Offically : 1/4 Abad!!!!

Ada satu hal yang saya percaya mengenai proses yakni sebelum kita sampai ditahap yang lebih tinggi, selalu ada harga yang harus kita bayar. Hmm, seperti kebanyakan anak kecil yang akan mendapatkan sebuah gigi baru diawali dulu dengan sakit panas dan lain-lain. Dan sebelum resmi menjadi bagian dari komunitas 1/4 abad, saya pun mengalami demikian. Satu tahun membayar begitu banyak harga, juga mendapatkan banyak hal berharga, terhitung dengan rupiah maupun tidak.

Banyak hal yang sebenarnya tak bisa saya kendalikan terjadi. Saya memutuskan untuk meninggalkan lelaki pemilik lesung paling manis, yang sudah saya kenal selama 15 tahun dan bukan karena saya sudah bosan dengannya, bukan. Tapi saya hanya ingin. Saya  tak menyangka akan kembali ke Makassar untuk pemakaman kakak perempuan saya. Saya bisa bertoleransi begitu besar untuk seseorang yang membuat saya jatuh hati dengan tak terduga. Some things happen out of our plan and control and when we fall in love shit happens easy. Kalau sudah begitu tak ada pilihan lain lagi selain menjalaninya, suka atau tidak.

Saya bukan orang yang muluk-muluk. Saya tahu kalau saya patah hati, ya jatuh cinta lagi. HAHAHA. Tapi dalam waktu-waktu tertentu saya bisa menjadi orang yang muluk-muluk, drama, mengerikan. You can’t be perfect all the time. Ya biasanya sadar setelahnya sih. Jadi kejadian muluk-muluk dan mengerikan itu terjadi sehari sebelum menjadi 1/4 abad. Rasanya complicated abis. Well, sebut saja dia mawar hitam dan pikiran saya berhasil dia racuni dengan sengatan-sengatan yang tampaknya menyenangkan. preet. Jadilah otak saya penuh sesak dengan hal-hal yang sebenarnya gak penting abis kakak. Salah satu cara mengungaranginya adalah dengan berbagi ke orang yang tepat. Kalau sampe salah tempat curhat, man, bisa jadi pait banget idup lo.

Well, lucky me I got one and his a man. Entahlah kadang malas sih curhat masalah beginian ke cewek karena yang banyak saya dapatkan adalah memperburuk drama saya. Saya selalu butuh sebuah penjelasan rasional disaat otak saya mampet begini. Dan penyampaian seorang lelaki itu kadang lebih bisa saya terima. Lebih keras tamparannya. Bicara mengenai lelaki ini, ya hanya lelaki yang lebih tau. Oke, mawar hitam itu lelaki.

Dan saat saya resmi berusia 1/4 abad, banyak harapan dan pertanyaan mengenai pernikahan dari beberapa teman. HAHA. Aduh mengapa ya, kayaknya pertanyaan itu wajib banget. Di lebaran, natalan, ulang tahu, apapunlah. Kayaknya kalau gak nikah lu bisa mati seketika. Hey, I’ll tell you Marriage is not the only purpose why you life for. Siapa bilang impian semua perempuan itu menikah, punya banyak anak? Atau pake gaun putih, praweding romantis dan bla bla. Ingat kebanyakan bukan berarti semua :). Kalau saya bilang saya ingin menikah cuma pakai jeans dan kaos, mau apa? *kemudian diikuti cibiran ibu-ibu*

Memasuki usia yang begini, adalah persiapan batin sampai tahun depan dan depannya lagi untuk menjawab pertanyaan yang sama : KAPAN NIKAH????? _ Jangan panik dan marah karena mereka tak akan berhenti sampai kamu menikah dan akan diikuti pertanyaan klasik lainnya. HAH, selamat menghidupi hidup. Selamat terkejut. VIVA LA VIRGO

Prompt #60: Mahkluk Berjubah Hitam

30-seconds-to-mars-from-yesterday

Dan lagi-lagi dia ada disana, menatapku dari balik kerumunan banyak orang dengan ekspresi yang masih sama, dingin dan kaku. Jubah hitam dan pucat wajahnya membuat jantungku semakin berdetak kencang. Entah apa yang membuatku terlihat begitu menarik dari sudut pandangnya. Sudah satu minggu ini, engkau selalu ada hampir disetiap tempat yang aku kunjungi. Tapi setiap kali aku menghampirimu, kau raib begitu saja. Mungkin engkau seorang pesulap atau pelari hebat hingga tak bisa kujangkau dengan kemampuan biasa. Memikirkanmu membuatku susah tidur, hampir limbung. Hantu? Ah tidak, aku tidak pernah percaya hantu.

“Kau baik-baik saja?”Suara Fajar membuyarkan lamunanku
“Hmm. Iya”
“Masih melihat orang itu?”

