Rahasia Dalam Kepala

Begitu banyak hal dalam dunia ini yang membuat kita gemetar ketika hendak melakukannya. Salah satunya adalah mengatakan hal yang selama ini kita pendam dalam kepala. Ada begitu banyak cara untuk mengungkapkan misal lewat sebuah metafor, kata-kata yang jelas dan langsung atau yang paling beken, tunjukkan. Saya sih biasanya langsung bilang, gak pake metafor atau tunjukkan. Karena gak semua orang diciptakan dengan kemampuan bisa nangkep kode kak.

Kita kadang terlalu takut untuk mengatakan hal yang kita simpan sendiri selama ini  karena takut akan menerima respon yang tak sesuai dengan keinginan. Kata orang waktu kita bilang suka ke orang, biasanya kita harap orang tersebut akan bilang hal yang sama. Tapi tidak semua orang yang bilang suka ke orang lain memiliki harapan bahwa orang tersebut akan balik menyukai mereka. Mereka cuma ingin mengatakannya karena harus, sebelum mereka meledak jika terlalu lama memendam sendiri. Urusan respon balik positif atau negatif itu soal kemudian. Yang penting bilang dulu, biar plong. Bukankah kecewa dan senang adalah konsekuensi ikutan yang pasti dari sebuah keberanian menyatakan? Lalu kenapa harus takut? Thinking too much? *nyruput bir*

Jadi gimana ketika kamu jatuh cinta dengan seseorang yang tidak seharusnya? Saya sering bingung apasih ukuran orang yang pantas dan harus untuk disukai itu? Apakah dia tidak boleh seorang berandal, tidak boleh seorang yang tak mapan, atau sahabat kita atau dia tidak boleh pacar orang lain? Gitu? Man, ketika lu jatuh cinta sama orang lain (yang katanya tak seharusnya), LU BISA APA? Pura-pura bego gitu? Atau pura-pura mati aja? Gue sih lebih milih menghargai perasaan sendiri, sebelum akhirnya nyesal nanti-nanti. Norma yang hidup selalu bisa membatasi ruang gerak seseorang untuk berekspresi termasuk dengan perasaannya sendiri. Gila kan? Hell yeah, itu namanya idup kak.

Jatuh cinta adalah proses dimana lu menggebu-gebu ketika bercakap-cakap dengan si dia, atau kalau ndak kontak sehari aja dengan dia lu rasanya pengen ngunyah baygon mat atau lempar dia pake batu aja. Tapi jatuh cinta tak selamanya berakhir dengan menyayangi atau mencintai. Mencintai adalah proses panjang sekali dan ketika bersama dia kamu sudah bisa bersikap tenang dan dengan santai menunjukan segala isi kepalamu tanpa jaim. Dan biasanya pembicaraan sampai jam 3 pagi tentang hal-hal berat terasa begitu ringan. Bahkan kalau dia gak ngehubungin kamu dua belas tahun pun kamu tau dia adalah untuk kamu, HAHA. AADC banget. Jelas dua hal yang beda , dalam pemahaman saya sih gitu. Gak tau kalo mas Dhani.

Sayangnya beberapa orang yang selalu suka menerjemahkan jatuh cinta adalah sama dengan mencintai. Jadi ketika kita bilang kita jatuh cinta sama mereka berarti kita akan berakhir dengan mencintai mereka. Lalu mereka marah-marah dan bilang kita suka PHP kalo gak lagi menghubungi mereka. LAH LAH LAH. Mereka bilang kita berubah, padahal kita bukan power ranger biru :( .  Lebih dashyat lagi ketika bilang jatuh hati dan mencintai mereka artinya kita harus hidup bersama dengan mereka selamanya. Oh c’mon, wake up. Hidup kan bukan cuma soal urusan cinta maz, apalagi soal hidup bersama selama-lamanya. Hidup adalah soal bergerak maju sejauh yang kita mampu, bersama atau tidak dengan mereka yang kita cintai.

