipesan pre order Agustus kemarin, letupan emosi masih membuncah jika mengingat lagi keseruan event kemarin.

Buku ini sendiri terdiri dari 40 Flashfiction terbaik, yang sudah melewati proses seleksi sebelumnya. Diawali dengan 8 karya flashfiction 100 kata yang merupakan tantangan dalam proses audisi. Para penulis berhasil dengan cerdas membungkus kejutan meskipun jumlah kata sangatlah terbatas. Kemudian masuk ke fiksi mini stage, dimana penulis merangkai sebuah cerita berdasarkan fiksi mini yang ada. Di stage ini favorit saya adalah flashfictionnya uda Sulung, “Rumah Boneka Lettya”. Sulung berhasil membangun cerita dengan baik, sehingga saya seperti benar-benar menyaksikan setiap fragmen cerita secara langsung. Flash fiction lain yang merupakan favorit adalah milik Ririn Indrianie dan Ria dan Jiah Al Jafara dalam Deconstruction Stage, dimana penulis ditantang untuk mendekonstruksi cerita rakyat, yang sukses bikin tawa meledak sempurna.

Pada halaman-halaman selanjutnya begulir flash fiction dari beberapa tahap seleksi hingga akhirnya mencapai tahap grand final dan ditutup dengan baik oleh “Pemulung Bola Mata” milik Uda Sulung. Dari keseluruhan karya yang ditampilkan, penyeleksi sudah cukup baik memilah hingga kepuasan sebagai pembaca terbayar. Sayangnya penempatan halaman yang tak seperti biasanya, dirasa agak menggangu.

Well, untuk yang sedang belajar menulis flashfiction buku ini bisa menjadi salah satu referensi belajar. Saya menanti karya-karya selanjutnya dari grup MFF dan semoga MFF Idol diadakan lagi dalam waktu dekat.

3 dari 5 bintang untuk buku ini.

Menanti Merdeka

Ziarah ragu

Banyak hal di dunia ini yang tak pernah bisa dimengerti bagaimana cara kerjanya, tersmasuk saat dua orang keras kepala seperti kita saling jatuh cinta. Kau tahu kenapa aku jatuh cinta padamu? Tak ada alasannya. Hahaha. Hal barusan kalimat paling bulshit yang pernah aku ucapkan. Selalu ada alasan kuat mengapa aku jatuh cinta pada seorang pria keras kepala sepertimu. Mau tahu? Pulanglah dan akan kuberitahu. Kau pernah bilang marilah kita mengungkap apa yang pertama kali ada dalam kepala kita sesekali. Itu jarang terjadi kecuali kita sedang berdekatan. Kehadiran kadang melemahkan pertimbangan akan sesuatu, jadi pulanglah. Kau tahu kan aku jarang mengucap rindu? Ungkapan rindu itu terkadang membunuh apalagi jarak ini tak bisa kita pangkas dengan mudah. Jadi aku memutuskan bertanya “apa kabarmu?” Karena dengan tahu kamu baik-baik saja sudah menuntaskan seluruh rinduku.

Untuk tinggal dalam daerah abu-abu seperti sekarang ini, aku rasa kita cukup berani melewati batas semua orang normal. Bukankah kalau kita gemetar, kita masih bisa saling memeluk lewat doa? Mungkin suatu saat, kita akan jadi kebetulan yang menyenangkan atau ketidaksengajaan yang menyedihkan. Entahlah. Aku tahu kita tak pernah suka mengira-ngira masa depan. Jadi biarlah begini saja. Kita sedang menanti waktu yang tepat, walaupun semua waktu adalah selalu tepat.

Aku harus minta maaf ketika pernah mengatakan ingin pergi. Mungkin jika ada didekatku, kau akan menghadiahiku tatapan mengerikan itu. Tapi untuk mengatakan aku ingin tinggal selamanya itupun terlalu sulit meskipun kau telah mengatakan jangan pernah hilang darimu. Sepertinya kita harus bertemu sekali lagi, untuk memutuskan kemana kita akan menuju. Tidak perlu banyak berharap dan bicara. Cukup duduk bersisian, saling mengerat jemari dan bernapas seperti biasa. Itu sudah lebih dari cukup untuk memantapkan pilihan.