Aku mengangguk. Fajar hanya tersenyum, mengacak-acak rambutku dan menyuruhku lebih banyak beristirahat.

***

“Tidak ada yang melihat siapa-siapa disana Lin!”
“Ta-ta-pi Ma,,”
“Sudah, besok kita ke dokter dan hentikan segala omong kosong ini. Dua minggu ini benar-benar melelahkan.”

Mama membanting pintu kamar dengan keras. Semua orang kaget lalu berbalik menatapku dengan sinar mata paling kejam seolah semuanya adalah kesalahanku belaka. Aku gugup, masih setengah gemetar. Sementara disudut ruangan mata itu masih menatapku dengan kaku dan dingin.

***

Ini kamar baruku. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan warna putih yang membosankan. Tak ada keluarga dan teman. Fajar, pacarku juga tak pernah datang. Padahal dulu mana tahan dia tidak berjumpa sehari denganku? Sesekali ada orang berpakian putih datang membawakan makanan dan beberapa pil untukku. Kadang ketika aku berontak dan ingin pergi, mereka datang memberiku sebuah suntikan yang menyakitkan. Sayup, sayup sering kudengar mereka bilang aku gila. Ah, gila hanya soal sudut pandang saja. Tapi perasaanku menjadi lebih tenang semenjak tinggal disini. Tak adalagi mahkluk berjubah hitam yang menatapku dan membuatku semakin tertekan.

***
“Terimakasih karena kalian sudah bekerja keras selama seminggu ini. Bagian yang telah disepakati akan dikirim ke nomor rekening kalian masing-masing besok pagi.”
“Baik bu.”
“Fajar, apakah masalah Linda di rumah sakit jiwa sudah beres?”
“Sudah tante. Tenang saja. Uang selalu saja menang. HAHA.”
“Kalau saja anak itu tidak keras kepala untuk membagi harta warisan dan perusahaannya, semua ini tidak akan terjadi. Oh iya, terimakasih sekali untuk kamu.Kamu akan dapat bonus” Ujar ibu dari Linda sambil menepuk bahu lelaki yang masih menggunakan jubah hitam, yang tatapan matanya masih tetap sama, dingin dan kaku.

#360 Kata

After All This Time

Yesterday is a reflection day. Exactly enough for a four years we didn’t talk, we didn’t eat and walk together. Many things that we have been missed. I passed my morning with a cup of a black coffee, your favorite beverage. House is so quite, no body here. I thankful for it because every time I’ll took coffee Mommy always look upset and turned into a cranky. I don’t know why, I’m will not made argue with her. Maybe because these aroma remembered her about you. *sigh* -
Time flies Dad. I’d learned to wipe my tears with my own hands even become smarter to hide my tears with perfect lie. It’s a good sometimes. Time has change many things, change human being, change face of life and people. But some things that never change after all this time. Also time can’t erase a few memories although we’ve been trying harder to forget it.
Memories turn me on to be melancholic. It’s okay, I’m fine. I’m enjoyed this past, with full of love, laugh, and pain. You know what, I missed you. I missed us. I missed the time when we sat together on veranda, eaten some chocolates without mommy. Haha. It’s my favorite part. Or when both of we gone to catching fish and never got one because I’m to noisy. Or just sit and didn’t have a conversation when we are on fight. I missed those things because I know, we never do it again, everything I do as a human being, I can’t do. Even I had a supernatural power, it just had a little probability. It’s a painful when yesterday I looked for you and found nothing. Weird? who cares. Missing someone most makes people look like crazy bastard. J your picture with same smile on a table. Ah dad, we didn’t always get what we want, I know. I cant keep you forever but if there a chance, I’ll take. I’ll catching whole universe to get you back. Selfish? Looks like you. Don’t you?
Time made me grown older, change how I think about something, change how I decide something, change how I talk for, how I love things and how chose someone to built relationship with. But, after all this time,  after all the things, the good, bad and weird, I’m still your little girl that will be looking for you when I’m sad and ask for some hugs. And if I can’t find you, I’ll cried. You should worry not, I tell you before, I’ve learn to be an expert to hiding tears.  Wish me luck to explore the universe, to conquered the waves with no tremble. I grown up already without forget I’m your little girl.
ALWAYS.
*Remember dad 4 years passed away, 6/8/2014*

Happy Sunday, Bola dan Pemilu

Pagi yang lucu, seperti biasanya dalam satu bulan terakhir. Gosh.

Jadi pagi ini, sepulang dari gereja saya mendapat broadcast BBM dari teman (dituliskan dalam bahasa Ambon)

“Selamat hari minggu, Tuhan berkati. Lia tu Holland menang. Tutup prop kamong! Belanda dapa akang taong ini.” -

Artinya ” Selamat hari minggu, Tuhan berkati. Liat Holland menang. Tutup mulut kalian! Belanda menang tahun ini.”

