Menanti Merdeka

Ziarah ragu

Banyak hal di dunia ini yang tak pernah bisa dimengerti bagaimana cara kerjanya, tersmasuk saat dua orang keras kepala seperti kita saling jatuh cinta. Kau tahu kenapa aku jatuh cinta padamu? Tak ada alasannya. Hahaha. Hal barusan kalimat paling bulshit yang pernah aku ucapkan. Selalu ada alasan kuat mengapa aku jatuh cinta pada seorang pria keras kepala sepertimu. Mau tahu? Pulanglah dan akan kuberitahu. Kau pernah bilang marilah kita mengungkap apa yang pertama kali ada dalam kepala kita sesekali. Itu jarang terjadi kecuali kita sedang berdekatan. Kehadiran kadang melemahkan pertimbangan akan sesuatu, jadi pulanglah. Kau tahu kan aku jarang mengucap rindu? Ungkapan rindu itu terkadang membunuh apalagi jarak ini tak bisa kita pangkas dengan mudah. Jadi aku memutuskan bertanya “apa kabarmu?” Karena dengan tahu kamu baik-baik saja sudah menuntaskan seluruh rinduku.

Untuk tinggal dalam daerah abu-abu seperti sekarang ini, aku rasa kita cukup berani melewati batas semua orang normal. Bukankah kalau kita gemetar, kita masih bisa saling memeluk lewat doa? Mungkin suatu saat, kita akan jadi kebetulan yang menyenangkan atau ketidaksengajaan yang menyedihkan. Entahlah. Aku tahu kita tak pernah suka mengira-ngira masa depan. Jadi biarlah begini saja. Kita sedang menanti waktu yang tepat, walaupun semua waktu adalah selalu tepat.

Aku harus minta maaf ketika pernah mengatakan ingin pergi. Mungkin jika ada didekatku, kau akan menghadiahiku tatapan mengerikan itu. Tapi untuk mengatakan aku ingin tinggal selamanya itupun terlalu sulit meskipun kau telah mengatakan jangan pernah hilang darimu. Sepertinya kita harus bertemu sekali lagi, untuk memutuskan kemana kita akan menuju. Tidak perlu banyak berharap dan bicara. Cukup duduk bersisian, saling mengerat jemari dan bernapas seperti biasa. Itu sudah lebih dari cukup untuk memantapkan pilihan.

Jadi pulanglah biar kita benar-benar merdeka.

Menemukan Rumah Yang Tepat

Say All I Need
Say All I Need

Saya sering mengibaratkan komitmen yang dibuat dengan pasangan bagai tinggal didalam sebuah rumah. Ketika kita tak lagi nyaman didalamnya, entah apapun masalahnya, akan selalu berujung pada dua pilihan, leave it or fix it. Saya termasuk orang yang memilih opsi pertama. LEAVE IT. Pernah beberapa kali saya mencoba opsi kedua, tapi sepertinya opsi itu tak pernah berhasil untuk saya. Saya terkadang begitu lelah membuang energi untuk memperbaiki masalah (yang biasanya tetap sama) dan meredam ego pada jangka waktu tertentu. Karena saya yakin betul, potensi konflik terjadi lagi di kemudian hari masih besar. Apalagi akar masalah masih saja sama, itu itu melulu dan sepertinya jalan keluar adalah kemustahilan. Buat apa terus tinggal di dalam rumah yang menguras begitu banyak energi? Padahal rumah adalah tempat kita untuk melepas lelah, berleha-leha, meraih kembali enargi. Saya sadar benar, dalam hubungan dengan orang lain bukannya tanpa masalah. Tapi jika selalu berputar-putar dalam lingkaran yang sama? Oh C’mon. The world is so wide dude.

Beberapa orang suka untuk memperbaiki rumah mereka yang rusak, ditambal sana-sini biar (terlihat) layak ditinggali terus. Saya sempat bertukar cerita dengan beberapa orang yang memilih bertahan dengan pasangan lamanya meskipun jelas-jelas mereka sudah tak lagi nyaman satu sama lain. Misalnya mengalami curiga berlebihan dan malas membangun interaksi dengan pasangannya. Bahkan ada yang setiap hari bertengkar untuk masalah-masalah yang katanya kecil!!!! Bayangkan ketika kalian tinggal di dalam sebuah rumah yang sudah bocor sana-sini, yang keran airnya sering mati, belum lagi sepertinya jalan untuk mencapai pemecahan masalah selalu buntu. Kita ngomong aja sama tembok.