Jadi pulanglah biar kita benar-benar merdeka.

Menemukan Rumah Yang Tepat

Say All I Need
Say All I Need

Saya sering mengibaratkan komitmen yang dibuat dengan pasangan bagai tinggal didalam sebuah rumah. Ketika kita tak lagi nyaman didalamnya, entah apapun masalahnya, akan selalu berujung pada dua pilihan, leave it or fix it. Saya termasuk orang yang memilih opsi pertama. LEAVE IT. Pernah beberapa kali saya mencoba opsi kedua, tapi sepertinya opsi itu tak pernah berhasil untuk saya. Saya terkadang begitu lelah membuang energi untuk memperbaiki masalah (yang biasanya tetap sama) dan meredam ego pada jangka waktu tertentu. Karena saya yakin betul, potensi konflik terjadi lagi di kemudian hari masih besar. Apalagi akar masalah masih saja sama, itu itu melulu dan sepertinya jalan keluar adalah kemustahilan. Buat apa terus tinggal di dalam rumah yang menguras begitu banyak energi? Padahal rumah adalah tempat kita untuk melepas lelah, berleha-leha, meraih kembali enargi. Saya sadar benar, dalam hubungan dengan orang lain bukannya tanpa masalah. Tapi jika selalu berputar-putar dalam lingkaran yang sama? Oh C’mon. The world is so wide dude.

Beberapa orang suka untuk memperbaiki rumah mereka yang rusak, ditambal sana-sini biar (terlihat) layak ditinggali terus. Saya sempat bertukar cerita dengan beberapa orang yang memilih bertahan dengan pasangan lamanya meskipun jelas-jelas mereka sudah tak lagi nyaman satu sama lain. Misalnya mengalami curiga berlebihan dan malas membangun interaksi dengan pasangannya. Bahkan ada yang setiap hari bertengkar untuk masalah-masalah yang katanya kecil!!!! Bayangkan ketika kalian tinggal di dalam sebuah rumah yang sudah bocor sana-sini, yang keran airnya sering mati, belum lagi sepertinya jalan untuk mencapai pemecahan masalah selalu buntu. Kita ngomong aja sama tembok.

Saya tahu, memutuskan untuk pindah dan mencari sebuah rumah baru bukan perkara mudah. Kita enggan beranjak dari tempat yang lama (meskipun karena tak lagi nyaman) biasanya karena rumah tersebut menyimpan banyak kenangan. Sayang jika semua pengorbanan yang sudah kita usahakan untuk rumah itu kita abaikan begitu saja. Belum lagi pemikiran mengenai masa depan yang belum pasti jika akhirnya kita memutuskan untuk memilih rumah yang baru. Ketakutan akan ketidakpastian memang mengerikan.

Pergi dan melupakan kenangan adalah seperti meletakan pisau sekian sentimeter di depan leher kita. Jika nekat menusukan leher kita sekuat tenaga kesana, mungkin kita akan mati. Bukan mati secara harafiah, tapi mirip orang yang hatinya hancur, mati semangat hidup. Tak ada yang pernah siap untuk pergi meninggalkan tempat yang dia sudah tinggali lama. Lalu banyak yang memilih tak beranjak dari rumah lama mereka, meskipun penyakit mengancam ketidaknyaman semakin banyak datang.

So, sudahkah kalian menemukan rumah yang tepat sekarang? Atau sedang mencari? Jangan terlalu ngoyo mencari, biasanya semakin mau ingin jedot-jedotin kepala di tembok. Well, jika sudah menemukan, sudah yakinkah bahwa rumah yang sekarang anda diami adalah yang paling tepat? Pernahkah kita menimbang-nimbang di suatu malam yang tenang, jika pergi dan melupakan nantinya bisa berubah menjadi sebuah kebutuhan? Bukan lagi hal yang bisa ditawar dengan kenangan atau ancaman pistol di kepala sekalipun. Beranikah kita memenuhinya?

Selamat merenung, selamat menemukan rumah yang tepat.