Dalam hidup, kita mungkin akan jatuh cinta dengan banyak orang. Tapi hanya orang-orang tertentu aja yang bikin kita berhenti dan bilang, Hei you, I love you. Ketika kita mencintai seseorang pun bisa terjadi kita jatuh cinta dengan yang lain. Keberlangsungannya tak ada yang tahu. Perasaan itu hal paling bebas yang pernah ada didunia ini.

Pagi ini saya bangun dengan kepala yang begitu ringan, dan merenung begitu lama dan sadar masih mencintai lelaki yang sama dengan setahun lalu, sesering apapun saya jatuh cinta dengan orang lain.  Lelaki yang ketika saya begitu takut melangkah ke dalam suatu hal baru, dia akan tertawa dan bilang ‘untuk sebuah langkah berani gemetar adalah teman’ lalu keberanian saya dengan ajaib penuh kembali. Kampreett kan?.

Jadi berapa banyak rahasia dalam kepalamu sekarang dan belum berani kamu ungkapkan? Masih menunggu waktu yang tepat? Masih mengumpul keberanian? Pilihan selalu ada di tangan kamu mau mengungkapkan atau tidak. Setiap orang selalu punya rahasia sendiri-sendiri and it’s fine to keep it forever.

Couple

Gambar ini saya buat beberapa bulan yang lalu. Yang berwarna pake arcylic, yang lain pakai pensil doang. Dan melihatnya lagi membuat saya merenung begitu banyak bahwa :

Suatu ketika dalam hidupmu kita akan menemukan seseorang yang membantu kita melihat banyak hal indah yang kita lewatkan, yang membuat kita tak lagi hidup dengan kepala penuh prasangka, yang akan selalu menanti kita pulang bahkan sampai tertidur di sofa dengan tv menyala, yang akan memeluk kita erat bahkan ketika amarahmeluap tak terkendali, dan yang menghadirkan kita sebagai teman diskusi untuk setiap keputusan penting dalam hidupnya.

Suatu ketika, entah kapan, kita akan menemukan mereka dengan cara-cara ajaib dan tak pernah terpikirkan dalam kepala kita.

Selamat mencari, selamat menemukan dan  selamat ditemukan :)

xoxoxo,

Cha

Prompt #68: Pelangi

Pelangi di Matamu
Pelangi di Matamu (Sketsa Pribadi)

 

“Entah kenapa aku suka sekali melihat pelangi.”

“Aku juga. Mirip yang ada di kedua matamu.”

“Ah, kamu,” Ujarku sambil mencubit manja lengannya.

Ia tertawa renyah lalu tangannya menyisir rambutku perlahan.

“Bolehkah hanya aku yang memilikinya?”

“Apa?”

“Matamu!”

Aku mengangguk, lalu melangkah hendak beranjak ke dapur. Tapi dia dengan cepat meraih tubuhku ke dalam dekapnya, lantas mengunci bibirku lekat. Yang tersisa hanya lenguhan gaduh beradu dengan rintik hujan yang mulai lenyap.

***

“Apa kubilang, Rony itu psikopat. Kamu sih tergoda dengan wajah ganteng dan rayuan konyolnya.”

Bentakan abang Sala membuatku gemetar. Dadaku kian sesak dengan tuduhan orang-orang sekelilingku. Apakah salah aku jatuh cinta padanya tanpa rasa curiga?

“Dasar perempuan bodoh. Merepotkan saja!”

“Brakkk!!!”

Aku bergidik. Setelah bunyi dentuman pintu, tak lagi terasa kehadiran abang Sala di kamar ini. Hanya tersisa bunyi hujan yang turun semakin lebat. Aku berjalan menuju jendela. Kacanya begitu dingin dan lembab. Mungkin setelah ini ada pelangi. Ah, apa gunanya? Seluruh duniaku kini gelap. Pekat. Kuraba mataku yang kini tanpa gundukan seperti dulu. Aku tak pernah bisa lagi menangis.