Hwenggggg ~~~~~~~~~

Pesan broadcast yang lucu, euforia yang lucu juga. Lucu karena saya bahkan tidak pernah bercakap tentang bola dengan orang yang dimaksud. Jangankan itu, ngobrol biasa pun jarang bro.  Trus ngapain juga dia kirim? Biar dibilang fans sejati gitu? Oh please.

Niatnya awalnya pengen dibalas tapi gak jadi. Setelah dipikir-pikir, percuma soalnya bicara dengan orang yang fans fanatik begitu. Sama halnya bicara dengan pendukung salah satu calon presiden dan wapres. Sama halnya bicara dengan orang yang lagi jatuh cinta. Percuma man. Gak akan didengarin. EHEHE. Pujaan mereka selalu nomor satu. Paling cuma akan diketawain atau dilihat dengan penuh kekejaman. Buang-buang energi.

Ah, sebulan belakangan ini memang bulan-bulan yang melelahkan secara psikis dan fisik. TL yang pada awalnya dibanjiri dengan isu-isu politik digusur oleh pandangan tentang piala dunia. Orang- orang mulai suka nonton bola padahal dulunya gak, mau begadang demi bola, membiarkan skripsinya mengalah demi  nonton bola, #eh, lalu mulai membangun fanatisme berlebihan terhadap tim jagoannya dan berakhir dengan saling memaki. Belakangan berita-berita mengenai politik kebanyakan juga berakhir dengan saling maki, saling tuding, saling silang. Ah, mengerikan.

Orang-orang yang sudah lelah menjadi cepat tersinggung kala jagoan nya disenggol sedikit aja. Harga diri menjadi cepat sekali terluka, marah-marah, mencari titik kelemahan lawannya dan bla-bla. Memang hal-hal yang keliru dari sesuatu itu begitu menonjol dan menarik perhatian untuk dilecehkan terutama secara verbal. Macam fans Real Madrid yang marah jika CR7 ditertawakan gaya rambutnya. Tapi Ronaldo nya anteng-anteng aja malah dapat tawaran iklan lebih banyak. Kalau disenggol ya Bacok! Blahh.

Di negeri demokrasi ini, semua orang bebas mengutarakan pendapat mengenai sebebas-bebasnya. Silahkan. Mengenai mengapa dia memilih capres tertentu dan mengajak orang lain untuk memilih apa yang dia jagokan. BEBAS. Dimana saja, kapan saja. Seberapa seringnya berkoar-koar, pilihan kan ada di tangan para pemilih. Mau condong ke arah yang mana. Mau dibayar pun ambil saja uangnya, kata Prabowo, wong itu uang kita. Ehem. Malu dong sama hati nurani.

Saya pikir kebebasan yang sama juga dipunyai oleh fans sepak bola yang mendukung negara tertentu. BEBAS. Mau pawai cuma pake bra pun bebas. Memilih sesuatu untuk di jagokan saya rasa sudah melalui tahap analisa yang matang sebelumnya. Mengenai tak-tik permainan, kualitas pemain, dan lain-lain. Dan kalau cuma ikut-ikutan cas cus ces geje ya kamu karbitan :p – itu kata teman-teman di timeline. Fans-fans ini pun bebas untuk mengatakan hal-hal ajaib dan bodoh untuk membela timnya meskipun tim yang didukung merasa gak perlu dibela. Ah kita cuma membela harga diri kita sendiri. YA KAN? YA KAN?

Tapi syukurlah dengan fenomena-fenomena diatas. Setidaknya dengan adanya hal-hal tersebut, masyarakat Indonesia semakin cerdas mengutarakan pendapat. Salah benar itu soal belakangan yang penting mau bersuara dulu. Jangan lagi-lagi seperti anak-anak SD yang ditanya “Ayam atau telur mana yang duluan ada?” Lalu kelas yang riuh mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara. Takut salah. Takut dihukum. Lalu memberikan kerja pada ilmuan untuk memecahkannya.

Tiga hari lagi kita diberi ruang untuk menyatakan kebebasan berpolitik kita sebagai WNI. Besuaralah disana. Pilih apa yang hendak dipilih. Saya rasa seorang berusia 17 tahun bukan lagi anak SD yang diam jika ditanya siapa yang dia mau percaya untuk mengembalakan Indonesia lima tahun kedepan.

Jadi siapa yang akhirnya bawa pulang Piala Dunia nanti? Jangan tanya pada ilmuan. Karena bola itu bundar. Tak ada yang benar-benar pasti. Begitu pula dengan hasil survey siapa yang akan lebih banyak dicoblos sebagai presiden. Tak bisa benar-benar dipercaya. Sebab ruang kesunyian dibalik bilik suara itu magis. Bisa saja pilihan berubah saat kita berada disana. Ah perkara pilihan hati memang selalu mendebarkan. Yang pasti adalah NEGARA INI BUTUH PERUBAHAN! TITIK.