Saya tahu, memutuskan untuk pindah dan mencari sebuah rumah baru bukan perkara mudah. Kita enggan beranjak dari tempat yang lama (meskipun karena tak lagi nyaman) biasanya karena rumah tersebut menyimpan banyak kenangan. Sayang jika semua pengorbanan yang sudah kita usahakan untuk rumah itu kita abaikan begitu saja. Belum lagi pemikiran mengenai masa depan yang belum pasti jika akhirnya kita memutuskan untuk memilih rumah yang baru. Ketakutan akan ketidakpastian memang mengerikan.

Pergi dan melupakan kenangan adalah seperti meletakan pisau sekian sentimeter di depan leher kita. Jika nekat menusukan leher kita sekuat tenaga kesana, mungkin kita akan mati. Bukan mati secara harafiah, tapi mirip orang yang hatinya hancur, mati semangat hidup. Tak ada yang pernah siap untuk pergi meninggalkan tempat yang dia sudah tinggali lama. Lalu banyak yang memilih tak beranjak dari rumah lama mereka, meskipun penyakit mengancam ketidaknyaman semakin banyak datang.

So, sudahkah kalian menemukan rumah yang tepat sekarang? Atau sedang mencari? Jangan terlalu ngoyo mencari, biasanya semakin mau ingin jedot-jedotin kepala di tembok. Well, jika sudah menemukan, sudah yakinkah bahwa rumah yang sekarang anda diami adalah yang paling tepat? Pernahkah kita menimbang-nimbang di suatu malam yang tenang, jika pergi dan melupakan nantinya bisa berubah menjadi sebuah kebutuhan? Bukan lagi hal yang bisa ditawar dengan kenangan atau ancaman pistol di kepala sekalipun. Beranikah kita memenuhinya?

Selamat merenung, selamat menemukan rumah yang tepat.

Women Power

Sebelumnya, saya menggunakan Instragram untuk share sketsa dan beberapa artwork yang saya kerjakan. Namun, berhubung handphone sudah da da bye bye, jadi wordpress menjadi semacam superman kali ini. Beberapa sketsa sudah lama dikerjakan, beberapa lagi baru dikerjakan kemarin. Well, enjoy it. Happy sunday and feel woman power readers.

*love, Cha*

Because You Can

10340144_10152734321475489_2816506443020878413_nSketch By @Redcarra

I begin this post with a little story about how post title coming from. A week ago, mommy Carra, the one of supper mommy group, made my self sketch. It’s really surprise and I love it so much. On the sketch, she said : Smile Because You Can. Although it’s seems simple but for me it’s a great thing. The sentence playing again and again on my brain and it’s really help me to pass my crazy month. Small positive words, can rise a big souls. Thank you mak :D-

A couple days ago, my phone was broke, totally died. On the first time, I really depressed. What about my instagram, BBM and whatsapp account? How if people contact me, sending me massage or some stuff like that and I can’t reply it quickly? May be I’ll lost information, maybe I’ll lost oppurtunitty and die soon. HAHA. In a fact, I’m alive, breath and smile while writing this post.

When people lost something that always make their brain happy, they will had panic attack. The response I shown is a normal one.  Many people get it too. People want their life being perfect and less of problem. But nothing perfect in this silly world. In the morning, after my phone broke at the night before, I realize something. Many things happen on this world and we can’t control some. It just happen, even you tried harder to prevent it. When your old phone broke, or lost them on a jungle, it just happen. Or you fiance meet someone strange, falling in love with them and decide to leave you, it just happen. And you just have three option, crying  a lot and die soon or crying so bad and try to fixed it harder or crying a little while, let it go and found a new one.

I’ll choose the third ; Crying, Let it go and found a new one. Because it doesn’t make a long stupid  drama and  just spent a little energy. Simple and acceptable on my mind.

So, hows your day? Full of deadline? Unpredictable broken heart coming? Phone really broken? Relax. Many people out there maybe feel the same thing as you feel. Your not alone. Just make simple and smile because you can, breath because you should. Share a positive things. You never knows who you inspire.

Happy Monday readers. :*