171 Kata. Terinspirasi dari fiksimini Lianny Hendrawati – PELANGI. Tak lagi indah, sejak kau ambil bola mataku.-

 

Anti-Mainstreem

Guys di dunia ini, sesempurna apapun hidup kamu, suatu ketika kamu akan mencapai puncak bosan yang bikin kamu pengen mojok sambil ngunyah baygon mat aja. Ketika kamu bangun pagi, lalu melakukan rutinitas yang nyaris sama seperti kemarin dalam jangka waktu yang lama sekali. Mampu? Aku sih No, gak tau kalau mas dhani.

Rutinitas itu lama kelamaan akan jadi kebiasaan dan jika terjadi hal-hal diluar kebiasaan itu, lantas kita panik. Misalnya saja kamu sudah pacaran 52 minggu dengan pacarmu. Setiap pagi dia akan mengirim kamu sms seperti “Selamat pagi sayang” atau “I miss you bebh” atau apapun itu. Lalu pada suatu hari, di awal minggu ke 53 usia pacaran kalian, dia  tidak mengirim sms ke kamu karena hapenya mati total, chargernya entah siapa yang ambil. Dan kamu di kosmu sudah panik, takut dia kenapa-napa di sana misalnya dia lagi tidur dengan cewek laen. Kamu udah nangis bombay di kos, curhat lebay sana sini. Siangnya dia datang ke kosmu, mau pinjam charger. Kamu mentapnya dengan berapi-api sambil berucap “kita putus aja!!” cuma gara-gara hal yang menyimpang dari kebiasaan yang selama ini udah lo jalani. YAELAH BRO! Hidup memang rumit.

Soal setiap pagi di sms begitu sama pacar , saya sendiri agak gimana gitu. Mungkin karena saya bukan orang yang begitu peduli dengan hal-hal demikian. Atau sering dapat pacar yang cuek gila. Tapi man, kalo kamu gak di sms sama dia, kamu masih tetap hidup. SERIUS. Ketika pacaran, kita harusnya sadar sedang pacaran sama manusia juga yang tak sepenuhnya sempurna, bisa kehabisan pulsa atau lagi gak mood liat muka kita. Beda kasus kalo lu pacaran sama pos hansip atau boneka. Ya emang sih agak kehilangan, tapi lama-lama juga biasa dan kemudian saling melupakan. HAHAHA

Kita melakukan hal-hal yang mainstreem, yang sering dilakukan orang lain biar apa? Tentu aja biar kelihatan normal. Semua orang suka terlihat normal. Kalo lu lagi pacaran LDR, dan biasa kontak-kontakan cuma seminggu sekali via telepon mereka akan bilang “hubungan macam apa itu?”. Padahal mungkin kalian lagi hemat duit pulsa buat beli tiket kereta untuk ketemuan. Kalo lu pacaran dan jalan gak pegangan tangan mereka bilang “Kalian bertengkar ya?” Padahal kalian gak pegangan tangan karena tangan suka keringatan. Kalo belum punya pacar di usia 27, orang akan nyangka kamu homo. Padahal kamu lagi tak ingin menginvestasikan tenagamu dengan hal begitu dulu karena sedang nyusun tesis. Gilak nyusun tesis itu ribet kamprettt. Bu susi, yang punya tato dan ngerokok di istana pun dicerca abis-abisan. Padahal kenal dekat dia pun tidak. Mau ngerokok dan punya tato kan hak asasi dia nyet. *kunyah rokok*

Orang suka banget ngerajam kita dengan tuduhan-tuduhan jika kita tak berlaku normal sesuai ukuran pikir mereka. Apa sih itu normal? Bukankah relatif banget? Bisa aja bagi kamu cium pipi mama sebelum ke sekolah normal tapi bagi orang lain itu lebay. See, ukuran normal itu luas banget kan? Gak cuma selebar bahu doang.

Berhentilah menjadi mainstreem, yang punya kepala dengan segudang tuduhan. Apa kita ndak bosan ya kepala isinya gituan melulu? Nanti aku banting meja loh macam anggota DPR RI itu biar pecah ndas e. Jadi besok cobalah bangun dengan kepala anti-mainstreem. Mungkin kita akan lebih bahagia.